Home / Al-Qur’an & Sains / I’jaz Medis Surah Al-Mu’minun Ayat 12-14: Proses Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Embriologi Modern

I’jaz Medis Surah Al-Mu’minun Ayat 12-14: Proses Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Embriologi Modern

Al-Qur’an sering disebut sebagai mukjizat bagi umat manusia yang tak hanya bersifat pedoman spiritual dan moral, tetapi juga mengandung informasi yang relevan secara ilmiah. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin banyak fakta ilmiah yang ditemukan selaras dengan kandungan Al-Qur’an. Fenomena ini dikenal sebagai i’jaz ilmi, yaitu kemukjizatan Al-Qur’an yang berkaitan dengan ilu pengetahuan dan sosial.

Salah satu bidang yang mencakup i’jaz ilmi yang masih menjadi sorot perhatian yaitu i’jaz medis, yang menelaah ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kesehatan dan penciptaan manusia. Pada surah  Al-Mu’minun ayat 12–14 termasuk salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan dalam kajian i’jaz medis karena menjelaskan proses penciptaan manusia secara bertahap dan berurutan yang selaras dengan proses perkembangan janin di dalam rahim.

Mengapa kajian ini menjadi penting? Karena kajian tentang penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dan ilmu embriologi merupakan kontribusi penting dalam upaya integrasi antara ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan modern yang tidak hanya untuk memperkuat keimanan terhadap kebenaran Al-Qur’an, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa tidak ada pertentangan antara wahyu dan akal atau agama dan sains.

Tahapan Penciptaan Manusia dalam Al-Quran surah Al-Mukminun 12-14

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Q.S Al-Mu’minun ayat 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ  ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani (nutfah) yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat (‘alaqah), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami menjadikannya makhluk yang lain. Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”

Ayat ini menjelaskan tentang tahapan penciptaan manusia secara berurutan, dimulai dari sulalah min tin (saripati tanah), kemudian menjadi nutfah (setetes air mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudghah (segumpal daging), pembentukan tulang belulang, pelapisan tulang dengan daging, hingga menjadi makhluk yang sempurna. Hal ini mencerminkan proses perkembangan embrio manusia yang sudah diketahui oleh embriologi modern.

Pada ayat 12 dijelaskan asal-usul penciptaan manusia dimulai dari sulalah min tin (saripati tanah). Secara linguistik, kata sulalah bermakna sari pati atau sesuatu yang diekstraksi dari unsur lain, sedangkan kata tin berarti tanah. Lalu, kata al-insan oleh sebagian mufassir, seperti Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, merujuk kepada Nabi Adam sebagai manusia pertama, sementara kata sulalah dikaitkan dengan asal-usul keturunannya yang berasal dari sari pati atau hasil ekstraksi dari suatu unsur melalui proses biologis.

Pemahaman ini selaras dengan temuan ilmu biologi modern yang menyebutkan bahwa unsur kimia penyusun tubuh manusia seperti karbon, kalsium, dan fosfor berasal dari unsur-unsur yang terdapat di dalam tanah. Oleh karena itu, dalam konteks i’jaz medis, ayat ini dapat dipahami sebagai penegasan konseptual bahwa asal-usul material manusia bersumber dari unsur-unsur bumi.

Pada ayat 13, terdapat kata nutfah yang berarti setetes air atau cairan yang sangat sedikit yang dipahami sebagai air mani. Al-Qur’an menyebutkan bahwa nutfah ditempatkan di qarār makīn (tempat yang kokoh), yang ditafsirkan oleh para mufasir sebagai rahim. Nutfah yang dimaksud dalam ayat ini juga dijelaskan pada QS Al-Insan ayat 2 yang dipahami sebagai nutfah amsyaj, yakni hasil pertemuan sperma dan ovum, walaupun Al-Qur’an tidak menyebutkan secara khusus tentang air mani wanita, tetapi Al-Qur’an menyebutkan sebagai air mani yang tercampur.

Dalam perspektif embriologi modern, jenis kelamin anak lebih dipengaruhi oleh sperma yang membuahi sel telur. Apabila sperma membawa kromosom X, maka anak yang lahir berjenis kelamin perempuan, sedangkan jika sperma membawa kromosom Y, maka anak yang lahir berjenis kelamin laki-laki. Dari keterangan ini jelaslah bahwa kromosom kelamin dari ayah yang lebih menentukan jenis kelamin embrio dan janin sesuai dengan yang ditakdirkan Allah swt.

