Kesadaran akan pentingnya menyusui dan peran orang tua dalam mencegah stunting menjadi kunci dalam membangun generasi sehat dan berakhlak. Atas dasar kepedulian itu, diselenggarakan seminar kesehatan bertajuk “Pentingnya Menyusui dalam Perspektif Kesehatan dan Agama serta Peran Orang Tua dalam Menurunkan Angka Stunting.” Kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi perempuan untuk memahami bahwa menyusui bukan sekadar kewajiban biologis, melainkan ibadah dan wujud kasih sayang dalam membentuk generasi yang kuat dan berakhlak.
Acara ini merupakan bentuk kolaborasi antara PAC Fatayat NU Pamulang, Fordaf Fatayat NU, Majelis Taklim Fatimah Zahra, dan Yayasan Madinatul Qur’an El-Syams yang digelar pada Sabtu, 8 November 2025, di PP. Al-Falah Rempoa, Ciputat Timur. Acara dimulai pukul 09.20 WIB dengan menghadirkan tiga narasumber inspiratif: Ibu Nurlelah, S. Kep. (Ketua PAC Fataya NU Pamulang), Erna Sulastri, S.KM. (UPTD Puskesmas Ciputat Timur), dan Nurul Iffatiz Zahroh, M.A. (Pengurus Madinatul Qur’an El-Syams).
Seminar ini diikuti oleh para ibu dan perempuan muda khusunya kader fatayat dan masyarakat umum. Selain mendapatkan wawasan mengenai pentingnya menyusui dan penceghan stunting, para peserta berkesempatan mengikuti cek kesehtan gratis. Suasana keakraban dan antusiasme tampak jelas selama kegiatan berlangsung.
Perspektif Kesehatan: ASI Sebagai Nutrisi Terbaik
Materi pertama disampaikan oleh Nurlelah , S. Kep.,yang merupakan ketua PAC Fatayat NU Pamulang. Beliau menekankan bahwa menyusui bukan hanya proses memberikan ASI, tetapi juga membangun ikatan emosional yang kuat antara ibu dan bayi. ASI merupakan nutrisi terbaik dan paling sempurna bagi bayi karena mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan tumbuh kembang bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ASI mengandung zat gizi seimbang, DHA, dan antibody yang mendukung kecerdasan serta memperkuat imun bayi, melindungi dari alergi, aman dan higenis, serta tidak pernah basi. Ia menutup pemaparannya dengan menekankan pentingnya dukungan bagi ibu menyusui, dari suami, keluarga, dan masyarakat yang berperan besar dalam keberhasilan menyusui.
“Pendampingan seorang suami dan keluarga pasca melahirkan kepda ibu ASI sangat penting demi menjaga mental dari sang ibu, walaupun hanya sebatas teman mengobrol” jelasnya.
Peran Orang Tua dalam Mencegah Stunting
Pemaparan materi dilanjutkan oleh Erna Sulastri, S.KM., yang menjelaskan tentang peran penting orang tua dalam menurunkan angka stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang umumnya terjadi pada periode kritis dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan otak dan kecerdasan anak.
Erna menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan. Orang tua dihimbau untuk memperhatikan asupan gizi ibu hamil serta rutin memeriksakan kesehatan agar perkembangan janin optimal. Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan ASI lanjutan hingga usia dua tahun menjadi langkah penting untuk menjaga tumbuh kembang anak.
Selain itu, para peserta diingatkan untuk memantau pertumbuhan anak secara berkala, memberikan MPASI bergizi tinggi protein, serta menjaga kebersihan dan higienitas lingkungan guna mencegah infeksi yang dapat memperparah resiko stunting.
“Stunting ini sangat penting utuk dicegah karena dalam sepuluh, dua puluh tahun kedepan anak kita akan menjadi penerus bangsa, perlu adanya kolaborasi antara ayah ibu, mungkin dari pemberian makannya yang terjaga kebersihannya” jelasnya.

Menyusui dalam Perspektif Agama dan Peran Pengasuhan Orang Tua
Sesi materi terakhir disampaikan oleh Nurul Iffatiz Zahroh, M.A. Ia memberikan sudut pandang keagamaan mengenai pentingnya menyusui dalam Islam. Dalam penelitiannya, ia menjelaskan bahwa istilah menyusui dalam bahasa Arab di sebut dengan radha’ah, dan terdapat sedikitnya delapan ayat Al-Qur’an yang menyinggung hal ini. Salah satunya terdapat dalam Firman Allah:
وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۗ
Artinya: “Dan para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233).
Ayat ini menunjukan perhatian khusus Allah terhadap pemenuhan gizi bayi melalui ASI. Menurutnya, kandungan ayat tersebut menegaskan dua hal penting: Pertama, jaminan terpenuhinya kebutuhan gizi anak sebagai hak dasar setiap bayi. Kedua, anjuran bagi para ibu untuk menyusui sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawab moral.
Dalam pandangan para ulama tafsir dan fikih, hukum menyusui memiliki beberapa perbedaan. Imam Qurthubi (Ulama Tafsir) menilai bahwa menyusui hukumnya wajib bagi sebagian perempuan dan Sunnah bagi sebagian lainnya. Sementara menurut Imam Syafi’I (ulama fikih), ibu kandung wajib menyusui bayinya terutama pada masa awal kelahiran. Jumhur ulama berpendapat bahwa menyusui merupakan perintah yang bersifat sunnah, namun menjadi wajib jika tidak ada alternatif lain yang dapat menggantikan ASI.
Zahroh menegaskan bahwa agama tidak memaksa perempuan dalam hal menyusui, sebab kewajiban ini bersifat moral, bukan formal. “perempuan tidak boleh dipaksa untuk menyusui, karena agama tidak memaksa. Kewajiban menyusui menurut agama bukan bersifat formal tetapi kewajiban yang bersifat moral kemanusiaan”.
Ia pun mengingatkan pentingnya peran suami dalam mendukung proses menyusui, baik secara ekonomi maupun emosional. Bahkan dalam konteks penceraian, seorang ayah tetap berkewajiban menanggung nafkah bagi ibu dan bayi selama masa menyusui.
Kemudian, ditegaskan pula mengenai menyusui selama dua tahun sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an adalah bentuk pengakuan atas hak setiap anak terhadap ASI. Oleh karena itu, isu stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah sebagian dari kerjasama pengasuhan. “Menyusui merupakan bagian dari ibadah dan termasuk dalam salah satu tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah) yakni ḥifẓ al-nafs” tegasnya.

Dengan demikian, seminar ini menjadi refleksi penting bahwa menyusui bukan sekadar urusan kesehatan, tetapi juga bagian dari ajaran agama dan nilai kemanusiaan. Melalui kolaborasi antar tenaga kesehatan, lebaga keagamaan, dan peran aktif keluarga, diharapkan kesadaran tentang pentingnya ASI dan pencegahan stunting semakin meluas. Dengan demikian, generasi mendatang dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat dan cerdas.









