Perkembangan ilmu pengetahuan modern telah mengungkap betapa kompleks dan menakjubkannya struktur tubuh manusia. Salah satu keajaiban biologis yang telah lama menarik perhatian para ilmuwan adalah sidik jari, pola halus yang terdapat di ujung jari dan tidak pernah sama antara satu orang dengan lainnya. Menariknya, Al-Qur’an menyebutkan hal ini lebih dari 14 abad yang lalu, dalam Surah Al-Qiyamah ayat 3-4:
اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ بَلٰى قٰدِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Tentu, (bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.
Ayat ini turut menegaskan kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia setelah kematian, serta menunjukkan kemampuan-Nya untuk mengembalikan setiap bagian tubuh dalam kondisi sempurna, bahkan bagian yang sangat kecil dan rumit seperti ujung jari. Hal ini memicu refleksi mendalam: apakah menyebutkan “ujung jari” dalam ayat tersebut hanya bersifat simbolis, atau justru mengandung petunjuk ilmiah yang luar biasa mengenai identitas biologis manusia?
Dalam bidang biologi dan forensik, sidik jari adalah struktur yang unik dan terbentuk sejak bayi berusia sekitar 10 hingga 16 minggu dalam kandungan. Pola ini terbentuk dari kombinasi faktor genetik dan kondisi lingkungan di dalam rahim, seperti tekanan cairan ketuban, posisi bayi, aliran darah, serta berbagai faktor lainnya (Basudewo, 2024). Menariknya, pola sidik jari tidak berubah sepanjang hidup seseorang, bahkan jika terjadi luka di permukaan kulit—selama lapisan dermal tidak rusak secara permanen, pola tersebut akan kembali muncul dengan bentuk yang sama.
Para ilmuwan seperti Sir Francis Galton (1822–1911) dan Juan Vucetich (1858–1925) telah mengembangkan sistem klasifikasi sidik jari serta membuktikan bahwa tidak ada dua individu, bahkan kembar identik, yang memiliki pola sidik jari yang identik. Hal ini menegaskan bahwa pada ujung jari manusia terdapat tanda identitas biologis yang mutlak dan unik (Maulitasari, 2020).
Al-Qur’an menyebutkan banānah, yang berarti ujung jari, bukan hanya sebagai istilah umum untuk jari secara keseluruhan, tetapi dalam bentuk tunggal yang menunjukkan sesuatu yang sangat spesifik. Para mufasir klasik seperti Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa penyebutan “ujung jari” merupakan simbol kekuasaan Allah dalam mengatur detail terkecil tubuh manusia, tidak hanya bagian tulang, tetapi juga struktur halus yang sulit dipahami oleh akal manusia pada abad ke-7. Dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, makna ini relevan dengan konsep biometrik dan keunikan genetik manusia.
Pendekatan tafsir saintifik (tafsīr ‘ilmī) ini tidak bertujuan menganggap Al-Qur’an sebagai buku sains, tetapi lebih pada mengungkap keseimbangan antara ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dan ajaran wahyu lainnya. Dalam konteks ini, ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan detail yang unik hingga tingkat yang sangat kecil.
Beberapa ulama dan sarjana Muslim, menafsirkan ayat ini sebagai bukti keajaiban ilmiah. Ketika Allah menegaskan kemampuannya “menyusun kembali ujung jari”, ini berarti setiap manusia memiliki komposisi biologis yang spesifik, termasuk pada tingkat mikroskopis seperti DNA, pola sidik jari, dan struktur jaringannya.
Dengan demikian, dalam konteks ini Al-Qur’an tidak hanya membicarakan bangkitan fisik, tetapi juga identitas seseorang. Artinya, setiap manusia akan bangkit dalam bentuk yang sama seperti sebelumnya, dengan identitas yang tidak tergantikan. Maka, penyebutan banānah menjadi simbol bahwa tidak ada manusia yang dapat luput dari pengenalan Allah, sebagaimana tidak ada sidik jari yang sama di antara miliaran manusia.
Ilmu pengetahuan modern menjelaskan bahwa keunikan pola sidik jari berasal dari gabungan antara faktor genetik (DNA) dan faktor epigenetik (lingkungan dalam rahim). Pola guratan di ujung jari, yang disebut friction ridge patterns, terbentuk melalui interaksi rumit antara sel-sel dari lapisan epidermis dan dermis pada masa perkembangan embrio.
Dari sudut pandang biologis, fungsi sidik jari memiliki peran penting dalam fisiologis manusia: Pertama, meningkatkan kemampuan menggenggam, sehingga manusia dapat memegang benda dengan lebih kuat. Kedua, meningkatkan sensitivitas sentuhan, membantu otak mengenali tekstur suatu benda melalui saraf sensorik yang terdapat di ujung jari.
Namun, dari sisi spiritual, fungsi sidik jari sebagai tanda identitas menjadi titik refleksi yang sangat kuat. Sidik jari adalah tanda yang membedakan satu manusia dengan manusia lainnya, tanda yang ditetapkan oleh Allah sejak dalam kandungan. Oleh karena itu, ketika Al-Qur’an menyebutkan tentang “penyusunan ujung jari”, seolah-olah ingin menyampaikan pesan bahwa manusia bukanlah kebetulan secara biologis, melainkan diciptakan dengan desain yang unik dan Allah mengenali setiap individu secara khusus.
Refleksi Filosofis: Identitas dan Tanggung Jawab Manusia
Jika dilihat lebih dalam, ayat ini tidak hanya menegaskan kemampuan Allah menciptakan kembali sesuatu secara fisik, tetapi juga melibatkan konsep tanggung jawab individu atau mas’ūliyyah syakhṣiyyah.
Dengan kata lain, sidik jari menjadi metafora mengenai keunikan dan akuntabilitas: setiap individu akan dikenali sesuai dengan cara ia diciptakan pertama kali. Tidak ada yang bisa menyamar, bersembunyi, atau mengganti identitas diri di hadapan Allah. Hal ini juga ditegaskan dalam QS. Yasin [36]: 65:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Pada hari itu Kami akan menutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami, serta kaki mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Menariknya juga prinsip penggunaan sidik jari untuk mengidentifikasi seseorang kini menjadi dasar bagi teknologi biometrik, yang digunakan dalam berbagai bidang, seperti keamanan digital, administrasi kependudukan, hingga sistem keuangan. Konsep biometrik ini sebenarnya mencerminkan pemahaman manusia terhadap tanda-tanda ciptaan Allah (āyāt kauniyyah). Seperti dalam Surah Fussilat [41]:53:
“Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu benar.”
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan tidak bertolak belakang dengan Al-Qur’an, justru menjadi sarana untuk memperdalam makna wahyu. Jika teknologi sekarang mampu mengenali seseorang dari sidik jari, bagaimana mungkin Sang Pencipta tidak mampu mengembalikan manusia secara utuh pada hari kiamat?
Referensi
Basudewo, Dyaniko Prio, Yuswanto Setiawan, and Victor Setiawan Tandean. “Perbedaan Pola Sidik Jari dan Sudut Axial Tridadius Digital (ATD) Antara Orang Tua Anak Normal dengan Sindrom Down.” Jurnal Surya Medika (JSM) 10, no. 1 (2024): 219-232.
Maulitasari, Devi, S. Kom, and Rossi Passarella. Teori dan Sejarah Citra Forensik. UPT. Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya, 2020.









