Home / Tafsir Kontekstual / Imsakiyah dan Hikmah Dibalik Perbedaan Durasi Puasa

Imsakiyah dan Hikmah Dibalik Perbedaan Durasi Puasa

Puasa merupakan ibadah wajib bagi umat Islam karena merupakan rukun Islam yang keempat. Puasa dilaksanakan pada saat terbit fajar sampai dengan terbenamnya Matahari, sehingga sangat erat kaitannya dengan waktu salat. Salah satu kegiatan yang disunahkan ketika menuaikan ibadah puasa adalah dengan melaksanakan sahur. Umat Islam dianjurkan melaksanakan sahur terlebih dahulu sebelum berpuasa seharian penuh.

Sahur memberikan banyak sekali keberkahan dan kemanfaatan untuk orang yang melaksanakannya. Selain itu, sahur dapat mencegah tubuh dari rasa lapar haus yang ekstrem, makanan dan minuman yang dikonsumsi pada sahur dapat memberikan nutrisi bagi tubuh sehingga mampu mengatasi perubahan pola pada saat kita menuaikan puasa.

Batasan Waktu dalam Berpuasa

Keberadaan jadwal imsāk yang berisi jadwal waktu salat menjadi hal yang sangat penting sebagai pedoman untuk mengawali dan mengakhiri puasa. Batas akhir sahur, yakni pada saat terdengar azan salat Subuh, namun imsak untuk memberikan pengingat bahwa waktu sahur akan segera berakhir. Penentuan waktu imsāk dapat bervariasi di seluruh dunia, tergantung pada faktor-faktor yang terkait geografis.

Waktu sahur sebaiknya dilakukan di waktu menjelang Subuh, namun harus bisa memperkirakan agar tidak terburu-buru ketika menyantap makanan dan minuman. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu yang cukup bagi umat Islam untuk bersiap-siap sebelum memulai puasa. Batas waktu puasa dapat diihat dalam QS. Al-Baqarah/ 2: 187, yaitu:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”

Al-Qur’an mengungkapkan dengan ungkapan ilmiah, bahkan mengandung sastra yang tinggi dengan gaya bahasa berupa ungkapan metafor, yakni makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang puih dari benang hitam. Al-Qur’an memberikan informasi gaya sastra yang tinggi. Ini menjadi ciri khas masyarakat Arab dalam menambah taraf pengetahuan mereka.

Imsak Merupakan Batas Waktu Berpuasa

Ayat itu menjelaskan bahwa batas akhir sahur adalah pada saat terbit fajar atau awal Subuh. Fajar terdiri dari dua macam, yakni fajar khażīb dan fajar ṣādiq. Fajar khażīb muncul masih diperbolehkan makan & minum, tapi belum diperbolehkan salat Subuh atau kita kenal istilah tanbīhun = warning sebentar lagi memasuki waktu Subuh. Fajar ṣādiq adalah sesuatu yang diwajibkan berhenti makan dan minum. Istilah imsākīyah artinya ialah menahan sesuatu yang membatalkan puasa hingga waktu yang telah ditentukan, yakni terbit fajar hingga waktu Matahari terbenam.

Kata imsāk berasal dari kata amsaka-yumsiku-imsākan yang berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Dalam pandangan ulama bahwa kata imsāk sama dengan kata ṣiyām (Qs. al-Baqarah Ayat 183) & kata ṣawm (Qs. Maryam Ayat 26). Di hadis Rasulullah Saw., beliau menegaskan bahwa batas sahur islah saat azan Subuh.

Telah menceritakan kepada kami [Ya’qub bin Ibrahim] berkata: Telah menceritakan kepada [Rauh] berkata: Telah menceritakan kepada kami [Sa’id bin Abu ‘Uburah] dari Qatadah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk salat, lalu beliau mengerjakan salat. Kami bertanya pada Anas tentang berapa lama antara selesainya makan sahur mereka berdua dan waktu melaksanakan salat Subuh. Anas menjawab, yaitu sekitar seseorang membaca 50 ayat (Al-Qur’an).” (HR. al-Bukhārī no. 1134).

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa jarak antara waktu Subuh dengan waktu sahur hitungannya hingga membaca 50 ayat atau durasinya sekitar 10 menit, 12 menit, bahkan 15 menit. Namun, durasi waktunya bersifat dugaan atau bisa berubah-rubah. Mayoritas Indonesia menggunakan durasi 10 menit sebagai waktu tanbīhun.  Jika waktu subuh pukul 04.30 WIB, maka waktu imsak pukul 04.20 WIB.

Perbedaan Waktu Puasa di Belahan Dunia

Negara-negara Eropa cenderung punya waktu puasa yang lebih lama. Artinya di negara itu, waktu siang lebih lama dibandingkan waktu malamnya. Hal ini disebakan oleh gerakan pada Rotasi Bumi. Dalam Rotasi, Bumi berputar pada porosnya yang tidak tegak lurus, dan terdapat kemiringan sebesar  yang terdapat perpotongan bidang garis ekuator. Gabungan antara Revolusi Bumi dan kemiringan pada sumbu Rotasi yang menyebabkan munculnya perbedaan siang dan malam. Itulah membuat perbedaan waktu puasa di berbagai negara.

Ini merupakan alasan mengapa negara-negara di wilayah utara lebih lama puasanya. Negara Indonesia adalah negara dilalui oleh garis khatulistiwa ) sehingga siang dan malam seimbang. Karena satu kali Rotasi ialah 24 jam sehari, maka bisa mendapatkan waktu siang dan malam selama sekitar 12 jam.

Referensi:

Kresnoadi, dan Ruangguru Tech Team. “Perbedaan Lama Waktu Puasa di Berbagai Negara.” Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru, 10 Maret 2025, www.ruangguru.com/blog/lama-puasa-berbagai-negara. Diakses 16 Februari 2026.

Maratus, Nuril Farida. “Perbedaan Penentuan Waktu Imsak Bulan Ramadan: Telaah Ijtihad Ulama Berdasarkan Ketinggian Fajar Shadiq”. Ahkam, Vol. 12, No. 1, (Juli 2024): 63-88.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *