Dalam kehidupan modern, ilmu sering dipandang sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan, meningkatkan status sosial, atau memenuhi kebutuhan industri. Banyak orang belajar bukan lagi karena rasa ingin tahu, melainkan karena kebutuhan pasar. Sekolah dan perguruan tinggi pun kerap dinilai berdasarkan seberapa cepat lulusannya diserap dunia kerja.
Pandangan ini memang tidak sepenuhnya salah. Ilmu dapat menjadi jalan untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Namun, jika ilmu hanya dipersempit menjadi alat produksi industri, maka makna ilmu akan kehilangan ruhnya. Ilmu sejatinya bukan hanya untuk menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga untuk membentuk manusia yang memahami dirinya, Tuhannya, lingkungannya, dan realitas kehidupan.
Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Islam memandang pencarian ilmu sebagai ibadah dan jalan menuju kemuliaan. Ilmu tidak sekadar dipakai untuk kebutuhan ekonomi, tetapi untuk memperluas wawasan, memperhalus akhlak, serta mendekatkan manusia kepada kebenaran.
Belakangan, muncul perdebatan mengenai relevansi program studi di perguruan tinggi terhadap kebutuhan industri. Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badri Munir Sukoco, yang menyinggung pentingnya evaluasi terhadap program studi yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan industri. Isu ini memunculkan diskusi yang lebih luas: apakah ilmu hanya layak dipertahankan jika memiliki hubungan langsung dengan dunia kerja?
Pertanyaan tersebut penting untuk direnungkan. Di satu sisi, perguruan tinggi memang perlu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan zaman. Namun di sisi lain, pendidikan tidak semestinya hanya menjadi mesin produksi tenaga kerja.
Ada banyak bidang ilmu yang mungkin tidak tampak “langsung menghasilkan” dalam logika industri, tetapi memiliki peran besar dalam membangun kebudayaan, pemikiran, etika, sejarah, dan kesadaran sosial. Ilmu filsafat, sastra, sejarah, studi agama, antropologi, hingga seni sering kali tidak memiliki ukuran ekonomi yang instan, tetapi berkontribusi besar dalam membentuk peradaban. Dalam konteks ini, penting untuk kembali melihat bagaimana Al-Qur’an memandang ilmu. Apakah ilmu hanya bernilai ketika menghasilkan keuntungan ekonomi, ataukah ilmu memiliki makna yang lebih mendalam sebagai sarana memahami kehidupan?
Al-Qur’an memandang Semua Ilmu itu Penting
Di era modern, banyak orang memandang ilmu hanya sebagai jalan menuju pekerjaan. Sekolah dan kuliah sering dinilai dari seberapa cepat menghasilkan karier atau mendukung kebutuhan industri. Akibatnya, ilmu dipandang sekadar alat ekonomi.
Padahal, ilmu memiliki makna yang jauh lebih luas. Ilmu membantu manusia memahami dirinya, kehidupan, sejarah, budaya, dan nilai-nilai moral. Tidak semua ilmu harus menghasilkan uang agar dianggap berguna. Al-Qur’an tidak membatasi ilmu hanya pada urusan ibadah atau agama semata. Dalam banyak ayat, manusia didorong untuk memperhatikan alam, sejarah, diri sendiri, dan kehidupan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang semua ilmu yang membawa manfaat sebagai sesuatu yang bernilai.
Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang tinggi. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca, Allah juga berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”(QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat ini menjadi dasar bahwa pencarian ilmu merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Perintah membaca tidak dibatasi pada bacaan agama saja, tetapi mencakup semua bentuk pengetahuan yang membantu manusia memahami realitas.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi, kata “iqra’” dipahami sebagai dorongan untuk mencari ilmu dalam arti luas. Membaca bukan hanya teks, tetapi juga membaca alam, peristiwa, dan pengalaman hidup. Allah juga berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ
“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu mengangkat derajat manusia. Orang yang berilmu tidak hanya memiliki informasi, tetapi juga kemampuan memahami makna, membuat keputusan, dan melihat kehidupan dengan lebih bijaksana.
Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa ilmu tidak boleh hanya menjadi alat mencari keuntungan, tetapi juga harus melahirkan kesadaran moral. Sementara Fakhruddin Ar-Razi menafsirkan ilmu sebagai cahaya yang membantu manusia memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa ilmu bukan hanya kebutuhan dunia, tetapi juga sarana kemuliaan di sisi Allah. Dalam menafsirkan QS. Al-Mujadilah ayat 11, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang yang berilmu karena ilmu membuat manusia memahami agama, membedakan yang halal dan haram, serta mengenal jalan yang benar. Menurut Ibnu Katsir, ilmu adalah sebab kemuliaan seseorang, bukan hanya karena status sosial atau kekayaan.
Ilmu sebagai Kebutuhan Dasar Manusia
Manusia berbeda dari makhluk lain karena memiliki kemampuan berpikir, memahami, dan belajar. Sejak lahir, manusia berada dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa, lalu berkembang melalui proses mengenal dan memahami, Allah berfirman:
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl: 78)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia lahir tanpa ilmu, lalu memperoleh pengetahuan melalui proses belajar. Pendengaran, penglihatan, dan akal menjadi alat utama untuk memahami dunia. Ilmu bukan sekadar aksesori kehidupan, tetapi kebutuhan dasar manusia. Tanpa ilmu, manusia sulit membedakan yang benar dan salah, yang bermanfaat dan merusak. Dalam Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Islam membangun masyarakat berbasis kesadaran ilmu. Menurutnya, wahyu pertama yang memerintahkan membaca adalah bukti bahwa Islam menolak kebodohan. Sayyid Qutb menilai bahwa ilmu dalam Islam bukan sekadar alat pragmatis, tetapi sarana membentuk manusia yang sadar terhadap tugas hidupnya.
Ilmu tidak harus selalu diarahkan pada industri. Ada ilmu yang dipelajari karena rasa ingin tahu, demi memperluas wawasan, atau untuk memahami makna hidup. Jika ilmu hanya diukur dari manfaat ekonomi, maka seni, sastra, filsafat, dan agama akan dianggap tidak penting. Padahal, bidang-bidang tersebut membentuk cara berpikir, budaya, dan peradaban. Belajar bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk memahami kehidupan. Ilmu yang dicari karena kecintaan pada pengetahuan akan membentuk manusia yang lebih bijak dan sadar.
Membantah Mindset “Ilmu Hanya untuk Kerja”
Mindset bahwa ilmu hanya berguna jika menghasilkan pekerjaan perlu dikritisi. Jika ilmu hanya dinilai dari pasar kerja, maka seni akan dianggap tidak penting, sastra akan dianggap tidak berguna, filsafat akan dianggap tidak menghasilkan, dan kajian agama akan dianggap tidak produktif. Padahal semua bidang tersebut berperan membentuk kebudayaan dan kemanusiaan.
Peradaban besar tidak dibangun hanya oleh industri, tetapi juga oleh pemikir, ulama, seniman, penulis, dan ilmuwan. Ilmu yang dipelajari demi pengetahuan tetap memiliki manfaat besar, meskipun tidak selalu menghasilkan keuntungan langsung. Banyak penemuan ilmiah lahir dari rasa ingin tahu, bukan dari kebutuhan industri. Pengetahuan yang tampak “tidak praktis” hari ini bisa menjadi fondasi kemajuan di masa depan.
Ilmu adalah kebutuhan dasar manusia sekaligus sarana mendekatkan diri kepada kebenaran. Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena dapat mengangkat derajat manusia. Orientasi industri memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya alasan mencari ilmu. Pengetahuan memiliki nilai yang melampaui keuntungan ekonomi.
Belajar bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk memahami kehidupan. Ilmu yang dicari karena cinta pada pengetahuan akan membentuk manusia yang lebih bijaksana, kritis, dan sadar terhadap makna hidup, karena esensi ilmu adalah untuk knowledge, orientasi keilmuan bukan untuk industri akan tetapi untuk pengetahuan.
Referensi:
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dan Sekularisme. Bandung: Pustaka, 1981.
Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad ibn Ahmad al-Ansari. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006.
Fakhruddin Ar-Razi, Muhammad ibn Umar. Mafatih al-Ghaib (Tafsir al-Kabir). Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1999.
Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
Ibnu Katsir, Ismail ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998.
Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred. Albany, NY: State University of New York Press, 1989.
Qutb, Sayyid. Fi Zhilal al-Qur’an. Cairo: Dar al-Syuruq, 2003.
Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press, 1982.
——————-. Major Themes of the Qur’an. Chicago: University of Chicago Press, 2009.
Rosenthal, Franz. Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam. Leiden: Brill, 2007.









