Self confident artinya percaya diri, yaitu suatu keyakinan positif dalam diri seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas, maupun menghadap situasi tertentu. Self confident memiliki fungsi fundamental untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Orang yang memiliki kepercayaan diri, maka ia memiliki keberanin untuk mengaktualisasikan dirinya di masyarakat, ia akan tampil apa adanya tanpa menonjol-nonjolkan kelebihan serta menutup-nutupi kekurangannya.
Ironisnya, seringkali individu tidak merasa percaya diri (pe-de) karena beberapa faktor, seperti rasa trauma karena kegagalan bahkan karena salah persepsi dalam memandang diri sendiri. Dalam Al-Qur’an, self confident tidak disebut secara leksikal dengan sebutan tsiqah al-Nafs (sebagai terjemahan dari percaya diri). Namun terdapat beberapa ayat yang mengindikasikan sikap percaya diri, seperti larangan untuk takut, lemah, sedih, khawatir, dan gelisah.
QS. Ali Imran ayat 139 merupakan salah satu ayat yang secara eksplisit menyebut larangan untuk bersikap lemah dan sedih. Dalam artikel ini, penulis ingin mengkaji self confident berdasarkan penafsiran Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya yaitu al-Tahrir wa al-Tanwir, sebuah tafsir yang dianggap tidak terlalu jlimet, dan memiliki keunggulan dalam hal pengungkapan makna-makna tersirat yang seringkali tidak terpikir oleh para mufassir lainnya.(Husnul, 2019: 250)
Penafsiran Ibnu Asyur terhadap Q.S ali-Imran ayat 139
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
Artinya: Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin
Ibnu Asyur menjelaskan bahwa lafal wahn (kelemahan) pada ayat tersebut memiliki makna majazi, yaitu rapuhnya tekad, lemahnya kehendak, berubahnya harapan menjadi keputusasaan, keberanian menjadi ketakutan, dan keyakinan menjadi keraguan. Adapun kesedihan h}uzn (kesedihan) adalah rasa duka yang sangat mendalam, hingga mencapai tingkat kemurungan dan keterpurukan.
Larangan bagi orang mukmin akan dua sikap tersebut (wahn dan h}uzn)tidak semata-mata ditujukan pada kondisi emosional, melainkan pada sebab yang mendasarinya, yaitu cara pandang dan keyakinan yang keliru terhadap kekalahan dan musibah, terutama keyakinan yang meniscayakan kekalahan sebagai kegagalan mutlak. (Ibnu Asyur, 227-228)
Selanjutnya, pernyataan “kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman” merupakan kabar gembira tentang kemenangan dan kemuliaan orang mukmin di masa depan. Lafal ‘a’lawna pada ayat tersebut mengandung unsur majaz, yaitu ketinggian derajat dan kedudukan.
Adapun pengaitan janji tersebut dengan syarat beriman tidak dimaksudkan untuk meragukan keimanan kaum mukmin. Melainkan sebagai penguatan untuk membangkitkan gairah dan semangat mereka dalam mempertahankan keimanan yang sempat melemah akibat kekalahan. Maka seakan-akan dikatakan kepada mereka: jika kalian benar-benar mengetahui dalam diri kalian adanya iman. Digunakannya kata syarat in (yang secara asal menunjukkan kemungkinan dan belum tentu terwujud) semakin menguatkan maksud tersebut, yaitu untuk menggugah dan meneguhkan kembali semangat keimanan mereka. (Ibnu Asyur, 227-228)
Korelasi antara Self Confident, Keimanan dengan Kesuksesan pada Masa Depan
Self confident memiliki keterkaitan dengan kesuksesan, tidak dapat disangkal bahwa ia adalah bekal utama dalam menghadapi tantangan hidup. QS Ali Imran dikategorikan sebagai ayat tentang percaya diri, karena berkaitan dengan sifat dan sikap seorang mukmin, yaitu tidak lemah dan tidak pula sedih. Latar belakang turunnya ayat ini adalah, munculnya ketakutan umat Islam akibat kekalahan pada perang Uhud, ayat ini diturunkan untuk menghibur mereka dengan menjanjikan mereka kemenangan yang lebih besar pada perang berikutnya. (Achmad, 2019:77)
Dalam Islam, self Confident tidaklah bersumber dari gambaran tubuh (body image) dan gambaran sosial (sosial image) semata. Melainkan bersumber dari keimanan kepada Allah swt, serta kepercayaan akan janjinya, dengan demikian, tampak jelas bahwa self confident memiliki keterkaitan dengan keimanan.(Nur Huda, 2016:74)
Dalam kehidupan, kegagalan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang negatif dan harus dihindari, realitanya ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses menuju kesuksesan. Kegagalan bukanlah hambatan yang menghentikan perjalanan, seharusnya ia menjadi sumber pelajaran yang berharga, dan kesempatan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Maka dari sinilah diperlukan adanya percaya diri bahwa kesuksesan akan didapatkan setelah adaya kegagalan.(Gilang, 2025: 160)
Orang yang percaya diri mempunyai perasaan yang teguh pada pendiriannya, tabah apabila menghadapi masalah, kreatif dalam mencari jalan keluar dan ambisi dalam mencapai sesuatu. Percaya diri akan timbul pada setiap individu jika ia memiliki pikiran yang positif, pandangan yang baik terhadap dirinya, ia mengetahui potensinya, kekuatan akal, dan juga kelemahannya.
Korelasi antara self confident dan kesuksesan masa depan terletak pada orientasi dan ketahanan yang dibangun oleh iman. Kepercayaan diri yang berbasis keimanan mendorong individu untuk berikhtiar secara maksimal tanpa terjebak pada kecemasan berlebihan terhadap hasil, sebab ia menyandarkan akhir segala usaha kepada Allah.
Dalam pandangan ini, kesuksesan tidak hanya dipahami sebagai capaian material, tetapi juga keberhasilan menjaga menjaga akhlak dan tetap konsisten dalam menjalankan nilai-nilai agama. Individu yang beriman dan memiliki kepercayaan diri akan memandang tantangan sebagai bagian dari sunnatullah dalam kehidupan, kegagalan sebagai perantara menuju kesuksesan, sehingga masa depan tidak dipenuhi ketakutan, melainkan harapan yang realistis dan produktif. Dengan demikian, iman menjadi fondasi, self confident menjadi energi psikologis, dan kesuksesan menjadi implikasi logis dari sinergi keduanya.
Referensi
Asyur, Muhammad Thahir Ibn, Tafsir Tahrir wa al-Tanwir Jilid 3 (Thab’ah Jadidah Munaqqahah wa Mushahahah: Lebanon, tt).
Hakim, Husnul, Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir (Jakarta: Penerbit: Elsiq, 2019).
Huda, Nurul, Konsep Percaya Diri Dalam Al-Qur’an Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Bangsa, Inovatif: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, dan Kebudayaan, Vol.02, No.02, (September, 2016).
Rahardi, Gilang Tris, Unlock Your Confidence: Menemukan Kekuatan Diri Untuk Meraih Hidup Yang Lebih Berarti (Jombang: Detak Pustaka, 2025).









