Home / Tafsir Kontekstual / Fenomena Perbandingan Sosial dan Kecemburuan Hidup: Analisis Nalar Tafsir QS. Al-Hadid Ayat 23

Fenomena Perbandingan Sosial dan Kecemburuan Hidup: Analisis Nalar Tafsir QS. Al-Hadid Ayat 23

Di era media sosial ini, seseorang seringkali terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat, dimana seseorang melihat sebuah kebahagiaan orang lain, yang kemudian merasa tidak puas dengan kehidupannya sendiri. Fenomena tersebut disebut sebagai “tidak dilukai, tapi merasa berdarah-darah”. Dalam hal ini akan saya sajikan fenomena tersebut melalui lensa nalar tafsir QS. Al-Hadid ayat 23.

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Perbandingan sosial dan ekspektasi non realistis bukanlah sebuah kejadian sosial yang langka, dimana seringkali kita temukan di sekitar lingkungan kita yang disebut dengan social comparison. Tidak sedikit, namun banyak orang yang melakukan pelbagai macam perbandingan dalam setiap harinya.

Lalu, apa yang disebut dengan social comparison tersebut?

Social comparison ialah sesuatu yang merujuk pada proses seorang individu dimana ia mulai membandingkan kemampuan dirinya, dan sifat dirinya, serta pendapatnya kepada individu lain (Buunk & Vugt, 2013). Hal tersebut bisa saja terjadi karena dalam setiap seorang individu memiliki suatu dorongan atau bawaan dalam mengevaluasi diri mereka sendiri yang seringkali dengan cara membandingkan dirinya terhadap individu lain. (Festinger, 1954: 117-140).

Ekspektasi yang tidak puas dengan hidup mereka sendiri juga dapat memicu kegelisahan dan kecemburuan, dalam artian baik secara sadar maupun tidak sadar seorang individu cenderung akan memilih individu lain secara acak alias tidak menentu sebagai objek perbandingan pada dirinya sendiri. Acak alias tidak menentu yang dimaksud menurut K. Cherry (2020) ialah menyatakan bahwa:

“Biasanya seseorang akan cenderung membandingkan dirinya dengan individu lain yang dinilai sebaik dirinya ketika ingin merasa bahwa dirinya cukup baik (upward social). Sedang jika sebaliknya maka agar mereka mendapatkan inspirasi dan atau motivasi demi berkembang lebih baik (downward social)”.

Namun, seperti apa bentuk upward social itu?

Semacam fenomena yang kerap kita jumpai yakni fenomena “tidak dilukai tapi merasa berdarah-darah”. Hal tersebut menjadi kian umum di era media sosial bahkan sering terjadi dalam lingkungan terdekat, dimana tidak sedikit orang-orang merasa gelisah dan tidak puas terhadap hidup mereka sendiri ketika melihat kebahagiaan orang lain. Melihat orang lain cantik “ahh paling filter”, melihat orang lain pakai baju mahal“ngapain pakai baju mahal, toh mahal belum tentu nyaman, paling biar dipuji orang”. Kalimat semacam inilah yang terdengar biasa.

Bukan karena benar, melainkan karena terlau sering diucapkan. Hampir semua pernah bertemu dengan individu semacam ini. Setiap kali mendapati orang lain yang sedang bahagia, ia gelisah. Setiap kali melihat orang mendapat pujian, dada terasa sesak dan panas. Setiap kali mlihat orang lain melangkah jauh lebih dari dirinya, ia merasa kalah. Padahal sejatinya setiap individu memiliki prosesnya masing-masing, tidak ada yang membandingkan, bahkan tidak ada yang menunjuk dirinya, namun mereka sendiri yang merasa kecil.

Ada seseorang berbincang terkait bisnis, dan prestasi unggul. tiba-tiba menyela “Ah, yang penting berkah, tidak perlu banyak asalkan halal.” Seolah melihat rezeki orang lain melimpah, kotor. Seolah prestasi selau identik dengan kecurangan. Ada seseorang muthola’ah kitab, tiba-tiba berkomentar, “Ngisi kajian tapi diposting apa gunanya, yang penting sedikit tapi diamalkan, kajian kitab juga tidak bikin jadi Bunyai, tetap jadi orang yang sok pintar”. Seolah-olah mereka adalah malaikat pencatat pahala. Seolah-olah cakupan luas pengetahuan seseorang hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kemudian, pertanyaanya sebetulnya sangat sederhana, mereka kenapa??

