Home / Tafsir & Isu Kemanusiaan / Pentingnya Tabayyun dan Etika dalam Bermedia Sosial Berdasarkan QS. Al-Hujurat Ayat 6 dan 13

Pentingnya Tabayyun dan Etika dalam Bermedia Sosial Berdasarkan QS. Al-Hujurat Ayat 6 dan 13

Dengan semakin berkembangnya era digital, teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kemajuan yang begitu cepat ini telah mengubah cara manusia memperoleh dan menyebarkan informasi. Saat ini, berbagai jenis informasi bisa dengan mudah dan cepat menyebar melalui media sosial seperti grup WhatsApp, Instagram, Twitter (X), dan platform digital lainnya. Bahkan, kecepatan penyebaran informasi terkadang melebihi kemampuan masyarakat untuk memeriksa kebenarannya.

Teknologi secara tidak langsung memungkinkan manusia untuk mengetahui berbagai peristiwa, baik yang sudah terjadi maupun yang sedang berlangsung. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana memastikan bahwa informasi yang diterima benar-benar valid, bukan sekadar berita palsu. Hal ini disebabkan oleh karena internet masih memberi ruang bebas bagi penyebaran informasi tanpa melalui proses penyaringan yang ketat. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kasus penyebaran berita palsu di Indonesia.

 Menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) tahun 2024, telah tercatat sebanyak 1.923 kasus hoaks yang beredar di ruang digital. Fenomena ini menyebabkan berbagai dampak negatif, tidak hanya terhadap individu, tetapi juga memengaruhi masyarakat secara luas, seperti terjadinya kesalahpahaman, konflik sosial hingga perpecahan antar kelompok (My Love Faizah Putri et al., 2024). Selain itu, rendahnya tingkat literasi informasi di Indonesia juga menjadi faktor utama yang menyebabkan masyarakat mudah menerima dan menyebarkan berita tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Salah satu contoh nyata dari fenomena ini adalah beredarnya potongan video Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebutkan “guru merupakan beban negara.” Potongan video tersebut dengan cepat menjadi viral dan memicu berbagai kontroversi di tengah masyarakat. Banyak pihak langsung memberikan komentar negatif dan hujatan tanpa memeriksa konteks pernyataan secara menyeluruh.

Padahal, setelah dianalisis lebih lanjut, potongan video tersebut tidak mencerminkan maksud pernyataan yang sebenarnya alias editan dari AI (baca, Komdigi, agustus 2025). Peristiwa ini menunjukkan bagaimana rendahnya sikap tabayyun dalam menerima informasi, sehingga berita yang belum terbukti kebenarannya dengan mudah dapat menimbulkan kesalahpahaman dan kegaduhan di ruang publik.

            Oleh sebab itu, dalam bermedia sosial, kita harus memperhatikan nilai dan etika dalam bermedia sosial, dalam al qur’an telah disebutkan bagaiman pentingnya konsep tabayyun agar kita dapat terhindar dari dampak negatif dan lebih bisa menggunakan media sosial dengan bijaksana.

 Tabayyun Berdasarkan Surah Al Hujurat Ayat 06

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ 

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

Tabayyun meruapakan asal kata dari bahasa Arab tabayyunan, yang merupakan bentuk masdar dari bayyana, yang berarti tampak, terang atau jelas. Sedangkan menurut istilah ialah berusaha seacara berhati-hati dalam mengkonsumsi sebuah berita, dengan cara menaganalisis atau mencari kebenaran terhadap suatu berita, untuk mendapatkan kejelasan darinya sehingga terhindar dari hoax.

Asbabun nuzul ayat ini menurut jumhur ulama tafsir, berkaitan dengan salah satu sahabat Rasulullah SAW bernama Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengumpulkan zakat dari pada mustahik-mustahik zakat Bani Musthaliq, yang mana pada sat itu Al-Walid bin Uqbah Kembali dengan tidak melakukan perintah rosul, dikarenakan ia menduga atau curiga akan dibunuh. Namun Rasulullah mengutus ia kembali untuk mencari kebenaran infromasi yang ia dapat. Kemudian setelah melakukan penyelidikan, ternyata informasi yang ia dapat salah. Lalu turunlah ayat ini.

Dengan demikian, ayat menjadi bukti bahwa menerapkan sikap tabayyun meupakan perintah dari Allah swt yang harus kita laksanakan sebagai bentuk etika dan moral dalam bermedia sosial. Hal ini sejalan dengan pandangan ibnu katsir, tabayyun adalah akhlak terpuji yang harus dilakukan ummat islam utuk dapat mempertanggungjwabkan informasi yang diterima dan disebarkan.

Etika Berkomunikasi dalam Bermedia Sosial Prespektif Al-Hujurat Ayat 13

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ 

Dalam Sofwatut Tafasir jilid 3 halaman 235, Syekh Imam Ali As-Shobuni menjelaskan

اجتنبوكثيرا من الظن اي ابتعدوا عن التهمة  واساءة الظن

Jauhilah dugaan, tuduhan, dan prasagka buruk.

و لا تجسسوا اي لا تبحثوا عن عورات المسلمين

Janganlah mencari cari kesalahan orang lain.

و لايغتب بعضكم بعضا اي لا يذكر بعضكم بعضا بالسوء في غيبته

Dan janganah menggunjing keburukan orang lain.

Menurut James, J Spillane Etika “Etika adalah mempertimbangkan dan memperhatikan tingkan laku manusia dalam mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan moral, yang mana lebih mengarah pada penggunaan akal budi manusia untuk menentukan benar atau salah

Dengan demikian, ayat tersebut memberikan pelajaran kepada kita semua dengan mengaca pada kasus Sri Mulyani untuk selalu memperhatikan nilai etika dan moral dalam berkomunikasi menggunakan media sosial. Sebab, disamping memiliki banyak manfaat, seperti mudahnhya berkomunikasi antar belahan dunia, tersebarnya konten dakwah dengan cepat tak terkendala, bahkan media rapat tanpa perlu bertatap muka. media sosial juga tidak sedikit mudhorotnya yang menimbulkan kerugain bagi diri sendiri dan orang lain.

Kesimpulan

Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6 dan 13 memberikan pesan penting bagi umat Islam dalam menggunakan media sosial. Konsep tabayyun mengajarkan kita untuk selalu memverifikasi kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya, agar tidak terjebak oleh berita palsu atau kesalahpahaman.

Di sisi lain, etika komunikasi mengingatkan kita untuk menjaga sikap baik, tidak mengambil kesimpulan buruk, tidak menggossip, dan memperlakukan orang lain secara adil. Meskipun media sosial memberikan banyak kemudahan, seperti komunikasi cepat, menyampaikan pesan agama, dan menjalani rapat jarak jauh, penggunaannya yang tidak bijak bisa menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, menerapkan prinsip tabayyun dan etika merupakan tanggung jawab moral dan sosial yang mendukung interaksi digital yang harmonis, aman, dan bertanggung jawab.

Referensi:

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2024). Laporan penanganan hoaks di ruang digital Indonesia. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Digital RI

Putri, M. L. F., et al. (2024). Dampak penyebaran hoaks terhadap kesalahpahaman dan perpecahan sosial di era digital. Jurnal Komunikasi dan Literasi Digital, 5(2), 45–58.

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Klarifikasi video manipulatif yang beredar di media sosial. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Agustus 2025

Gunawan. (2016). Tabayyun dalam Al-Qur’an (Kajian taḥlīlī terhadap QS al-Ḥujurāt/49:6) (Skripsi sarjana, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).

Al-Shabuni, Muhammad ‘Ali. Ṣafwat al-Tafāsīr. Jilid 3. Beirut: Dār al-Qur’ān al-Karīm, t.t.

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *