Home / Tafsir Kontekstual / Tantangan Fear of Missing Out (FOMO) dan Hedonisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Tantangan Fear of Missing Out (FOMO) dan Hedonisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Hidup di era digital saat ini membawa berbagai keuntungan tetapi juga sebuah tantangan baru. Salah satunya, tantangan yang muncul dalam pesatnya perkembangan media sosial yaitu Fear of Missing Out atau yang sering kita sebut dengan FOMO yang mengakibatkan manusia hidup dengan Hedonisme.  FOMO semakin menjadi sorotan di era digital, terutama di kalangan generasi muda yang aktif di media sosial. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis fenomena FOMO dalam konteks konsumerisme melalui perspektif Islam, merujuk pada QS. Al-Hadid ayat 20: 

Artinya: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya”. 

Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa nilai-nilai Islam seperti kesederhanaan, rasa syukur, dan pengendalian diri dapat menjadi penunjang bagi individu untuk mengatasi kecenderungan konsumtif yang berbahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam pembentukan FOMO, yang dapat memicu perilaku pembelian impulsif dan meningkatkan ketidakpuasan hidup.

Oleh karena itu, pemahaman yang lebih dalam tentang ajaran Islam, khususnya mengenai pengendalian diri diperlukan untuk memperkuat pola konsumsi yang sehat dan bijaksana. Studi ini juga menekankan pentingnya menjaga kekayaan (Hifz al-Mal) sesuai dengan prinsip Maqashid Syariah dalam mengelola perilaku konsumtif (Y Amelia dkk., 2025) 

Selain FOMO, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang terus berkembang, hedonisme juga menjadi alasan tujuan hidup manusia di dunia ini. Hedonisme tidak hanya muncul di kalangan pelajar dan mahasiswa saja, tetapi sudah tampak meluas di berbagai kalangan masyarakat.  

Mayoritas perilaku hedonistik dimulai dari orang-orang kaya yang selalu peduli dengan penampilan dan menikmati hidup sepuasnya dengan bersosialisasi, makan, jalan-jalan dan bersenang-senang dengan orang-orang yang berpikiran sama, yang akhirnya menyebar ke berbagai kelompok masyarakat yang kekurangan kondisi hidup (Malinda, Cindy Nur, 2023). 

Bahkan di era cepat ini, banyak sekali gen-z yang menggunakan media sosial untuk tetap up to date agar tidak ketinggalan trend, berita atau hype. Akan tetapi, penggunaan media sosial yang berlebihan ternyata dapat menimbulkan FOMO. Jenis kecemasan yang disebut FOMO, yang dalam bahasa Turki disebut Gelişmeleri Kaçırma Korkusu (GKK), merupakan konsep penting yang mendasari banyak kerugian tersebut (Fuat Tanhan, Halil Ibrahim Ozok, Volkan Tayiz, 2022). 

Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini banyak brand yang rela membayar mahal satu influencer terkenal yang mempunyai jumlah followers banyak demi satu video promosi pendek, di bandingkan membayar ratusan pekerja biasa yakni masyarakat yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap akses lapangan kerja dengan tenaga kerja nyata. Sehingga hal ini menyebabkan akumulasi modal terpusat pada kelompok elite, sementara kelompok bawah semakin terpinggirkan secara ekonomi. 

Fenomena brand yang lebih memilih membayar mahal seorang influencer dibandingkan ratusan pekerja biasa juga merefleksikan pergeseran logika ekonomi dari kerja material menuju kapital simbolik berbasis popularitas digital. Dalam kerangka psikologi sosial, strategi ini memanfaatkan FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut konsumen tertinggal tren atau kehilangan akses eksklusif, sehingga satu unggahan promosi mampu menciptakan urgensi konsumsi massal.  

Pada saat yang sama, budaya hedonisme yang menekankan pencarian kesenangan instan dan pencitraan gaya hidup glamor menjadikan audiens lebih mudah terpengaruh oleh representasi mewah yang ditampilkan influencer. Kombinasi FOMO dan hedonisme ini menjadikan figur digital bukan sekadar medium promosi, melainkan simbol aspirasi sosial yang bernilai tinggi bagi brand.  

Dengan demikian, fenomena tersebut menegaskan bahwa dalam ekonomi digital, kapital simbolik, visibilitas publik, dan konstruksi gaya hidup lebih dihargai daripada kerja nyata, sekaligus memperlihatkan bagaimana konsumsi modern dibentuk oleh mekanisme psikologis dan budaya populer kontemporer. 

Namun yang menarik, FOMO sebenarnya bukan fenomena baru. Jauh sebelum istilah ini dipopulerkan media sosial, masyarakat sudah mengalami bentuk kecemasan serupa. Bahkan dalam catatan sosial-budaya, manusia selalu berusaha menghindari rasa ‘ketinggalan’ dari kelompoknya. 

“Contohnya, Dulu sewaktu saya kecil saya pernah minta di belikan sepatu roda. Karna pada masa itu semua teman saya punya, dan rasanya setiap mereka main saya selalu di buat iri dan cuma melihat keseruan mereka. Tapi setiap saya minta ke orang tua saya, beliau selalu menolak dengan alasan “jangan bahaya, takut jatuh nanti lecet dan patah tulang!!!”. Disitu saya marah, saya kesel, selalu kabur jika di suruh belajar, pura-pura sedih agar di kasih, se akan-akan sepatu roda tersebut kebutuhan primer. 

Karna orang tua saya mungkin tidak tega melihat saya badmood, akhirnya beliau membelikan saya sesuatu. Tapi saya sedih karna itu bukan barang yang saya mau, Yup sepeda. Orang tua saya malah membelikan saya mainan yang harganya jauh lebih mahal, dan waktu itu jelas bukan yang saya mau. Saya sempat kesal tapi bingung, padahal yang saya minta sebenernya jauh lebih murah dan sederhana. 

Barulah setelah saya tumbuh besar, saya mulai sadar bahwa cara orang tua melihat dunia itu berbeda. Mereka tidak sekadar memenuhi keinginan saya waktu itu, tetapi mereka juga memikirkan apa yang sekiranya bermanfaat untuk anaknya. Bukannya mereka tidak menginginkan saya bahagia, tapi mereka hanya tidak ingin saya memiliki sesuatu yang cuma bikin saya happy sementara tapi akhirnya berbahaya, tidak ada gunanya. 

sekarang saya mengerti bahwa keputusan mereka waktu itu bukan sekedar soal mainan apa yang “keren”, tapi soal apa yang terbaik untuk saya. Dan secara tidak langsung, orang tua saya mengajarkan bahwa hidup itu bukan tentang siapa yang paling keren, tapi tentang siapa yang punya nilai. Mungkin hal ini baru bisa saya pahami setelah saya besar. Tapi satu yang perlu kita tahu, bahwa orang tua sudah memikirkan masa depan kita bahkan sebelum kita faham dengan diri sendiri.

Sejarah mengatakan tidak pernah ada peradaban yang mampu bertahan ketika harta, kemewahan dunia atau hedonisme itu dijadikan tujuan utama. Hal yang harus kita lakukan agar terhindar dari FOMO yaitu memperkuat qana’ah atau rasa cukup, karena ketenangan hidup tidak datang dari kepuasan duniawi, melainkan dari hati yang menerima apa yang Allah beri. FOMO sering muncul saat kita lupa bahwa rezeki sudah ada takarannya dan tidak akan tertukar, sehingga membandingkan diri dengan pencapaian orang lain hanya akan melahirkan iri dan kufur nikmat. 

Islam mengajarkan kita untuk melihat ke bawah dalam urusan dunia agar bersyukur, dan melihat ke atas dalam urusan iman agar terus memperbaiki diri. Selain itu, hidup seharusnya diniatkan untuk meraih ridha Allah, bukan sekadar validasi manusia atau takut tertinggal tren, karena orientasi yang salah hanya membuat hati lelah. Membatasi konsumsi media sosial juga penting, sebab yang ditampilkan sering kali hanyalah highlight kehidupan, bukan realita, sementara menjaga hati adalah bagian dari ajaran Islam.  

Al-Hadid Ayat 20 ini, ditutup dengan satu ketegasan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang akan lenyap dan hilang serta menipu. Orang-orang yang condong kepada dunia akan tertipu dan teperdaya. Mereka menyangka bahwa kehidupan hanyalah di dunia ini, dan tidak ada lagi kehidupan sesudahnya. Pada akhirnya, memperbanyak syukur menjadi kunci utama, karena semakin kita sadar akan nikmat yang ada, semakin kecil keinginan untuk memiliki kehidupan orang lain, dan di situlah ketenangan sejati lahir. 

Referensi

Amelia, Y., Razzaq, A., & Nugraha, M. Y. (2025). Peran Fomo dalam Perilaku Konsumen Terhadap Pembentukan Keputusan Konsumtif Perspektif QS Al Hadid Ayat 20. NAAFI: JURNAL ILMIAH MAHASISWA1(4), 470-479.

Malinda, C. N. (2023). Hedonisme dalam Surat Al-Hadid ayat 20 Studi tafsir Al-Azhar dan Al-Misbah (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *