Home / Al-Qur’an & Sains / Hikmah di Balik Perputaran Siang dan Malam: Perspektif Al-Qur’an dan Sains

Hikmah di Balik Perputaran Siang dan Malam: Perspektif Al-Qur’an dan Sains

Alam raya diciptakan dengan keteraturan dan sistem kerja yang dapat kita saksikan secara nyata. Interaksi antara Matahari, Bumi, dan Bulan merupakan konsekuensi dari pergerakan masing-masing benda langit. Seluruh peristiwa tersebut merupakan fenomena alam yang dapat diamati dan dirasakan secara langsung.

Bumi berputar pada sumbunya, sementara Matahari relatif tampak tetap pada posisinya. Pergerakan Bumi pada porosnya ini disebut rotasi Bumi. Rotasi Bumi berlangsung dari arah barat ke timur, sehingga Matahari tampak terbit dari arah timur dan bergerak menuju barat. Dengan demikian, yang sebenarnya bergerak bukanlah Matahari, melainkan Bumi yang berotasi.

Satu kali rotasi membutuhkan waktu 23 jam 56 menit 3 detik dibulatkan menjadi 24 jam. Satu kali rotasi Bumi disamakan 1 hari. Dalam sekali rotasi, Bumi berputar sejauh  dalam tempuh 24 jam, maka setiap 1 jam Bumi berputar sejauh sekitar  Dengan perhitungan tersebut, kita dapat menghitung perbedaan waktu tiap-tiap negara berdasarkan garis bujur yang merupakan garis yang memisahkan waktu tiap negara.

Garis bujur  terletak di Kota Greenwich, Inggris. Waktu Internasional dikenal sebagai GMT (Greenwich Mean Time). Waktu dibelahan Bumi bagian timur (  BT) lebih cepat satu hari dibandingkan belahan Bumi bagian barat (  BB). Di antara tersebut merupakan salah satu tanda kuasa Allah Swt. yang langsung dapat dirasakan dan disaksikan. Di antara ayat tersebut terdapat dalam firman Allah Swt.:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (Qs. Āli ‘Imrān/ 3: 190)

Dalam buku Tafsir Ilmi karya Kemenag tahun 2012 dijelaskan bahwa kata ikhtilāf merupakan maṣdar dari kata ikhtilafa yang menjadi kata khalīfah yakni pengganti, menjadikan di belakang, datang secara berulang kali akan terus-menerus. Ikhtilāf artinya yang datang bergantian, perbedaan pendapat, dan akan terus-menerus. Ayat ini menginformasikan bahwa pergantian siang & malam akan terus-menerus secara berurut.

Fenomena ini merupakan salah satu kekuasaan Allah yang telah menciptakan sesuatu dan menyempurnakan dengan aktivitas sesuai dengan prosesnya. Allah telah menetapkan siang & malam terjadi tidak mendahului seperti dalam QS. Yāsīn/ 36: 40.

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ٤٠

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Pergantian siang maupun malam merupakan isyarat bahwa Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang telah didelegasikan pada hukum alam. Ayat Allah yang memakai ungkapan demikian merupakan terdapat dalam firman Allah dalam Qs. al-Ḥajj/ 22: 61.

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ٦١

“Demikianlah karena Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Ayat tersebut merupakan terjadinya siang maupun malam merupakan akibat dari perputaran Bumi pada porosnya yang terjadi perbedaan rentan waktu yang tidak sama dengan waktu-waktu tertentu. Kadang-kadang Bumi berada di bagian selatan maupun utara. Bila Matahari bagian utara, maka belahan Bumi di wilayah itu akan terkena sinar yang lebih banyak, sehingga siang hari terasa lebih panjang dari waktu malam. Sebaliknya, Matahari tampak di belahan Bumi selatan, maka yang terjadi adalah kebalikan dari yang telah dijelaskan, yakni siang lebih panjang dari malam. Ini yang dimaksud memasukkan siang ke dalam malam dan memasukkan siang ke dalam malam.

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah Swt. pasti ada manfaatnya dan tidak ada yang sia-sia. Di antara manfaat diciptakan siang & malam, yaitu waktu siang untuk beraktivitas, mencari rezeki, untuk memenuhi hajat hidup manusia dengan cara bekerja, sedangkan waktu malam untuk tidur maupun beristirahat agar menata di hari berikutnya dengan merasa segar kembali dengan penuh semangat. Dijelaskan dalam firman Allah:

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ ٩ وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ١٠ وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ١١

“Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (Qs. al-Nabā’/ 78: 9-11)

Manfaat lain juga sebagai munculnya kehidupan Bumi secara merata. Bila Bumi berputar pada porosnya, maka bagian yang menghadap Matahari akan terus berada dalam keadaan terang. Hal tersebut menimbulkan efek negatif, apabila sinar Matahari secara terus-menerus, lama kelamaan akan terjadi kering, semua cairan akan menguap yang menjadi tandus, gersang, tanpa air, dan mungkin juga akan mudah terbakar.

Sebaliknya, daerah yang membelakangi Matahari, karena Bumi tidak berputar, akan terus-menerus berada dalam kegelapan. Cuaca menjadi dingin, air akan membeku, akibatnya kehidupan akan musnah. Pergantian siang & malam merupakan karunia Allah bagi semua makhluk-Nya. Allah mengetahui Bumi tidak berhenti berputar, maka makhluk akan punah. Allah menegaskan dalam firman-Nya dalam Qs. al-Naḥl/ 16: 12:

وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۙ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗوَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمْرِهٖ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَۙ١٢

“Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bin-tang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.”

Secara sederhana bahwa waktu siang dan malam terjadi karena terbit maupun terbenam Matahari. Zaman dulu, manusia berfikir bahwa terbit dan terbenam Matahari disebabkan oleh peredaran Matahari mengitari Bumi disebut heliosentris. Ternyata Matahari tidak mengitari Bumi, akan tetapi Bumi yang mengitari Matahari disebut geosentris. Hasil pengamatan tersebut dengan menggunakan satelit ruang angkasa.

Nabi Saw. memberikan petunjuk mengenai waktu salat berupa tanda-tanda alam, dari waktu Subuh hingga waktu Isya’. Keberulangan penampakan ini menjadi alat penentu waktu. Satu hari adalah waktu dari saat matahari terbit sampai matahai terbit berikutnya. Orang mulai mengenal jam di zaman modern sebagai penanda waktu, maka ditentukan bahwa 1 hari adalah 24 jam. 1 jam = 60 menit. 1 menit = 60 detik.

Ketika jam sudah begitu modern, penentuan waktu salat tidak lagi dengan cara melihat posisi Matahari, tetapi melihat smartphone atau jam salat digital pada tiap-tiap masjid di seluruh dunia. Fenomena siang dan malam menuntun pada keterbatasan alam, baik dari aspek waktu maupun ruang. Keberhinggaan alam semesta dari sisi waktu yang Allah tetapkan, pada gilirannya menuntut kehadiran sang pencipta, yakni Allah Swt.

Referensi:

  • Khristiyono, Irene &. 2017. ESPS: IPA Kelas 6 Kurikulum 2013 Revisi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Purwanto, Agus. 2018. Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan. Bandung: PT Mizan Pustaka.
  • RI, Kemenag. 2012. Tafsir Ilmi: Penciptaan Jagat Raya dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *