Menjaga kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting dalam diri manusia. Namun sayangnya hal ini seringkali terabaikan. Banyak orang berusaha melakukan berbagai cara untuk menjaga kesehatan fisik tanpa menyadari bahwa kondisi kesehatan mental sangat berpengaruh terhadap tingkat spiritualitas, produktivitas, dan kualitas hidup seseorang.
Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai aspek perintah untuk beribadah saja, tetapi juga menyajikan panduan untuk menjaga kesejahteraan ruhani secara komprehensif demi terciptanya ketenangan batin. Sebagaimana pesan Allah kepada umatnya dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 bahwa ujian yang diberikan kepada manusia, tidak akan melampaui batas kemampuannya. Ayat ini menjadi penghibur bagi seseorang yang sedang ditimpa ujian.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ
Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.
Berdasarkan tafsir Kementerian Agama yang dikutip dari laman Journal of Pshycology Students, ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan memberikan ujian sesuai kadar kemampuan hambanya. Dalam kehidupan manusia tentu tidak akan luput dari berbagai kesalahan, maka di sinilah pentingnya berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah. Sebab manusia adalah makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan rahmat Allah yang tak terbatas. (Akbar, 2024, hlm. 8-9)
Lebih lanjut, ayat ini juga memuat motivasi sikap resiliensi yaitu kemampuan bertahan dalam tekanan psikologis dan bangkit untuk pulih. Sabar, Ikhlas, dan tawakal merupakan ikhtiar manusia untuk menjaga kesehatan mental. Ayat ini juga menekankan pentingya bersyukur dan ridha atas segala ketentuan Allah dengan lapang dada akan membuat hati terasa lebih damai dan dijauhkan dari rasa putus asa.
Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah sebagaimana dikutip dalam jurnal Banjarese Pasific Indonesia mengatakan bahwa ayat ini bukan sekadar memberikan pemahaman tentang batas kemampuan manusia saja melainkan perintah kepada manusia untuk tawakal kepada Allah ketika menjalani ujian, Ayat ini merupakan bentuk rahmat dari Allah kepada manusia agar tidak mudah berputus asa. (Ahmad Ahsanul Khuluq, 2024, hlm. 18)
Selanjutnya, Quraish Shihab juga mengatakan bahwa terdapat tiga kemungkinan mengenai beban dan tugas yang diberikan kepada manusia. Pertama, Allah menguji sesuai kapasitas hambanya. Pada tahap ini bisa jadi manusia masih mampu menghadapinya tanpa merasa memiliki tekanan yang cukup berat terhadap tugas yang diterimanya. Sehingga tugas yang diberikan masih mampu memberikan kenyamanan.
Kedua, bisa jadi beban yang diberikan kepada manusia terasa sangat berat sehingga dengan ujiannya tersebut manusia merasa tidak sanggup lagi menjalaninya. Maka Allah dengan sifat adilnya tidak membebani manusia dengan sesuatu yang mutlak tidak bisa diselesaikannya. Ketiga, kemungkinan manusia bisa berada dalam posisi keduanya. Mungkin manusia bisa menjalaninya namun dengan susah payah. Maka disinilah Allah menguji ketabahan hambanya.
Relevansi Makna Ayat Al-Baqarah 286 dengan Kesehatan Mental
Pada kalimat Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā Allah menegaskan bahwa setiap ujian yang diberikan kepada manusia tidak akan melebihi kapasitas hambanya. Artinya, dibalik setiap ujian tentunya manusia dapat melewatinya meskipun dengan susah payah. Ayat ini menjadi rujukan penting agar manusia terus yakin akan pertolongan Allah serta mampu menjadi sumber kekuatan mental dalam menghadapi berbagai tekanan hidup.
Menurut Quraish Shihab, ayat ini memberikan pengajaran kepada manusia bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan sebab Allah maha mengetahuai batas kemampuan hambanya (Shihab, 2002, 621). Dengan demikian ketika manusia memahami ayat ini dengan baik maka ia akan memiliki sikap mental yang seimbang serta selalu sabar dan berysukur dalam menjalani ujian.
Dalam aspek psikologis, ayat ini menjadi landasan dasar untuk membangun ketahanan psikologis. Dimana seseorang memiliki keyakinan akan pulih dan bangkit dari berbagai kesulitan dan tekanan hidup. Sebagaimana yang tersirat dalam doa pada ayat ini, implikasi dari ketahanan psikologis yaitu sikap sabar, ikhtiar dalam melakukan kebaikan serta sikap tawakal kepada Allah terhadap segala ketentuan yang sudah digariskan oleh-NYA.
Ayat ini merupakan representasi dari pesan kasih sayang Allah kepada hambanya. Dalam Islam doa serta keyakinan bahwa Allah menjamin kemudahan dalam setiap kesulita merupakan sumber kekuatan mental yang paling utama. Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah mengandung aspek spiritual yakni dapat meredam rasa cemas, stress, dan perasaan tertekan.
Implikasi dalam Kesehatan Mental Berbasis Al-Qur’an
Dalam perspektif kesehatan mental, QS. Al-Baqarah 286 memberikan motivasi kepada manusia diantaranya: pertama, berdoa dan tawakal kepada Allah untuk menjaga ketengan jiwa. Kedua, menerima segala keterbatasan dalam diri serta mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki. Ketiga, memahami akan sebuah konsekuensi dalam setiap keputusan. Maka sikap hati-hati harus dikedepankan agar tidak menyesali keputusan dimasa mendatang.
Keempat, menjauhkan diri dari perasaan berlebihan terhadap sesuatu. Sebab Allah maha pengampun. Kelima, selalu mengedepankan rasa optimis dan percaya diri. Selalu yakin bahwa semua rintangan pada akhirnya selalu dapat dihadapi. Ayat ini adalah sumber kekuatan jiwa seseorang untuk mempertahankan kesehatan mental dan menjauhkan dari sikap putus asa, sebab rahmat dan kasih sayang Allah teramat luas bagi seluruh hambanya.
Referensi:
Ahmad Ahsanul Khuluq, dkk. (2024). Keseimbangan Antara Ujian Dan Kemampuan Manusia: Telaah Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 286 Dalam Tafsir Al-Mishbah. Banjarese: Journal of International Multidisciplinary Research. 2.11. 18-19
Muhammad Fauzan Akbar, dkk. (2024). Resiliensi Psikologis dalam Cobaan: Kajian Ilmiah Surat Al-Baqarah Ayat 286 dan Implikasinya dalam kehidupan. JoPS: Journal of Pshycology Students. 4.1. 8-9
Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Vol. 1. Jakarta: Lentera Hati.









