Kata kāfir merupakan isu paling sensitif dalam wacana keagamaan. Bahkan kata kāfir sering kali digunakan kemasyarakatan. Secara umum, ulama menafsirkan kata kāfir sebagai orang-orang yang menganut agama non-muslim. Pemahaman kāfir yang cenderung tertutup dan tidak luas akan menghantarkan pada pemahaman yang intoleran dan jatuh pada klaim kebenaran sepihak, akhirnya melahirkan isu-isu patologi sosial.
Di dalam Al-Qur’an, term kāfir dengan ragam derivasinya terulang sebanyak 525 kata. Kāfir merupakan bentuk kata pelaku (ism fā’il) dari kata kafara-yakfuru-kufr. Rāgib al-Iṣfahānī menjelaskan kata kafara atau al-kufr memiliki makna asli menutup sesuatu. Ibn Manẓūr menyatakan bahwa makna asal kata kāfir adalah menutup atau menyembunyikan. Ibn Fāris bahwa kāfir dari huruf kāf, fā,& rā’ berarti yang menutup.
Para petani dalam Al-Qur’an dinamai kata kuffār yang merupakan jamak dari kāfir yang bermakna menanam benih sehingga tertutup ke dalam tanah, sebagaimana dalam firman Allah Swt. yang termaktub dalam firman Allah SWT di QS. Al-Ḥadīd/ 57: 20:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Isitilah kaffārah juga berkaitan dengan menutup. Dari makna menutupi kemudian diartikan sebagai mengingkari kepada keesaan Tuhan dan Rasul-Nya karena menutup hakikat yang sangat jelas. Sebagaimana dalam firman Allah di QS. al-Māidah/ 5: 89:
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ فَكَفَّارَتُهٗٓ اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ مِنْ اَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ اَهْلِيْكُمْ اَوْ كِسْوَتُهُمْ اَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ ۗفَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ ۗذٰلِكَ كَفَّارَةُ اَيْمَانِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْ ۗوَاحْفَظُوْٓا اَيْمَانَكُمْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ٨٩
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barangsiapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”
Dari akar kata yang sama lahir istilah al-kafūr yang bermakna kulit buah-buahan. Kulit disebut juga al-kafūr karena menutupi isi buahnya. Dalam Al-Qur’an, orang yang enggan bersyukur juga termasuk kafir. Sebagaimana dalam firman QS. Ibrāhīm/ 14: 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ٧
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.
Dalam tinjauan Islam, kata kāfirmengandung aneka ragam bentuk dan makna. Secara umum kāfir dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama, bermakna apabila seseorang tidak dinilai muslim, karena tidak memercayai wujud & keesaan Tuhan dan Rasul. Kedua, mempunyai makna bahwa tidak mengingkari dasar keimanan dan keislaman, hanya dinilai durhaka dalam berbagai tingkat kekufuran meskipun sebagai muslim.
‘Abd Al-Razzāq Al-Kāsyānī (w. 723 H) dalam kitabnya yang berjudul Ta’wīlāt al-Qur’ān al-Ḥakīm bahwa beliau menghadirkan ragam makna batin kafir dengan memanfaatkan simbol. Berikut beliau memaparkan ragam makna batin kāfir tersebut. Darmawan dalam bukunya, beliau mengutip dari Kitab Ta’wīlāt al-Qur’ān al-Ḥakīm karya Al-Kāsyānī bahwa makna takwil batin kata kāfir ada tiga jenis pengertian, yaitu:
- Hijab Spiritual
Al-Kāsyānī menegaskan makna kāfirberarti sesuatu hijab yang menutupi al-ḥaqq, menutup cahaya suci kerasulan, menutupi janji dan ancaman-Nya. Disebabkan oleh kesiapan dari orang tersebut yang tidak ingin naik ke maqām selanjutnya. Iamasih terkungkung pada rana ciptaan, mereka beriman secara lahir, tapi secara hakikat māqam-nya menempati kekafiran, sehingga ia mendapatkan kemarahan Tuhan-Nya.
مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ١٠٦
“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar.” (QS. Al-Naḥl/ 16: 106)
Menguatkan kāfir sebagai hijab spiritual bisa dilihat dari penjelasan takwil QS. Al-Baqarah/2: 126. Beliau menjelaskan orang kafir ialah mereka yang menutup diri/terhijab disebabkan oleh kalian asyik berdiam diri-tidak ingin berusaha ke maqām selanjutnya, sehingga ia terhijab oleh pengetahuannya yang memenuhi relung dada, padahal itu adalah kesenangan yang amat sedikit, ujungnya akan merasakan kerugian.
- Setan & Hawa Nafsu
Al-Kāsyānī menawarkan kata kāfirsebagai hawa nafsu berupa nafs al-amārah. Makna kāfirditemukan dalam takwil QS. Al-Tawbah/ 9: 123 yang merupakan ayat jihad bentuk dalam perang untuk membentengi dari serangan kaum kafir kepada kaum muslim secara lahiriyah. Al-Kāsyānī menakwilkan ayat tersebut sebagai kafir yang berada dalam diri kita dalam disimbolkan sebagai memiliki nafs/jiwa yang amarah.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَاتِلُوا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ١٢٣
“Wahai orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang yang bertakwa.”
Makna kāfir disimbolkan sebagai Setan & daya jiwa amarah yang melekat dalam diri ditemukan dalam takwil QS. Al-Baqarah/ 2: 190 adalah musuh terbesar manusia.
وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۚ فَاعْفُوْا وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapangdadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
- Person
Al-Kāsyānī tidak menegasikan aspek lahiriyah makna kāfir, beliau menakwilkan QS. Āli ‘Imrān/ 3: 139 bahwa kaum kafir dalam ayat tersebut ialah sama dengan makna lahiriyah, yakni orang-orang kafir yang ikut serta dalam perang Uhud secara person.
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٣٩
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.”
Bagi sufi, memerangi kekafiran batin yang mengikis nafsu-nafsu bengis & sifat-sifat tercela dalam diri untuk mempersiapkan fondasi mental seseorang yang sempurna dengan keimanan paripurna yang niat tulus dengan terbebasnya dari penyakit-penyakit hati yang bersumber dari godaan Setan dan hawa nafsu pada diri insan yang beriman.
Referensi:
Darmawan. 2021. Validitas Takwil Sufi: Studi Analisis Kitab Ta’wīlāt Al-Qur’ān al-Ḥakīm. Sukabumi: Haura Publishing.
Shihab, M. Quraish. 2024. Makna di Balik Kata: Mengurai Istilah Agama Menjejaki Akar Ilmu. Tangerang Selatan: Lentera Hati.