Pada ayat 14, ayat ini merupakan inti pembahasan i’jaz medis karena menguraikan tahapan akhir penciptaan manusia secara berurutan dan sistematis. Kata ‘alaqah berasal dari kata ‘alaqa’, yang artinya melekat atau bergantung.

Dalam embriologi modern, ‘alaqah dimaknai sebagai fase implantasi, yaitu saat embrio melekat pada dinding rahim. Pada tahap ini belum terbentuk darah, sehingga istilah “segumpal darah” kurang tepat secara ilmiah. Oleh karena itu, Quraish Shihab lebih cenderung memaknai ‘alaqah sebagai “sesuatu yang bergantung atau berdempet pada dinding rahim”, karena makna linguistik tersebut lebih selaras dengan fakta ilmiah.

Lalu pada kata mudghah, secara bahasaberarti segumpal daging yang dapat dikunyah dan tidak beraturan. Dalam tafsir Ibnu Katsir, mudghah dipahami sebagai fase lanjutan dari ‘alaqah ketika embrio mulai mengalami pembentukan awal jaringan.

Dalam perspektif embriologi modern, tahap mudghah berkaitan dengan fase diferensiasi sel, yaitu proses ketika sel-sel embrio mulai membentuk struktur dasar tubuh. Fase ini umumnya terjadi pada minggu keempat kehamilan, saat embrio mulai dapat dikenali dan tampak seperti gumpalan kecil dengan cikal bakal anggota tubuh yang mulai terbentuk, sehingga makna linguistik mudghah memiliki kesesuaian dengan kondisi embrio pada fase perkembangan tersebut.

Kemudian pada ayat ini terdapat kata ‘izam dan lahm, secara bahasa, kata ‘izam berarti tulang belulang, yaitu struktur keras yang menjadi kerangka tubuh. Sementara, kata lahm bermakna daging atau otot yang berfungsi menutupi dan melindungi tulang. Urutan penyebutan ‘izam kemudian lahm dalam ayat ini menunjukkan adanya tahapan struktural dalam pembentukan tubuh manusia. Dalam embriologi modern, hal ini selaras dengan proses osteogenesis yang diikuti oleh miogenesis, yaitu pembentukan tulang kemudian otot.

Pada tahap terakhir, Allah menyebutkan “tsumma ansya’nāhu khalqan ākhār” yang dipahami sebagai fase penyempurnaan manusia. Ath-Thabathaba’i menjelaskan bahwa pemilihan kata insya’ mengisyaratkan bahwa Allah tidak hanya menciptakan manusia secara fisik, tetapi juga memelihara dan menyempurnakannya secara menyeluruh, sehingga manusia menjadi makhluk yang sempurna tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara ruhani.

Dengan demikian, kajian ini dapat menunjukkan bagaimana Surah Al-Mu’minun ayat 12-14 menggambarkan tahapan perkembangan manusia secara bertahap dan sistematis, yang selaras dengan temuan embriologi modern, mulai dari pembuahan, implantasi, pembentukan jaringan dan tulang, hingga menjadi makhluk hidup yang sempurna. Ketika dikaji melalui analisis linguistik dan penafsiran para mufasir serta dikorelasikan dengan temuan embriologi modern, hal ini menunjukkan adanya keselarasan deskriptif antara wahyu dan ilmu pengetahuan tentang perkembangan embrio manusia

Oleh karena itu, integrasi antara tafsir Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, khususnya embriologi modern, dapat memperkaya pemahaman manusia tentang proses penciptaan dan kehidupan, selama tidak mengaburkan fungsi utama Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa wahyu dan sains bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam mengungkap tanda-tanda kebesaran Allah dan meneguhkan keimanan manusia terhadap kebenaran Al-Qur’an.

Daftar Pustaka

Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999.

Ummah, M. S. “Konsep Embrio Manusia Perspektif Al-Qur’an dan Sains (Kajian Analisis QS. Al-Mu’minun Ayat 12–14).” Sustainability (Switzerland) 11, no. 1 (2019).

Ihyaudin, Wulan Octaviani Putri, Indah Ramadhani Priyono, dan Andi Rosa. “Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an dan Ilmu Embriologi: Tafsir Ilmi.” Jurnal Budi Pekerti Agama Islam 3, no. 3 (2025).

Kiptiyah. Embriologi dalam Al-Qur’an: Kajian pada Proses Penciptaan Manusia. Malang: UIN Malang Press, 2007.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *