Home / Al-Quran & Generasi Muda / Upaya Generasi Z dalam Mengubah Pola Hidup Sehat di Tengah Kebiasaan Begadang dan Merokok

Upaya Generasi Z dalam Mengubah Pola Hidup Sehat di Tengah Kebiasaan Begadang dan Merokok

Di kalangan Generasi Z (Gen Z), begadang kerap tidak dipandang sebagai persoalan serius. Malam justru dianggap sebagai ruang pelarian, waktu untuk bermain, menenangkan diri, atau sekadar melepas penat dari rutinitas yang melelahkan. Ketika dunia mulai sunyi dan pikiran terasa lebih bebas, rokok sering hadir sebagai teman setia yang menemani kegelisahan. Bagi banyak orang, malam seolah menjadi satu-satunya kesempatan untuk “bernapas” setelah menjalani hari yang penuh tekanan. Namun tanpa disadari, kebiasaan mengambil waktu istirahat secara berulang ini perlahan merampas hak tubuh untuk dapat beristirahat.

Saya melihat kenyataan tersebut pada seorang teman. Ia sudah tidak asing dengan begadang dan rokok. Kebiasaan tersebut telah menjadi bagian dari rutinitasnya sekian lama. Namun pada satu titik, tubuhnya telah memberikan sinyal. Tidur yang sudah tidak bisa nyenyak, dan rasa yang lelah seakan tidak pernah benar-benar pergi. Di situlah keinginan untuk berubah muncul. Ia ingin hidup lebih sehat, ingin tidur tepat waktu, dan ingin berhenti untuk merokok.

Keinginan tersebut tidak serta berjalan dengan lancar. Setiap ia ingin mencoba untuk tidur tepat waktu, tubuhnya justru bereaksi sebaliknya. Jantung berdebar, pikiran yang datang secara tiba-tiba, serta rasa cemas yang datang tanpa sebuah sebab. Ia merasa bimbang dan penasaran, mengapa sesuatu yang begitu baik terasa seperti menyiksa.

Pada titik tersebut, saya menyadari bahwa proses perubahan tidak selalu mengalami hambatan pada tingkat kesadaran atau pemikiran, melainkan sering kali justru mendapat resistensi dari aspek biologis tubuh. Tubuh memiliki mekanisme adaptif yang terbentuk melalui pengulangan kebiasaan dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks ini, nikotin telah menjadi bagian dari pola regulasi kewaspadaan dan kenyamanan psikofisiologis.

Ketika kebiasaan tersebut dihentikan secara mendadak, tubuh mengalami disorientasi karena kehilangan stimulus yang selama ini dianggap sebagai penyangga. Kondisi ini kemudian memunculkan respons berupa kecemasan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan sebagai bentuk reaksi adaptasi terhadap perubahan pola hidup yang baru.

Sering kali kita terlalu keras pada diri sendiri. Kita menganggap bahwa kegagalan tidur tepat waktu merupakan sebagai saksi lemahnya niat kita. Padahal itu hanya tanda bahwa tubuh sedang kembali belajar. Seperti seorang yang telah lama berjalan dalam lorong yang gelap, kemudian diminta untuk beradaptasi dengan cahaya. Butuh waktu, dan tentu tidak nyaman di awal.

Hal ini mengingatkan pada sebuah konsep yang disampaikan oleh James Clear dalam Atomic Habits. Ia berkata bahwa suatu perubahan yang besar tidak lahir dari tekad yang besar semata, namun dari kebiasaan yang kecil dilakukan secara konsisten. Kita tidak gagal karena tujuan yang terlalu tinggi harapannya, melainkan karena sistem hidup yang belum berubah (Clear James, 2018:21-23).

Ia ingin tidur tepat waktu, namun aktivitas malamnya masih sama. Ia sangat ingin untuk berhenti merokok, namun rokok masih menjadi pelarian utama saat pikirannya tengah lelah. Maka perubahan terasa seperti paksaan, bukan proses. Dari sini dapat belajar bahwa niat yang baik perlu disandingkan dengan langkah kecil yang realistis. Bukan menghilangkan seluruh kebiasaan lama, tetapi mengurangi secara perlahan. Bukan langsung tidur tepat waktu pukul sembilan, tetapi memajukan waktu tidur sedikit demi sedikit.

Refleksi ini membawa pada ajaran islam yang sangat manusiawi. Rasulullah SAW bersabda :

        إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا      

“Sesungguhnya Tubuhmu memiliki hak atas dirimu “ (H.R Bukhari No. 5199 dan Muslim  No. 1159 ).

Dari hadits tersebut menjelaskan  bahwa tubuh adalah amanah yang memiliki hak untuk tidak selalu dipaksa. Hak untuk dirawat serta dijaga. Ada malam-malam ketika ia berhasil tidur lebih awal, dan ada malam ketika kegelisahan kembali datang. Namun kini ia tidak membenci dirinya sendiri ketika ia gagal. Dalam prosesnya, peran teman sangat dibutuhkan, bukan untuk menuntut kesembuhan, melainkan untuk hadir, menemani, dan mengingatkannya bahwa kegagalan bukan akhir dari sebuah perjalanan. Sejalan dengan Atomic Habits mengenai “ Peran keluarga dan teman dalam membentuk kebiasaan”. Bahwa kebiasaan manusia sangat dipengaruhi oleh sekelilingnya, yang cenderung meniru perilaku orang-orang yang sering bersama teman, keluarga, sahabat, dan lingkar sosial itu sendiri (James Clear, 2018:129)

Perlahan perubahan yang mengajarkan untuk lebih mendengarkan sinyal tubuh. Ketika pikiran berisik, ia tidak langsung menyalakan rokok, tetapi mencoba duduk diam beberapa menit. Langkah tersebut mungkin terlihat sangat sepele, tetapi disitulah maknanya. Terutama karena ada peran para teman yang percaya akan prosesnya, bahkan di saat ia sendiri masih ragu.

Dalam Atomic Habits, “aturan dua menit” merupakan sebuah cara yang sangat sederhana untuk mencoba berhenti kebiasaan menunda dengan tidak merasa terbebani pada hasil yang besar. Ketika dorongan yang lama tiba, ia tidak memaksakan dirinya untuk langsung berubah total. (James Clear, 2018:179)

Perubahan itu dapat ia jalani dengan cara yang sederhana namun mengandung makna. Puasa, waktu menahan diri yang mengajarkannya bahwa keinginan tidak harus dituruti. Dari kebiasaan merokok secara terus menerus, perlahan ia mencoba belajar untuk mengurangi. Sebungkus rokok yang dulu habis dalam waktu yang sangat singkat, kini dapat bertahan selama berhari-hari.

Refleksi tersebut mengajarkan bahwa perubahan bukan tentang apa yang menjadi sempurna, melainkan mengenai kesiapan untuk pulang. Pulang ke ritme yang jauh lebih manusiawi. Pulang ke tubuh untuk beristirahat. Pulang kepada diri sendiri yang terlalu diabaikan serta ditemani orang-orang yang memilih bertahan di sisi kita, bahkan dengan proses yang indah.

Hal ini tidak menempatkan merokok dan begadang semata-mata sesuatu yang mutlak salah. Dalam realistis kehidupan, keduanya hadir sebagai pilihan untuk cara bertahan. Merokok dan begadang bukan hanya sebuah kebiasaan, tetapi bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri. Jika keduanya digunakan secara berlebihan, bukan hanya  kesehatan yang hilang, melainkan juga hubungan yang sehat dengan waktu.

Maka refleksi ini tidak akan berakhir pada sebuah larangan, melainkan sebuah kesadaran. Bahwa hidup yang sebanding bukan tentang apa yang menjadi sempurna, tetapi mengenai waktu dan kapan ia harus berhenti. Tentang mendengarkan tubuh sebelum meminta dan mengenai sebuah keberanian memilih untuk hidup yang lebih baik.

Refrensi:

James Clear. (2018). Atomic Habits. (A. T. Widodo, Penerj.) Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.21-23

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *