Home / Tafsir & Isu Kemanusiaan / Prinsip Qawlan Sadida dalam Bermedia Sosial untuk Menghindari Cyberbullying dan Ujaran Kebencian

Prinsip Qawlan Sadida dalam Bermedia Sosial untuk Menghindari Cyberbullying dan Ujaran Kebencian

Media sosial telah berkembang pesat, berubah dari sekadar tempat berinteraksi menjadi cerminan dari peradaban digital kita. Seperti pisau bermata dua, meskipun menawarkan kemudahan dalam koneksi tanpa batas, di baliknya tersembunyi ancaman yang perlahan mengikis integritas moral dan mental masyarakat, yakni cyberbullying dan ujaran kebencian.

Di Indonesia, kasus perundungan di dunia maya, mulai dari flaming, denigrasi, hingga penyebaran berita palsu, terus menjadi isu penting. Anonimitas yang ditawarkan oleh media sosial sering kali menjadi alasan bagi seseorang untuk melontarkan kata-kata yang menyakitkan dan menurut berbagai penelitian memiliki dampak traumatis dan kerusakan mental yang serius terhadap korban.

Kita mungkin bertanya, di tengah kecepatan dan hiruk-pikuk dunia digital saat ini, di manakah kita dapat menemukan fondasi etika yang kuat untuk menghadapi permasalah tersebut? Jawabannya ada pada Al-Qur’an. Panduan etika tersebut telah diajarkan di dalamnya sejak 14 abad yang lalu, melalui prinsip komunikasi, yaitu Prinsip Qawlan Sadida.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab [33]: 70)

Secara harfiah, Qawlan Sadida (قَوْلًا سَدِيدًا) berarti “perkataan yang benar dan lurus” (Ikrar, I., 2016). Prinsip ini secara jelas diperintahkan oleh Allah SWT dalam dua ayat Al-Qur’an, salah satunya terdapat di Surah Al-Ahzab ayat 70 di atas.

Ahli tafsir sepakat bahwa Qawlan Sadida tidak hanya mengacu pada perkataan yang jujur atau tidak berbohong (shidq), tetapi memiliki makna yang lebih dalam lagi (Ulum, M. S., & Nurhidayati, N. 2024)). Perkataan yang sadida harus memenuhi tiga aspek utama, yaitu: isinya benar (sesuai fakta dan dalil), penyampaiannya jelas dan mudah dipahami (tidak membingungkan atau berbelit-belit), serta tujuannya adil dan tepat sasaran (dilontarkan dengan niat tulus tanpa maksud merusak, menfitnah, atau menyakiti perasaan orang lain).

Itulah dasar dari komunikasi yang jujur, tegas, dan memiliki integritas. Relevansi prinsip ini sangat tinggi dalam dunia media sosial, karena di media sosial sering terjadi ucapan yang distorsi, dipengaruhi emosi, tidak tepat sasaran, atau bahkan berasal dari akun yang tidak bertanggung jawab.

Lantas, bagaimana kita dapat menerapkan warisan spiritual ini sebagai benteng melawan ancaman kejahatan digital? Implementasi Qawlan Sadida secara praktis dapat diwujudkan melalui tiga pilar utama dalam pertahanan digital.

Pilar pertama adalah kebenaran (Shidq) untuk melawan ujaran kebencian (hate speech). Ujaran kebencian, dalam bentuk apa pun, selalu berdiri di atas dasar ketidakbenaran, seperti informasi palsu, fitnah, atau stereotip yang salah. Qawlan Sadida mengajarkan kita untuk memastikan bahwa setiap narasi yang kita bagikan adalah benar dan masuk akal sebelum membagikannya.

Prinsip ini mendorong kita untuk menolak menyebarluaskan konten yang berisi rasis atau diskriminatif, karena ucapan yang adil tidak akan membenarkan penghinaan terhadap etnis, agama, atau kelompok tertentu. Sebaliknya, Al-Qur’an mengajarkan bahwa perbedaan adalah fitrah manusia, dan yang membedakan manusia adalah tingkat ketakwaannya.

Oleh karena itu, setiap ucapan yang bersifat provokatif dan menghasut, yang bisa menimbulkan perselisihan, secara otomatis melanggar prinsip Qawlan Sadida. Sebelum menulis komentar kritik atau balasan terhadap ujaran kebencian, kita wajib bertanya pada diri sendiri: Apakah ucapan saya didasarkan pada informasi yang benar? Apakah tujuan saya memberikan solusi atau hanya membalas rasa sakit dan merendahkan orang lain?

Pilar kedua adalah konsistensi (Istiqamah) dalam melawan cyberbullying. Perundungan di dunia maya sering terjadi karena ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan dan hati yang bersih. Pelaku cyberbullying biasanya bersembunyi di balik akun anonim atau menggunakan bahasa kasar (flaming) yang tidak akan mereka gunakan dalam percakapan langsung.

Qawlan Sadida menekankan pentingnya konsistensi antara ucapan dan tindakan. Ucapan yang lurus berasal dari hati yang jujur dan berani bertanggung jawab. Prinsip ini menolak anonimitas yang merusak, meskipun akun anonim bisa digunakan untuk privasi, penggunaannya untuk menyerang dan mempermalukan orang lain adalah bentuk ketidakjujuran dan ketidakberanian.

Ucapan yang lurus adalah ucapan yang disampaikan dengan tanggung jawab penuh. Selain itu, Qawlan Sadida juga menolak segala bentuk kata-kata kasar dan makian (flaming). Bahkan ucapan “ah” kepada orang tua dilarang, apalagi ucapan yang menyakiti orang lain di ruang digital. Ucapan yang menyakitkan menunjukkan jiwa yang tidak jujur.

Pilar ketiga adalah Ketepatan (Tanpa Ambiguitas) dalam melawan konten yang menyesatkan. Dalam konteks komunikasi, Qawlan Sadida juga berarti ucapan yang tepat sasaran, jelas, dan tidak menimbulkan keraguan. Hal ini sangat penting dalam memerangi konten yang membingungkan atau menyesatkan, yang sering digunakan dalam cyberbullying, seperti memutarbalikkan konteks atau menyebarkan aib seseorang tanpa izin.

Ucapan yang sadida harus jelas dan tidak ambigu, agar konteks yang dibagikan tidak disalahartikan atau dimanfaatkan untuk menyerang. Prinsip ini mendorong kita berbicara dengan niat yang tulus (keikhlasan), bukan dengan niat tersembunyi untuk menjatuhkan orang lain. Jika kita ingin memberikan kritik, kritikan tersebut harus bertujuan untuk perbaikan (Qawlan Ma’rufan), bukan untuk menghina.

Dengan demikian, literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis mengoperasikan perangkat digital atau mengenali berita palsu. Intinya adalah tentang penerapan nilai-nilai moral dan spiritual dalam setiap interaksi yang dilakukan melalui media digital.

Qawlan Sadida merupakan panduan dalam berkomunikasi bagi seorang Muslim di tengah era digital. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kata yang diketik, setiap komentar yang diunggah, merupakan bentuk pertanggungjawaban di hadapan Tuhan dan sesama manusia.

Mari kita memastikan bahwa setiap ucapan kita memenuhi standar Qawlan Sadida, yaitu benar isinya, tulus dalam penyampaiannya, dan jujur dalam niatnya. Dengan menerapkan prinsip ini, kita tidak hanya mampu menghindari dampak negatif seperti cyberbullying dan ujaran kebencian, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan digital yang aman, harmonis, dan bermartabat, sebagaimana ajaran agama kita yang mulia.

Referensi

Ikrar, I. (2016). Konsep Etika Komunikasi dalam Al Qur’an (Telaah Kritis Dalam Makna Qawlan Dengan Pendekatan Tafsir Tematik). Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah, 6(2).

Ulum, M. S., & Nurhidayati, N. (2024). Mendekati Penggemar K-Pop dengan Dakwah yang Santun: Etika Komunikasi Dakwah@ FuadHnaim di Youtube. Al-Jamahiria: Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam, 2(2), 148-161.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *