Home / Metodologi Al-Quran dan Tafsir / Transmisi Keilmuan Al-Qur’an dari Timur Tengah ke Nusantara: Sebuah Tinjauan Historis

Transmisi Keilmuan Al-Qur’an dari Timur Tengah ke Nusantara: Sebuah Tinjauan Historis

Transmisi keilmuan di bidang Al-Qur’an dari Timur Tengah ke Nusantara membuktikan bahwa sanad pengajaran dan hafalan Al-Qur’an tidak hanya proses spiritual, melainkan rantai keilmuan yang tersambung sampai Nabi Saw. Tradisi ini melintasi lautan maupun zaman, memasuki Nusantara melalui jalur para ulama yang membawa sanad, berupa ilmu qirā’āt, tajwīd, tafsīr, dan ilmu-ilmu Al-Qur’an lainnya.

Dalam tradisi belajar-mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama. Disiplin ilmu keislaman apa pun, sanadnya akan bermuara kepada Nabi Saw. Seperti dalam ilmu hadis bermuara kepada beliau, begitupun dengan ilmu qirā’āt, tajwīd, dan tafsīr. Sanad keilmuan memiliki latar belakang pengajian ilmu agama seseorang yang bersambung dengan para ulama setiap generasi selanjutnya.

Untuk menjawabnya, penulis menyajikan tiga bukti: Pertama, hal-hal berkaitan dengan tokoh yang dimungkinkan terjadi hubungan secara langsung atau tidak di antara keduanya. Kedua, meneliti jalur keilmuan. Ketiga, kita dapat melihat kitab-kitab yang dijadikan sebagai kurikulum pada pesantren tersebut dan dapat bertahan hingga kini. Berdasarkan kepentingan sanad keilmuan inilah, para ulama menghimpun sanad-sanad kelimuan mereka dan merangkum ilmu agama dari sudut dirāyah dari sudut manqūl atau ma’qūl dalam kitab-kitab mereka.

Sanad sendiri menurut bahasa berarti sandaran atau sesuatu tempat untuk kita bersandar. Jamaknya, yaitu asnād. Menurut istilah ilmu hadis bahwa sanad adalah sesuatu yang menyampaikan kepada matan hadis. Proses menyandarkan hadis kepada pembawanya adalah isnād. Berarti isnād secara bahasa adalah menyandarkan. Menurut istilah ialah menerangkan sanad. Orangnya disebut musnid & hadis yang disandarkan ialah musnad.

Pengertian sanad secara Ilmu Al-Qur’an berati rangkian perawi maupun guru yang menghubungkan seorang murid atau pengajar Al-Qur’an hingga ke Nabi Saw. melalui guru-guru terdahulu. Ilmu qirā’āt, tajwīd, tafsīr, & hafalan membutuhkan sanad, agar keaslian bacaannya terjaga. Di Nusantara semua Ahl al-Qur’ān memiliki sanad yang tersambung kepada Rasulullah Saw. melalui para guru yang ada di Timur Tengah.

Tradisi Ijazah Al-Qur’an

Sebelum dibahas jelas mengenai sanad, perlu dipaparkan terlebih dahulu ijāzah. Ijāzah berati legalitas atau putusan, sedangkan dalam ranah Al-Qur’an adalah sebuah persaksian atau pengakuan dari seorang mujiz (guru) ke mujaz (murid) atas kepakaran dalam bidang Al-Qur’an, seperti hafalan & membaca yang memiliki kapasitas keilmuan Al-Qur’an, serta memiliki keahlian dalam kecakapan untuk mengajarkan Al-Qur’an.

Terdapat enam metode ijazah Al-Qur’an dalam jalan transmisi kelimuan: Pertama, ijāzah setoran dan sema’an. Kedua, ijāzah setoran. Ketiga, ijāzah sema’an. Keempat, ijāzah dengan uji kompetensi. Kelima, ijāzah sebagian al-Qur’an. Keenam, ijāzah bil mukatabah. Dari keenam tersebut ada kecenderungan pergeseran kualitas seseorang.

Jalur Transmisi Keilmuan Al-Qur’an hingga ke Ulama Nusantara

Dalam berbagai sanad para ulama di Nusantara menunjukkan bermuara kepada Imām ‘Āṣim ibn Abī Najūd al-Kūfī (w. 128 H). Dari imam tersebut akan menjalur ke bawah dari berbagai jalur hingga kepada para ulama Nusantara. Sanad imam qirā’āt di Indonesia terhubung dengan imam-imam yang bermazhab Syafi’i, dimana ujungnya tersambung dengan Imām Zakarīyah al-Anṣārī (w. 926 H) sebagai rujukan ulama lokal.

Rihlah intelektual dalam bidang ilmu Al-Qur’an berasal dari tiga guru, yaitu Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī (w. 74 H), Zirr ibn Ḥubaīsy (w. 81 H), Sa’ad ibn Ilyās al-Syaībānī (w. 45 H). Mereka bertiga belajar kepada ‘Abd al-Allāh ibn Mas’ūd (w. 32 H) dan berguru kepada Nabi Muḥammad Saw. (w. 11 H). Di antara murid Imām ‘Āṣim adalah salah satunya bernama Imām Ḥafṣ ibn Sulayman (w. 180 H) sebagai perawi.

  • Abū ‘Amrū al-Dānī (w. 444 H)

Di antara yang menjadi guru beliau ialah Abd al-‘Azīz ibn Ja’far al-Fārisī (w. 413 H), Abū Muslim Muḥammad ibn Aḥmad al-Khāṭib (w. 403 H), Khalaf ibn Ibrāhīm al-Maṣrī (w. 402 H), dan masih banyak lainnya. Salah satu muridnya, yakni Abū Sulayman ibn al-Najāḥ yang mempunyai seorang murid bernama ‘Alī ibn Hużayl yang melahirkan ahli qirā’āt yang terkemuka yaitu, Imām al-Qāsim ibn Fīrruh al-Syāṭibī (w. 590 H).

Di antara yang menjadi guru beliau adalah Muḥammad ibn ‘Abd al-Allah al-Khāṭib, Muḥammad ibn al-Saīg, ‘Abd al-Raḥmān al-Bagdādī, Abū Bakr ibn al-Jundī. Salah satu murid berliau, yakni Aḥmad ibn ‘Umyūṭī (w. 872 H) yang tersambung hingga dengan ulama: Munawwir Krapyak (w. 1360 H) & punya murid bernama Abū Na’īm Riḍwān ibn Muḥammad al-‘Uqbā’ yang diturunkan oleh Imām Zakarīyah al-Anṣārī (w. 926 H).

  • Zakarīyah al-Anṣārī (w. 926 H)

Di antara yang menjadi guru beliau adalah Zayn al-Dīn Abū Żarr ‘Abd al-Raḥmān ibn Muḥammad al-Ḥanbalī, Jalāl al-Dīn Muḥammad ibn Aḥmad al-Maḥallī (w. 864 H), Ibn Jazarī. Salah satu muridnya adalah Naṣr al-Dīn al-Ṭabalawī (w. 1014 H). Di antara muridnya ialah Syīhadah al-Yamānī (w. 1050 H). Dari jalur itu beliau turunnya hingga: Munawwir Krapyak, Mahfudz Tremas (w. 1285 H), & Yasin Padang (w. 1440 H).

  • Syīhadah al-Yamānī (w. 1050 H)

Beliau mengambil riwayat dari Naṣr al-Dīn Muḥammad ibn Sālim al-Ṭabalawī (w. 1014 H). Salah satu murid beliau adalah Zayn al-Dīn ‘Abd al-Raḥmān ibn ‘Aṭā’ al-Allāh al-Fuḍāylī (w. 1020 H). Dari jalur beliau menurunkan kepada Sulṭān al-Mazzāhī (w. 1075 H). Dari jalur beliau menurunkan kepada ulama Nusantara, yaitu: Nawawi Banten (1314 H), Sholeh Darat (w. 1321 H), & Kholil Bangkalan (w. 1343 H).

  • Ahmad Zaini Dahlan (w. 1304 H)

Di antara guru beliau adalah Uṡmān ibn Ḥasan al-Dimyāṭī (w. 1265 H), ‘Abd al-Allāh al-Syarqāwī (w. 1227 H), Muḥammad al-Syanwānī (w. 1233 H). Di antara murid beliau adalah: Nawawi Banten (w. 1214 H), Sholeh Darat (w. 1231 H), Kholil Bangkalan (w. 1314 H), Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1334 H), Mahfuz Tremas (w. 1285 H), Tengku Chik Di Tiro (w. 1308 H), ‘Abd al-Ḥamīd Kudus (w. 1334 H).

  • Ahmad Hamid al-Tiji (w. 1368 H)

Di antara guru beliau adalah Sayyid Ahmad Zahwah al-Tiji, Sayyid Hamid al-Tiji, Syekh Abdul Aziz Kuhail, Syekh Ali al-Dobbagh. Di antara murid beliau adalah Syekh Alwi bin Abbas al-Maliki, Abdullah Ibrahim al-Sudani. Dari jalur Abdullah Ibrahim al-Sudani menurunkan sanad kepada ulama Nusantara: Badawi Kaliwungu (w. 1397 H), Munawwar Sidayu (w. 1364 H), & Anggawi Timnasari Banten.

Upaya yang Dilakukan dalam Melestarikan Transmisi Keilmuan Al-Qur’an

  1. Pesantren & Rumah Tahfiz. Tempat tersebut sebagai salah satu institusi dalam mentransmisi sanad. Mereka menyelenggarakan tahfīẓ, tasmī’, dan ijāzah sanad yang memenuhi standar keilmuan.
  2. Guru Bersanad. Guru atau syaikh yang mengajar tersebut sudah mempunyai sanad yang sah yang diakui (ijāzah). Kesulitan saat ini adah guru tersebut belum tentu memiliki sanad yang jelas dengan kualifikasi yang bagus dalam proses pengajaran Al-Qur’an kepada murid.
  3. Standarisasi Penilaian. Beragam institusi pendidikan memiliki kriteria yang berbeda dalam pemberian sanad dan ijāzah. Hal tersebut mempengaruhi dalam hafalan, bacaan, & setoran tersebut.

Referensi:

Ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. 2009. Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits, Cet-2. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.

Bizawie, Zainul Milal. 2022. Sanad Qur’an dan Tafsir di Nusantara; Jalur, Lajur, dan Titik Temunya. Tangerang Selatan: Pustaka Compass.

Maftuhin, Adhi. 2018. Sanad Ulama Nusantara. Bogor: Sahifa Publishing.

PTQ, Admin. “Perjalanan Sanad Al-Qur’an dari Timur Tengah ke Nusantara.” Pesantren Tahfidz Qur’an Syekh Ali Jaber, 18 September 2025, ptqsyekhalijaber.com/perjalanan-sanad-al-quran-dari-timur-tengah-ke-nusantara/. Diakses Tanggal 13 Februari 2026.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *