Tidak terasa bulan Ramadhan saat ini telah memasuki fase akhir yaitu sepuluh malam terakhir, yang dalam banyak riwayat disebut sebagai malam penuh ampunan dan dibebaskanya kita dari azab api neraka. Umat muslim diseluruh dunia memanfaatkan moment ini untuk khusyuk beribadah. Lalu Pada fase ini, tidak jarang kita menyaksikan di berbagai platform media sosial maraknya konten yang menampilkan fenomena yang begitu khas di masjid-masjid, terutama di kawasan perkotaan, dipenuhi oleh jamaah yang datang untuk melaksanakan i’tikaf.
Suasana yang sebelumnya mungkin lengang, kini berubah menjadi lebih hidup, bahkan cenderung ramai oleh berbagai aktivitas ibadah. Tentu saja kebanyakan dari mereka datang ke masjid adalah salah satu sarana untuk bisa fokus dalam mengejar malam Lailatul Qadar. Fenomena ini tentu menjadi potret semangat keberagamaan umat Islam yang patut diapresiasi. Namun, di balik keramaian tersebut, sebenarnya ada pertanyaan reflektif: Apakah kehadiran ini benar-benar lahir dari kesadaran spiritual yang utuh, atau sekadar dorongan ikut-ikutan dalam “mengejar” Lailatul Qadr?
Apa itu Lailatul Qadr? Mengapa mayoritas umat Islam berlomba-lomba untuk meraihnya?
Lailatul Qadr adalah malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bahkan ia mempunyai definisi tersendiri dalam surat yang ada didalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Qadr. Malam ini tidak hanya dimaknai sebagai waktu turunnya Al-Qur’an, tetapi juga sebagai momentum turunnya rahmat, keberkahan, dan ketenangan bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh mendekat kepada Allah. Al-Qur’an secara eksplisit menjelaskan keutamaan Lailatul Qadr dalam QS. Al-Qadr ayat 1–3:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Menurut Imam At-Thabari dalam tafsirnya ia menulis bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an pada malam tersebut dengan cara sekaligus ke langit dunia. Malam Lailah Al-Qadr merupakan malam ketetapan yaitu ketika Allah menetapkan ketetapan pada sebuah tahun, adapun kemunculan malam Lailatul Qadr itu berada pada setiap bulan Ramadhan (Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, 2000).
Bahkan ada 4 ciri orang yang mendapatkan keberkahan pada malam lailatul qadr:
- Perubahan perilaku menjadi lebih baik. Seseorang yang mendapatkan lailatul qadr biasanya mengalami transformasi positif dalam sifatnya.
- Peningkatan kualitas ibadah. Pasca Ramadhan, semangat beribadahnya tidak luntur, jika sebelumnya seseorang merasa berat untuk beribadah setelah moment tersebut ia merasa jauh lebih ringan dan nikmat dalam menjalankan ketaatan.
- Ketenangan hati dan kedamaian jiwa, orang yang akan meraih lailatul Qadr akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa. Ia tidak mudah terpancing emosi, dan jauh dari rasa cemas yang berlebihan.
- Merasakan kenikmatan dalam berdoa atau berdzikir, ia merasakan kekhusyukan yang berbeda, Ada rasa haru, keriduan kepada sang pencipta, dan mata air yang mudah menetes karena wara’ dan dan harapan kepada Allah SWT.
Memahami Makna I’tikaf
Dalam tradisi Islam, I’tikaf merupakan praktik spiritual yang berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah. Praktik ini sering dipahami sebagai bentuk isolasi diri sementara di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, khususnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Salah satu ayat dalam Al-Qur’an tentang i’tikaf adalah QS. Al-Baqarah ayat 187. Ayat ini menjelaskan tentang i’tikaf, ibadah yang mana seorang muslim berdiam diri di masjid dalam waktu tertentu. Ibadah ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketenangan dan kekhusyu’an. Allah berfirman;
وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ
Artinya: “Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. “
Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Tafsir Ad-Durr Al-Mantsur, menjelaskan tentang kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang selalu melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid untuk beribadah) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kebiasaan ini beliau lakukan hingga wafat. Bahkan setelah wafat, kebiasaan ini dilanjutkan oleh istri-istri Nabi.
Artinya kita memahami disini bahwa esensi beri’tikaf di masjid untuk mengejar lailatul qadar itu adalah mengharapkan pengampunan, rahmat, dan juga kasih sayang Allah. Karena Di tengah semangat i’tikaf yang semakin meningkat, realitas lain juga tidak bisa diabaikan. Kehadiran media sosial terutama platform berbasis konten viral turut membentuk cara sebagian orang memandang prespektif lain soal ibadah ini. Tidak sedikit yang menjadikan i’tikaf sebagai bagian dari trending ajakan spontan seperti “yuk i’tikaf” yang kemudian diikuti dengan dokumentasi, vlog, atau unggahan yang menampilkan aktivitas ibadah tersebut. Hal itu boleh dilakukan asal ada niat yang betul terpatri dalam hati.
Masalahnya, ketika niat bergeser menjadi sekadar keinginan untuk ikut tren dalam euforia ibadah, maka esensi dari i’tikaf itu sendiri perlahan akan memudar. Ibadah yang seharusnya menjadi ruang sunyi untuk mendekat kepada Allah justru berisiko berubah menjadi aktivitas yang berorientasi pada riya dan bukan keikhlasan. Kita boleh FOMO dalam beribadah, apalagi untuk me-maintenance fastabiqul khairat, justru hal tersebut sangat positif untuk diikuti dan dilakukan, hanya saja jangan pernah menghilangkan dan meng-uninstall niat yang kita unduh dari awal.
Di balik itu, ada sisi positif yang bisa kita ambil bahwa bahwa i’tikaf tidak hanya merupakan ibadah ritual yang menekankan aspek spiritual, tetapi juga mengandung dimensi rasional yang sejalan dengan prinsip-prinsip dalam Al-Qur’an. I’tikaf menjadi sarana reflektif dan rasional dalam menghadapi dinamika kehidupan kontemporer.
Esensi dari i’tikāf ialah sebagai alat untuk membantu orang merenungkan diri mereka sendiri, meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir, dan membersihkan jiwa mereka sehingga sesuai dengan makna i‘tikaf itu sendiri. Dengan demikian, i’tikaf tidak lagi dipahami sekadar sebagai praktik ritual yang bersifat temporer, tetapi sebagai proses sadar untuk mengelola diri melepaskan distraksi, menata ulang orientasi hidup, dan menghadirkan ketenangan batin di tengah arus kehidupan yang serba cepat.
Refrensi:
Muhamad Daffa Ghazial Fawwaz, dkk., Merekonstruksi Konsep I‘Tikāf melalui Tafsir Ilmiah, Jurnal Budi Pekerti Agama Islam, Vol. 3 No. 3, 2025, hlm. 268
As-Suyuthi, Jalaluddin. Ad-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur. Beirut: Dar al-Fikr.
Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2000.