Tidak ada pisau yang mengarah pada mereka, namun mereka menjerit bagai diiris. Sedangkan sebetulnya tidak ada yang melukai mereka, namun mereka yang merasa berdarah-darah. Hal tersebut tentu menandakan bahwa upward socialnya telah melebihi batas wajar hingga menjadi tumbuhlah menjadi sebuah kecemburuan sosial. Padahal Allah berfirman dalam QS. Surah Al-Hashr (59:9) sebagai berikut:

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman sebelum mereka (Muhajirin) itu, mereka (Amsar) tidak merasa keberatan sedikitpun di dalam hati mereka denga napa yang diterima oleh kaum Muhajirin, dan mereka (Ansar) dalam kesusahan. Dan orang-orang yang terpelihara dari kikir dirinya, mereka itulah orang-orang beruntung”

Ayat di atas jika kita telaah, menggambarkan bahwa adanya keutamaan untuk mengutamakan orang lain, menekankan bahwa pentingnya untuk tidak berlaku iri dengki terhadap individu lainnya. Untuk itu perlu diperhatikan, jika tingkat hasad (prasangka buruk) atau istilah lain upward social coparison yang melebihi batas wajar, hal tersebut bukannya membuat diri semakin termotivasi, melainkan menyebabkan memandang diri sendiri sebagai inferior alias kulitas lebih rendah dan terdapat kemungkinan-kemungkinan timbul sebuah emosi negative yang memicu hingga ke depresi.

Yang melukai bukan orang lain, melainkan pikirannya sendiri. Mental seperti yang saya tulis diataslah justru menandakan bahwa betapa lelahnya hidup mereka. Segalanya dianggap saingan. Segalanya terasa ancaman. Sekali lagi, orang lain bahagia sedikit saja, mereka merasa didzalimi. Orang lain naik satu pijakan, mereka merasa terinjak. Padahal kalau hati kita lebih luas, lapang, hidup bukanlah sebuah perlombaan dan nikmat bukanlah suatu yang harus diperebutkan.

Perlu hati-hati dengan kebiasaan nyinyir (iri) terhadap nikmat orang lain, sebab nikmat bukanlah hasil tipu daya, melainkan titipan Allah yang telah diberikan kepada siapapun yang Allah kehendaki. Barangkali nikmat yang tak kunjung datang kepada mereka bukan karna mereka tidak layak, melainkan karena terlalu banyak meremehkanya saat nikmat itu berada di tangan orang lain.

Ayat di atas (QS. Surah Al-Hashr (59:9) dan QS. Ali Imran (3:31) sebagai berikut:

Artinya:“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al-Qur’an Kemenag Online. Qur’an Dan Terjemahan, 2022).

Ayat tersebut jelas dan tegas menekankan bahwa pentingnya mengikuti petunjuk Allah dan tidak diperbolehkannya membandingkan diri terhadap orang lain. Karena membandingkan diri sama halnya menyakiti dirinya sendiri.

Lalu, bagaimana jika upward social terjadi secara terus-menerus dan melebihi batas wajar?

Terkadang, bukan rezeqilah yang kurang pada diri mereka, bisa jadi karena hati yang sempit. Dan hati yang sempit jarang sekali kuat untuk menampung kebahagiaan, bahkan kebahagiaannya sendiri sekalipun. Untuk itu perlu diperhatikan dan pemahaman adanya nalar tafsir firman Allah dalam QS. Al-Hadid ayat 23, sebagaimana disebutkan di atas.

Ayat tersebut mengajarkan untuk tidak teralalu berduka cita atas apa yang luput dari diri kita dalam artian kehilangan, kegagalan dan lainya, dan mengajarkan bahwa kita jangan terlalu bergembira atas apa yang diberikan-Nya kepada kita dalam artian kesuksesan, kekayaan dan lainya, serta mengajarkan kita bahwa segala sesuatunya adalah takdir Allah dan harus senantiasa kita terima dengan lapang dada, kemudian agar kita dapat memiliki keseimbangan jiwa dan tidak mudah terpengaruh oleh perubahan sosial (terjebak dalam upward social).

Kemudian bagiamana cara mengatasi adanya perasaan “Darah-darah” dalam upward social tersebut?

Menurut Sayyid Qutb (1965: 123-125) dalam kitab afsirnya Fi Dzilal al-Qur’an menyatakan bahwa terdapat 3 cara mengatasi adanya fenomena atau persaan tersebut yakni; Dengan cara memperkuat kesadran diri, dalam artian kita perlu menyadari akan bahwa perbandingan sosial bukanlah hal yang sehat dan tidak realistis. Mengembalikan sikap syukur, dalam artian perlu kita fokus pada apa yang sudah Allah titipkan, atau sebaliknya. Mengingat Allah, dalam artian bahwa sumber kekuatan serta kebahagiaan adalah dari Allah SWT.

Pada hakikatnya fenomena “Darah-Darah” dalam Era Perbandingan Sosial tidak terlepas dari adanya problematika kecemburuan dan kegelisahan sosial. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan bagi setiap insan, maka harus kita hadapi dengan penanaman-penanman nilai-nilai Al-Qur’an salah satunya melalui pemahaman QS. Al-Hadid:23 sebagai solusi mengatasi perasan dan menemukan kebahagiaan sejati. Agar ketika melihat kebahagiaan orang lain tidak sengit, dan ketika merasakan kebahagaan sendiripun tidak melangit.

Referensi

Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations7(2), 117-140.

Qutb, S. (2003). Fi Zilal al-Qur’an. Cairo: Dar al-Shuruq.

Van Vugt, M., & Buunk, A. P. (2013). Applying Social Psychology: From Problems to Solutions. Applying Social Psychology, 1-200.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *