Bulan merupakan satu-satunya satelit alami Bumi yang beredar mengelilingi Bumi dalam lintasan orbit tertentu. Diameter Bulan sekitar 3.480 km dengan massa sekitar 0,012 kali massa Bumi. Orbit Bulan berbentuk elips yang menyebabkan Bulan tampak sedikit buncit pada sisi tertentu. Kebuncitan ini disebabkan oleh tarikan gravitasi Bumi yang memengaruhi bentuk Bulan. Massa jenis Bulan sekitar 3,4 g/cm³, lebih rendah dibandingkan massa jenis Bumi sebesar 5,5 g/cm³, akibat struktur internal yang berbeda. Bulan tidak jatuh ke Bumi karena adanya gaya sentrifugal dari gerak orbitnya.
Secara struktur, Bulan terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu kerak bulan sebagai lapisan terluar yang melindungi lapisan dalam, mantel bulan yang menyelimuti inti, dan inti bulan yang terbagi menjadi inti dalam padat kaya besi dan inti luar cair. Rotasi Bulan pada porosnya berlangsung selama sekitar 27,3 hari, waktu yang sama dengan periode revolusinya mengelilingi Bumi. Karena itu, Bulan selalu memperlihatkan sisi yang sama ke Bumi.
Fase-fase Bulan terjadi akibat perubahan posisi Bulan terhadap Bumi dan Matahari sehingga proporsi cahaya Matahari yang dipantulkan Bulan ke Bumi berubah-ubah. Ada delapan fase utama mulai dari bulan baru, kuartal pertama, bulan purnama, kuartal terakhir, hingga kembali ke bulan baru. Perubahan fase ini dapat diamati dan dihitung secara akurat, mendasari kalender hijriyah dalam tradisi Islam.
Dari perspektif Al-Qur’an, peredaran Bulan dan benda langit lainnya mengikuti garis edar yang telah ditetapkan Allah SWT. Firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 33 menyatakan bahwa matahari dan bulan beredar pada orbitnya masing-masing dengan keteraturan yang presisi. Tafsir ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan keteraturan kosmik yang tidak mungkin terjadi tanpa adanya Maha Pengatur. Ayat ini juga menggarisbawahi pengetahuan ilmiah kuno tentang pergerakan benda langit yang kini terbukti secara observasi.
Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan aspek fisik Bulan, tetapi juga fungsinya dalam perhitungan waktu, yakni sebagai dasar menetapkan bulan hijriyah dan pembagian hari dalam kalender Islam. Hal ini menunjukkan keselarasan antara ilmu pengetahuan modern tentang astronomi Bulan dengan wahyu sejak abad ke-7. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Yaasin ayat 39 yang berbunyi:
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ
“Setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua”
Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa lafal وَالْقَمَرَ (dan bagi bulan) dapat dibaca wal qamaru atau wal qamara, bila dibaca nasab yaitu wal qamara berarti dinasabkan oleh fi’il sesudahnya yang berfungsi menafsirkan, yaitu- قَدَّرْنٰهُ (telah kami tetapkan) bagi peredarannya- مَنَازِلَ (manzilah-manzilah) sebanyak dua puluh delapan manzilah selama sealam dua puluh delapan malam untuk setiap bulannya.
Kemudian sembunyi selama dua malam, jika bilangan satu bulan tiga puluh hari, dan satu malam, jika bilangan satu bulan dua puluh Sembilan hari- حَتّٰى عَادَ (sehingga kembalilah ia) setelah sampai ke manzilah yang terakhir, menurut pandangan mata- كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ (sebagai bentuk tandan yang tua) bila sudah lanjut masanya bagaikan ketandan, lalu menipis, berbentuk sabit dan berwarna kuning.
Dapat kita ketahui bahwa ayat tersebut menjelaskan siklus peredaran Bulan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. secara teratur dalam 28 manzilah atau tahap selama sekitar 28 malam setiap bulannya. Setelah Bulan mencapai manzilah terakhir, ia kembali ke bentuk awalnya yang digambarkan seperti tandan kurma yang tua, yakni tipis, melengkung, dan berwarna kuning.
Ini menggambarkan proses perubahan fase Bulan dari bulan sabit kecil, membesar hingga purnama, lalu kembali mengecil hingga menghilang, sebagaimana yang dapat diamati secara visual. Tafsir ini menegaskan keteraturan dan ketepatan peredaran Bulan yang merupakan bagian dari tanda kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya. Sebagai fenomena alam, siklus ini telah diketahui manusia jauh sebelum adanya teknologi canggih, menunjukkan keselarasan antara wahyu dan pengamatan ilmiah modern.
Fenomena alam yang terkait dengan Bulan, seperti pasang surut air laut, juga merupakan akibat dari pengaruh gravitasinya terhadap Bumi. Perbedaan massa dan ukuran serta orbit Bulan menentukan dinamika interaksi ini. Selain itu, Bulan tidak memiliki atmosfer, sehingga permukaannya dipenuhi kawah akibat tumbukan meteor dan langsung terpapar radiasi luar angkasa.
Keseluruhan pengetahuan ilmiah dan interpretasi Al-Qur’an tentang Bulan memperlihatkan pengertian yang komprehensif dan sinkron antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Pengamatan astronomi modern membuktikan kebenaran ayat-ayat suci terkait Bulan dan tata surya.
Referensi
Riza, Muhammad Himmatur. “Fenomena Supermoon dalam Perspektif Fiqh dan Astronomi”, Vol. 4, No. 1, (2020).
Hamka. Tafsir Al-Azhar Juz XXIII. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994.
Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2017.
Muhyiddin, Khazin. Ilmu Falaq dalam Teori dan Praktik. Yogyakarta: Buana Pustaka 2004.









