Home / Al-Quran & Generasi Muda / Overthinking Culture di Era Digital dan Solusi Spiritual dari Al-Qur’an

Overthinking Culture di Era Digital dan Solusi Spiritual dari Al-Qur’an

Seperti yang kita ketahui, perkembangan teknologi dan media sosial dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah cara manusia berinteraksi, mencari informasi, serta membentuk identitas diri, terutama bagi kalangan generasi muda. Keberadaan ponsel pintar, aplikasi media sosial, dan akses informasi yang mudah memungkinkan aliran data, pendapat, dan harapan sosial terus berlangsung. Dari situ, muncul fenomena yang semakin sering terjadi, yaitu overthinking.

Overthinking ialah kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan berbagai hal, seperti mengulang pengalaman masa lalu, mempertanyakan masa depan, atau memproyeksikan skenario terburuk secara berulang. Di era digital ini overthingking tidak hanya terkait dengan kebiasaan introspeksi, tetapi juga berpotensi menyebabkan beban mental yang membuat seseorang merasa lelah.

Banyak pengguna media sosial yang melaporkan perasaan membandingkan diri dengan orang lain, ketakutan akan penilaian sosial, serta standar kesempurnaan yang tampak di berbagai platform. Hal-hal ini menjadi pemicu munculnya overthinking. Dampaknya bisa berkembang hingga menyebabkan penurunan produktivitas, kesulitan berkonsentrasi, hingga stres, kecemasan, dan ketidakstabilan emosional.

Namun bagi para muslim, khususnya generasi Muslim, overthinking tidak selalu harus dianggap sebagai masalah psikologis modern. Dalam Islam, terutama melalui Al-Qur’an, terdapat prinsip-prinsip yang bisa menjadi sumber ketenangan batin serta solusi untuk mengatasi kegelisahan pikiran. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ar-Ra’du ayat 28,

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Dalam surah Ali Imran ayat 139 juga ditegaskan bahwa sejatinya orang-orang yang yakin dan bersandar kepada Allah tidak akan merasa bersedih hati apalagi berputus asa.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.

Penelitian ilmiah kontemporer juga mulai mengeksplorasi integrasi antara spiritualitas Islam dan kesehatan mental sebagai pendekatan yang holistik. Salah satu penelitian terbaru, yaitu “Analisis Peran Mindfulness Islami dalam Mengatasi Overthinking pada Remaja Gen Z”, menunjukkan bahwa praktik “mindfulness Islami” yang merupakan gabungan antara kesadaran penuh (mindfulness) modern dengan praktik tradisional Islam seperti dzikir, tafakkur, dan muhasabah, terbukti efektif dalam membantu remaja Gen Z yang mengalami overthinking.

Pemikiran Islam juga mengemukakan konsep seperti tawakkal, kesabaran, dan ridha sebagai cara untuk menenangkan perasaan cemas dan pikiran yang terlalu aktif. Contohnya, dalam penelitian “Menangani Overthinking Dengan Mindfulness Therapy” yang menerapkan teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) pada siswa SMA, terlihat bahwa latihan mindfulness membantu siswa lebih konsentrasi pada saat ini, mengurangi kegelisahan, serta mengurangi kecenderungan berpikir berlebihan.

Dari beberapa penelitian tersebut, dapat kita ketahui bahwa budaya overthinking di era digital bukan hanya sekadar masalah psikologis, tetapi juga merupakan tantangan eksistensial dan spiritual khususnya bagi generasi muda muslim. Maka dari itu solusi yang paling tepat adalah menggabungkan kesadaran modern mengenai kesehatan mental, seperti mindfulness atau terapi psikologis, dengan praktik spiritual dalam agama Islam, seperti dzikir, tawakkal, tafakkur, dan membaca Al-Qur’an.

Fenomena berpikir berlebihan pada generasi muda khususnya pada generasi Z di era digital merupakan realitas yang rumit, yang melibatkan berbagai aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Dengan pendekatan yang menyeluruh, yang menggabungkan pengetahuan psikologi modern serta nilai-nilai Islam dari Al-Qur’an, diharapkan berpikir berlebihan bukan hanya dihilangkan, tetapi diubah menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran diri, ketenangan batin, serta pertumbuhan spiritual yang lebih matang.

Referensi:

Satriya Dimas. (2025, 30 Juli) “Overthinking Culture: Antara Produktivitas dan Kelelahan Mental di Era Digital” Diakses pada  https://www.kulturnativ.com/dunia-psikologi/7015629135/overthinking-culture

Raihan,M. A, Zidan,W. P (2024) Dampak Buruk Overthingking Bagi Remaja. Journal of Islamic Studies.

Nurwahidin. M, Sofia. A, Mujiyati, Dayu, R. P (2025) Analisis Peran Mindfulness Islami dalam Mengatasi Overthinking pada Remaja Gen Z. Journal of Islamic Communication and Broadcasting.

Tag:

3 Komentar

  • Tulisan tersebut sudah berhasil mengaitkan fenomena overthinking dengan konteks spiritual Islam, namun masih menyisakan beberapa celah analitis. Pertama, pembahasan tentang peran teknologi seolah menempatkan media digital sebagai penyebab utama overthinking, padahal faktor psikologis seperti pola asuh, trauma, dan regulasi emosi juga berperan besar dan ini belum diulas secara seimbang. Kedua, integrasi antara konsep mindfulness modern dan praktik dzikir atau tafakkur memang menarik, tetapi perlu argumentasi lebih kuat agar tidak terkesan sekadar menyandingkan dua konsep tanpa menjelaskan batasan epistemologisnya: apakah mindfulness Islami benar-benar metodologis atau hanya adaptasi spiritual? Ketiga, ajakan untuk kembali pada Al-Qur’an sebagai solusi spiritual sudah tepat, tetapi tulisan kurang menyinggung tantangan implementasi pada Gen Z yang pola pikirnya kritis, cepat bosan, dan cenderung pragmatis; sehingga solusi tersebut berpotensi terdengar idealis tanpa strategi konkret. Dengan memperkuat sisi analitis ini, gagasan integrasi psikologi modern dan spiritualitas Islam akan lebih kokoh dan relevan bagi pembaca muda.

  • Tulisan menginspirasi generasi muda muslim dan gen z yang terkadang terlalu ambisius dalam kehidupan dan sering mencari solusi ke tempat yang tidak tepat. Al Qir’an memberikan solusi terbaik melalui dzikir tafakur dan muhasabah dalam mengatasi overthinking

  • Widi Moenadi 🥀
    Balas

    Sosial media barangkali salah satu yang memberikan dampak besar untuk orang menjadi OVT, selain faktor psikologis, trauma masa lalu, atau kualitas lingkungan hidupnya.

    Untuk era saat ini Handphone adalah hal penting bagi manusia. Dimana setiap manusia mempunya sosial media untuk berinteraksi dan mencari informasi.
    Namun maraknya orang makin membandingkan, mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, bahkan ketakutan dalam angan yang berandai-andai, faktor pemicu karena oknum oknum yang seringkali membuat konten tontonan yang tidak bermanfaat dan kita yang menjadikan sosial media adalah panggung mereka dengan tetap menonton, memberikan like, atau bahkan subscribe/follow.

    Jadi untuk kedepannya apakah OVT ini bisa kita ubah dalam hal yang positif ? bisa. Untuk setiap orang mempunyai sikap tidak memberikan ruang untuk tontonan yang sekiranya tidak memberikan dampak baik bagi seseorang dengan melaporkan konten” yang tidak mendidik. Dan ini perlu extra untuk mengajak supaya terjadi kesadaran psikologis

    Sosial media itu bekerja berdasarkan minat, aktivitas, dan interaksi pengguna, dengan menggunakan algoritma yang menganalisis akun yang diikuti, konten yang disukai, dan jenis postingan yang sering dilihat. Maka perkuat konten” islami dengan cara yang modern dan mudah untuk di pahami mengikuti perkembangan zaman.

    OVT mungkin ada baiknya, yang tidak baik apabila berlebihan atau sampai membahayakan. Karna manusia perlu melakukan manajemen resiko salah satunya OVT bisa di pakai dalam hal ini. Dan Al-Quran adalah hal yang dapat dijadikan batasannya untuk tetap tenang dan tawakal.

    Tulisannya menarik, namun pembahasannya bisa lebih luas lagi. Karna untuk membahas OVT sangat banyak kaitannya dengan banyak aspek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *