Home / Metodologi Al-Quran dan Tafsir / Pemikiran Qira’at KH. Ahsin Sakho Muhammad dalam Kitab Manba’ al-Barakat fi Sab’i al-Qira’at

Pemikiran Qira’at KH. Ahsin Sakho Muhammad dalam Kitab Manba’ al-Barakat fi Sab’i al-Qira’at

Tulisan ini membahas pandangan Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Lc., M.A., al-Hafizh, seorang ulama dalam bidang qira’at yang terkenal di Indonesia, khususnya terhadap karyanya yang berjudul Manba’ al-Barakat fi Sab‘i al-Qira’at. Buku ini menyajikan ilmu membaca Al-Qur’an (qira’at sab‘ah) secara terstruktur dan mudah dipahami oleh santri serta mahasiswa.

Ilmu qira’at adalah bagian dari ilmu yang mempelajari Al-Qur’an, khususnya tentang cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan cara yang diwariskan dari para imam qurra’ (orang yang ahli dalam membaca Al-Qur’an) melalui sanad yang sahih dan mutawatir hingga kepada Nabi Muhammad SAW.

Secara etimologis, kata qira’at berasal dari kata qara’a-yaqra’u yang berarti membaca. Secara terminologis, menurut al-Zarkasyī dalam bukunya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, qira’at berarti: “Perbedaan dalam cara mengucapkan kata-kata Al-Qur’an yang diriwayatkan dengan sanad sahih dari Nabi Muhammad SAW baik dalam hal huruf, tanda baca, penambahan, pengurangan, atau cara pelafalannya.”

Di Indonesia, perkembangan ilmu qira’at mengalami kemajuan signifikan melalui peran tokoh ulama dan akademisi yang secara mendalam meneliti sanad bacaan. Salah satu tokoh utama di generasi kontemporer adalah Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, lulusan Universitas Islam Madinah, mantan Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dan Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau dikenal luas sebagai pakar tafsir dan ahli sanad qira’at sab‘ah yang memiliki pengaruh besar dalam kancah nasional, khususnya dalam bidang tafsir.

Di antara karya monumentalnya adalah kitab Manba’ al-Barakat, sebuah karya yang sangat berharga, yang menunjukkan komitmen beliau dalam melestarikan dan mengembangkan ilmu qira’at di Indonesia. Buku ini tidak hanya menggambarkan kecendekiaan akademiknya, tetapi juga mengandung semangat dakwah serta pengajaran yang sangat relevan dengan konteks masyarakat muslim saat ini.

Kitab ini disusun sebagai panduan praktis untuk memahami tujuh qira’at utama, yaitu riwayat dari Nafi‘, Ibn Kathir, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, dan al-Kisa’i. Tujuannya adalah memudahkan para pelajar dalam mempraktikkan berbagai cara bacaan secara sistematis dan terukur, bukan hanya sekadar menghafal perbedaan teori antar qira’at.

Berbeda dengan karya sebelumnya, seperti al-Syatibiyyah, buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana dan menggunakan sistem penandaan warna atau simbol untuk membedakan cara bacaan. Setiap ayat disajikan secara lengkap, dan pada bagian tertentu diberikan penjelasan mengenai perbedaan bacaan yang ada.

Metode Jam’ al-Qira’at: Menggabungkan Variasi Bacaan

Salah satu konsep utama dalam kitab ini adalah jam’ al-qira’at, yaitu cara membaca Al-Qur’an dengan menggabungkan berbagai bacaan (riwayat) secara berurutan dalam satu sesi tilawah (Asy’ari, 2019). Tujuan dari metode ini adalah agar pembaca dapat mengenali dan menguasai semua variasi bacaan secara mudah.

Dalam praktiknya, KH. Ahsin menekankan tiga prinsip utama: Pertama, tertib (urutan): Pembacaan dimulai dari qira’at yang paling umum digunakan (biasanya dari riwayat Hafs ‘an ‘Asim), kemudian dilanjutkan ke qira’at lainnya secara teratur. Kedua, tafarruq (pemisahan): Setiap variasi bacaan diberi jarak yang jelas agar pelajar tidak keliru saat memadukan huruf atau harakat. Ketiga, tajrid (kemurnian sanad): Setiap bacaan harus dilakukan sesuai dengan sanad yang sahih dan tidak boleh dicampurkan secara sembarangan.

Konsep ini sebenarnya sudah ada dalam tradisi qira’at secara global, tetapi KH. Ahsin berhasil mengadaptasikannya ke dalam sistem pendidikan pesantren di Indonesia. Di berbagai lembaga pendidikan Al-Qur’an, metode jam’ al-qira’at versi beliau telah menjadi bagian dari kurikulum praktik qira’at dan talaqqi tingkat lanjutan.

Seperti yang dijelaskan dalam penelitian Nafisah, Auliya, & Muafi (2024), pendekatan KH. Ahsin menunjukkan kombinasi yang unik, disusun berdasarkan urutan mushaf, mulai dari Juz 1. Setiap ayat yang memiliki perbedaan bacaan diberi tanda visual berupa warna tertentu dan dilengkapi penjelasan singkat di bawahnya. KH. Ahsin menghindari penjelasan yang terlalu panjang tentang teori fonetik Arab klasik, dan lebih memilih menjelaskan secara praktis, seperti bagaimana cara membacanya, siapa imam bacaannya.

Karena itu, beberapa ciri khas kitab ini antara lain: Pertama, sistematika visual, yaitu menggunakan warna atau simbol untuk menandai qira’at tertentu. Kedua, konsistensi sanad: setiap perbedaan dikaitkan langsung dengan imam qira’at dan rawi-nya. Ketiga, praktis: lebih menekankan cara membaca daripada pembahasan linguistik. Keempat, kesederhanaan bahasa: mudah dipahami oleh mahasiswa dan pelajar pada umumnya. Model ini menjadikan Manba’ al-Barakāt sebagai modul pembelajaran qira’at yang efisien.

Dimensi Pendidikan dan Dakwah

Sebagai seorang pendidik dan da’i, KH. Ahsin menempatkan qira’at sebagai sarana untuk membangun keimanan dan karakter peserta didik. Baginya, pembelajaran qira’at harus mampu menciptakan adab terhadap Al-Qur’an, yaitu sikap rendah hati dan ketekunan dalam berzikir. Para santri tidak hanya diajarkan cara membaca Al-Qur’an, tetapi juga diberi kesempatan untuk mengeksplorasi perbedaan dalam bacaan, serta memahami makna yang dikandungnya. Pendekatan ini terbukti berhasil dalam membentuk generasi huffaz yang tidak hanya hafal tetapi juga memiliki keragaman bacaan dan pemahaman yang baik terhadap Al-Qur’an.

Referensi

Asy’ari, Ista Hamida Kusuma. “Pemikiran Qiraat Dr. Kh. Ahsin Sakho Muhammad.” Phd Diss., UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2019.

Nafisah, Iklil, Mikhlathul Auliya, and Hamdan Muafi. “Pemikiran Dakwah Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad, Lc MA. Al Hafizh.” Journal of Islamic Communication Studies 2, no. 1 (2024): 12-19.

Al-Zarkasyī, Badr al-Dīn Muḥammad ibn ‘Abd Allāh. Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Edited by Muḥammad Abū al-Faḍl Ibrāhīm. Cairo: Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *