Home / Tafsir & Isu Kemanusiaan / Jika Anak Adalah Fitnah, Mengapa Orang Tua Tidak Bersiap? Refleksi QS. At-Tagabun Ayat 15

Jika Anak Adalah Fitnah, Mengapa Orang Tua Tidak Bersiap? Refleksi QS. At-Tagabun Ayat 15

Kita seringkali disuguhi hal besar dalam hidup dengan menjalaninya begitu saja tanpa benar-benar mempertanyakan alasan logisnya. Seperti pernyataan manusia berpuasa karena dari dulu orang-orang berpuasa, kita menikah karna generasi terdahulu juga menikah, kita menjalankan adat istiadat karna nenek moyang kita juga melakukan hal yang sama.

Semuanya di lakukan begitu saja seolah-olah ini adalah pernyataan, cukup diikuti dan tidak patut untuk dipertanyakan. Jika diperhatikan ini adalah salah satu pola yang hampir tidak pernah berubah dari generasi ke generasi. Padahal jika dipikir kembali secara logika, tidak semua yang diwariskan otomatis masuk akal untuk dijalani tanpa kesadaran. Terutama yang paling menarik soal keputusan memiliki anak.

Dalam pernikahan, kehadiran anak adalah hadiah terindah yang diberikan Allah SWT kepada pasangan suami istri. Kehadiran anak dapat menyejukkan jiwa dan menjadi hiasan bagi kedua orang tua. Namun, perlu diketahui bahwa anak juga dapat menjadi penghina dan bahkan musuh bagi kedua orang tua (Musdatulia M. 2025).

Selain itu, hal ini merupakan keputusan yang dampaknya paling panjang, paling mahal, dan paling rumit, tapi anehnya sering dianggap sebagai kelanjutan otomatis dari menikah. Seolah-olah setelah menikah, keputusan untuk memiliki anak itu bukan pilihan, melainkan kewajiban yang tidak perlu dijelaskan lagi alasan logisnya. Padahal agar hidup terasa damai di masa tua nanti, semasa muda kita mati-matian belajar, bekerja, menata mental, menata ekonomi, supaya suatu hari bisa hidup tenang tanpa terlalu banyak beban.

Akan tetapi, jika hidup yang damai itu adalah tujuan, mengapa setelah menikah dan memiliki anak hidup justru terasa lebih berat? tanggung jawab semakin bertambah, menguras tenaga, waktu, emosi, bahkan seringkali membuat hidup kita jauh dari kata nyaman. Secara logika pernyataan ini masuk akal bukan? tapi menariknya Al-Qur’an tidak pernah menbantah soal ini. Penelitian ini mengkaji mengenai QS. At-Taghabun [64]: 15 yang berbunyi:

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.

Ayat ini menjelaskan bahwa harta dan anak adalah fitnah (ujian), dari kedua hal tersebut terdapat pahala yang besar di sisi Allah. Namun, apakah dengan berdalih pahala saja suduh cukup? padahal banyak sekali ibadah yang tidak berhubungan dengan ujian tapi pahalanya bisa jauh lebih besar dan minim pengorbanan dari melahirkan anak. Karena pada dasarnya memiliki anak itu berat, melelahkan, dan penuh pengorbanan. Maka dari itu, pertanyaan tentang alasan dan kesiapan ini seharusnya dianggap wajar.

Menurut saya, ayat ini sangat relevan karna sangat masuk akal sekali bila secara logika, ayat ini menyebut anak sebagai ujian. Maka sangat di wajarkan jika orang-orang tidak langsung siap menghadapinya. Walaupun saya belum berada di fase hidup berkeluarga, tapi saya bisa melihat dengan jelas bahwa memiliki anak itu bukanlah hal kecil.

Dari luar, saya melihat betul realitas yang sering dinormalisasi. Bagaimana hidup orang tua berubah seperti waktu, rumah yang jarang terlihat rapih, karier yang harus disesuaikan, dan kelelahan yang datang setiap hari. Sangat aneh bukan jika mempertanyakan keputusan sebesar ini seringkali dijawab hanya dengan kalimat “dari dulu juga begitu”. Saya tau mungkin tidak semua orang sependapat dengan saya, tapi setidaknya kita semua harus paham bahwa pembahasan ini adalah bentuk refleksi untuk kita dalam mengambil keputusan, bukan mengajak untuk “ayok jangan punya anak”.

Bahkan kita sering melihat banyak sekali orang-orang ingin memiliki anak tapi mereka tidak memikirkan dan tidak mempersiapkan jangka panjangnya, sehingga saat anak tersebut mulai dewasa mereka sendirilah yang menanggung sebab dan akibat atas kelalaian kita dalam mempersiapkan diri.

Selain itu sebagai wanita yang masih berproses di fase pengembangan diri, saya melihat jelas bahwa kesiapan punya anak tidak ada hubungannya dengan pintar atau bodohnya seseorang, melainkan dengan kesadaran dan kesiapan penuh dari sepasang suami istri yang memiliki kesadaran bahwa anak bukan alat untuk memenuhi ekspektasi sosial dan bukan jaminan kebahagiaan di masa depan. Yang membuat saya heran, kenapa pengorbanan sebesar ini jarang sekali dibicarakan secara jujur sebelum keputusan diambil.

Pertanyaannya “Kalau aku melahirkan dia, hal apa yang menguntungkan buat dia?” dan “kalau dia lahir, apa keuntungan nyatanya untuk kami sebagai pasangan?”. Saya yakin, pasti pertanyaan ini pernah atau sering muncul di kepala banyak orang, tapi langsung dibuang jauh-jauh karena dianggap tidak pantas. Padahal pertanyaan itu bukan tanda kurang bersyukur, melainkan tanda sadar bahwa kita sedang bicara tentang hidup orang lain, bukan sekadar melanjutkan tradisi.

Tujuan utama anak itu hadir bukan untuk membuat hidup orang tua lebih tenang, tapi untuk menguji seberapa dewasa manusia memikul tanggung jawab atas kehidupan lain yang ia ciptakan. Dalam hal ini, jawabannya bukan pada status sosial dan bukan juga status pendidikan orang tuanya.

Akan tetapi, keuntungan bagi anak hanya ada jika orang tuanya sadar dan mampu menerima ujian terberat dalam hidup yaitu bertanggung jawab atas masa depan orang lain (bukan diri sendiri) tanpa jaminan akan dipuji, dibalas, atau diselamatkan. Walaupun anak bisa menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, tapi kita tidak boleh menjadikannya sebagai alat keselamatan apalagi asuransi hidup.

Sedangkan “kalau dia lahir, apa keuntungan nyatanya untuk kami sebagai pasangan?” Keuntungan bagi pasangan pun bukan soal kebahagiaan instan, tapi tentang apakah mereka mampu bekerja sama dengan baik dalam mengolah emosi, tekanan jangka panjang dan siap menerima konsekuensi dari pilihan yang diambil.

Ketahanan emosional sebagai kemampuan pasangan suami istri dalam mengelola respons emosional di tengah kehidupan pernikahan merupakan kunci penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Penelitian ini mengkaji pembentukan ketahanan emosional berdasarkan Surah Al-Taghabun dan menghubungkannya dengan teori ketahanan keluarga Froma Walsh dan interpretasi Al-Azhar oleh Buya Hamka

Memiliki anak maupun tidak, tidak ada satu pun pilihan yang benar-benar bebas risiko. Perbedaannya ada pada bentuk, waktu, dan cara risiko itu muncul. Memiliki anak menghadirkan risiko yang langsung terlihat dan bersifat eksternal, seperti tanggung jawab ekonomi, beban pengasuhan, kecemasan akan masa depan anak, serta ketakutan akan kegagalan sebagai orang tua. Karena risiko ini nyata dan terasa sejak awal, banyak orang menganggap punya anak sebagai pilihan yang berat dan berbahaya.

Sebaliknya, memilih untuk tidak memiliki anak sering dianggap lebih aman karena risikonya tidak langsung terasa. Namun, yang sebenarnya terjadi bukanlah penghilangan risiko, melainkan penundaannya. Risiko tidak punya anak cenderung bersifat internal, abstrak, dan baru muncul dalam jangka panjang seperti potensi kesepian di usia tua, menyempitnya lingkar sosial, berkurangnya peran sosial, hingga munculnya kekosongan makna hidup.


Maka dari itu, selagi kita masih muda, masih belajar untuk berpikir realistis, masih mampu untuk berpikir secara logika, lebih baik kita mempersiapkan diri agar variabel kegagalan si anak bisa diminimalisir. Semua itu adalah keputusan orang tua, sebab anak tidak bisa memilih untuk dilahirkan, tidak bisa memilih terlahir dari rahim siapa, dan tidak bisa memilih seperti apa orang tua yang akan membesarkannya.  

Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an begitu banyak peringatan tentang tanggung jawab, amanah, dan pendidikan kelurga. Karena secara logika, punya anak memang tidak sesederhana melahirkan lalu berharap ia tumbuh baik dengan sendirinya. Oleh karenanya, jika orang tua belum matang secara mental, belum siap secara ekonomi, dan belum mau belajar mendidik, maka risiko kegagalan anak menjadi sangat besar. Anak tidak punya pilihan atas kelahirannya, tetapi kita sebagai orang tua diberi akal, ilmu, dan petunjuk dalam agama agar sadar bahwa pilihan memiliki anak itu serius, berat, dan butuh kesiapan.


Referensi:

Musarika, M. (2025). Anak Sebagai Fitnah dalam Qur’an Surat At-Tagābun Ayat 15 Perspektif Hukum Keluarga Islam (Studi Pemikiran Dosen Tafsir Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung) (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Hidayat, A. R. (2024). Pemaknaan Innama Amwalukum Wa Awladukum Fitnah (Qs. At-Tagabun [64]: 15) Dalam Perspektif Ma’na Cum Maghza (Doctoral Dissertation, Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Anwar, B. A. F. (2025). PEMBENTUKAN KETAHANAN EMOSIONAL RUMAH TANGGA: Analisis QS. At-Taghabun, Froma Walsh, dan Tafsir Al-Azhar. Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya4(5), 2007-2019.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *