Home / Tafsir Kontekstual / Menjadi Pendidik Sejati, Bukan Sekadar Pengajar: Pesan QS. An-Nahl 43–44

Menjadi Pendidik Sejati, Bukan Sekadar Pengajar: Pesan QS. An-Nahl 43–44

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: siapakah guru yang ideal di zaman ini, zaman ketika siswa lebih mendahulukan bertanya ke Google daripada mengangkat tangan di kelas? Atau, apakah masih ada ruang bagi seorang pendidik di tengah dunia yang serba kecerdasan buatan, yang seolah-olah menggantikan peran manusia dalam menjawab segala sesuatu?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menjadi refleksi penting di tengah perubahan besar dalam dunia pendidikan saat ini. Generasi sekarang menjadi generasi yang paling cerdas di era digital, tetapi di sisi lain sering kali merasakan kekosongan makna. Dalam situasi seperti ini, peran seorang guru tidak lagi bisa dibatasi sebagai pengajar yang hanya berada di depan kelas. Guru yang sejati diharapkan menjadi penuntun kesadaran, bukan hanya penyampai pengetahuan.

Menariknya, Al-Qur’an telah lama menyentuh hal ini dalam Surah An-Nahl ayat 43–44.

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِۗ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Kami mengutus mereka dengan (membawa) bukti-bukti yang jelas (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan aż-Żikr (Al-Qur’an) kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.

Dua ayat tersebut menyampaikan pesan mengenai makna pendidikan dalam pandangan Islam. Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk belajar, tetapi juga menjelaskan kepada siapa seharusnya belajar, yaitu kepada orang-orang yang berilmu dan sadar akan nilai ilmu tersebut. Kata “dzikr” dalam konteks ini bukan hanya berarti mengingat Allah secara ritual, tetapi juga mencakup kesadaran batin yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kebenaran.

Maka, guru yang sejati bukan hanya mereka yang memiliki banyak pengetahuan, melainkan mereka yang hidup dalam kesadaran ilahiah. Mereka adalah orang-orang yang mampu menghubungkan antara teks dan konteks, antara wahyu dan kehidupan manusia. Mereka mengajar bukan hanya apa yang tertulis, tetapi juga apa yang harus dihayati.

Rasulullah SAW dalam hal ini merupakan teladan pendidik yang sejati. Karena itu, guru bisa disebut sebagai penerus tugas kenabian. Ia tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan hikmah dan nilai-nilai. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah: Apakah cara mengajar kita hari ini masih mewarisi cara mendidik Rasulullah? Atau justru kita terlalu sibuk mengejar kurikulum, target nilai, dan administrasi, sementara semangat pendidikan itu sendiri perlahan berkurang?

Generasi saat ini menuntut metode belajar yang baru. Mereka tidak bisa diajar dengan cara lama yang kaku. Mereka tidak tertarik pada ceramah yang panjang, tetapi lebih mudah tergerak oleh contoh nyata. Mereka tidak ingin diajari secara paksa, tetapi ingin diajak berpikir bersama. Mereka tidak menolak nilai-nilai, tetapi ingin nilai itu hadir dengan cara yang relevan dan mampu menyentuh kehidupan mereka.

Pendidik sejati, sebagaimana tergambar dalam Surah An-Nahl memiliki keistimewaan. Salah satunya, ia adalah orang yang selalu mengingatkan dan menghiasi pengetahuan dengan kesadaran. Ia tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menampilkan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap pelajaran yang diberikan.

Inilah perbedaan dasar antara seorang pengajar dan seorang pendidik. Pengajar hanya menyelesaikan materi yang diajarkan. Pendidik lebih fokus pada pengembangan manusia secara keseluruhan. Namun, menjadi seorang guru di zaman sekarang bukanlah hal yang mudah. Dunia telah berubah secara drastis. Teknologi membuat pengetahuan semakin mudah diperoleh, tetapi sekaligus menciptakan ilusi bahwa semua orang sudah paham segalanya.

Lalu, bagaimana posisi guru ketika murid memiliki akses ke berbagai sumber informasi pengetahuan yang banyak? Jawabannya bukan terletak pada seberapa banyak pengetahuan yang harus dimiliki guru, tetapi pada seberapa dalam ia memahami dan menanamkan makna di dalamnya.

Guru kini bukan lagi menjadi “sumber utama informasi”, tetapi menjadi “penyaring makna.” Guru harus hadir sebagai pelita yang memandu manusia agar tidak tersesat di tengah derasnya arus informasi. Pendidikan Islam selalu menempatkan guru sebagai tokoh moral dan spiritual. Ia tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga membentuk karakter.

Dalam konteks ini, istilah tazkiyah (penyucian hati) menjadi sangat penting bagi seorang guru dan juga murid. Namun, di tengah kehidupan dunia pendidikan yang semakin sibuk dengan akreditasi, sertifikasi, dan perankingan, apakah masih tersisa ruang bagi nilai-nilai tazkiyah?

Pertanyaan ini patut dipertimbangkan oleh siapa pun yang merasa dirinya seorang guru. Ayat 43–44 dari Surah An-Nahl sebenarnya mengingatkan kita akan esensi pendidikan itu sendiri, yaitu ilmu yang harus membawa manusia untuk berpikir dan berzikir. Kedua hal ini seharusnya tidak terpisahkan. Berpikir tanpa zikir akan membuat manusia sombong dan hampa makna. Sementara zikir tanpa berpikir akan menjadikan manusia fanatik tanpa arah.  Tugas pendidik adalah menghubungkan keduanya, menyatukan akal dan hati dalam satu kesadaran.

Itulah alasan mengapa Nabi Muhammad disebut sebagai “pendidik sejati sepanjang zaman”. Beliau tidak memberikan ajaran yang hanya relevan pada abad ke-7, tetapi prinsip-prinsip yang abadi di setiap era. Beliau menjadi teladan terbaik karena seluruh hidupnya adalah sebuah pelajaran.

Maka hendaknya setiap guru menanyakan pada dirinya sendiri: Apakah ilmu yang aku ajarkan hari ini membuat muridku lebih dekat kepada Allah, atau justru semakin menjauh dari arti kehidupan mereka? Pendidikan sejati, seperti yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an, adalah perjalanan spiritual. Ia dimulai dari pengetahuan, kemudian berkembang menjadi pemahaman, dan akhirnya mencapai kebijaksanaan. Dan dalam proses ini, guru bukan hanya seorang pemandu, tetapi juga sahabat.

Ia berjalan bersama muridnya dalam perjalanan menuju menjadi manusia yang lebih baik. Selama masih ada guru yang mengajar dengan zikir di hati, pendidikan Islam akan tetap hidup. Selama masih ada orang-orang yang meneladani Rasulullah dalam mengajar, dunia pemdidikan tidak akan kehilangan arah. Karena di setiap zaman, selalu ada ahlu dzikr, orang-orang yang membuat ilmu kembali bermakna, dan mengingatkan manusia kepada Tuhan-Nya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *