Satu momentum spesial bagi para pendidik adalah tanggal 25 November, yang diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Momen ini menjadi ajang untuk mengapresiasi peran seorang pendidik, sosok yang kerap dijuluki sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa.” Peringatan ini juga merupakan bentuk penghormatan negara terhadapa profesi guru yang memiliki kontribusi besar bagi peradaban.
Dalam konteks ini bagaimana sebenarnya Islam memandang seorang guru? Dan bagaimana posisi penghormatan terhadap guru dibicarakan dalam Al-Qur’an?
Dalam Islam, kemuliaan bukan hanya milik sang penuntut ilmu, tetapi juga anugerah pada siapa saja yang mengajar dan menyebarkan ilmu. Maka dari itu, momentum Hari Guru Nasional menjadi titik penting untuk melihat kembali bagaimana Islam menempatkan posisi guru dan ilmu dalam kedudukan yang luhur. Dengan demikian, menelaah peran guru dalam bingkai Al-Qur’an menjadi langkah penting untuk memperkuat kembali fondasi penghormatan kita terhadap profesi mulia ini.
Kedudukan Guru dalam Perspektif Islam
Guru dalam tradisi keilmuan Islam termasuk dalam kelompok pada ahl al-‘ilm yaitu mereka yang memiliki pengetahuan dan diakui kompetensinya dalam suatu bidang. Guru bukan hanya sekadar orang yang berilmu, tetapi juga sosok yang menyampaikan, mengajarkan, dan menularkan ilmu kepada orang lain. Karena itu, Al-Qur’an memberikan kemuliaan khusus kepada orang-orang berilmu, sebagaimana tergambar dalam QS. Al-Mujādalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”
Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu karena kedua hal tersebut menjadi cahaya bagi kepribadian manusia. Lebih lanjut lagi At-Thabari menjelaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang diberi ilmu karena kepatuhan mereka kepada perintah tuhannya, termasuk perintah untuk melapangkan tempat dalam majlis ilmu. Ia kemudian mengutip riwayat Qotadah yang menegaskan bahwa ilmu mempunyai keutamaan tersendiri, dan pemilik ilmu memiliki hak atas keutamaannya. (At-Thabari, 2007)
Oleh sebab itu, penghormatan terhadap guru merupakan bentuk nyata dari penghormatan terhadap ilmu itu tersendiri. Al-Qur’an memuliakan orang yang berilmu atas kontribusinya dalam membangun akal dan moral manusia, dan guru merupakan aktor utama yang menjalankan fungsi tersebut secara praktis.
Guru sebagai Rujukan Ilmu dan Otoritas Keilmuan
Dalam konteks modern, guru termasuk ke dalam kelompok ahl- al-dzikr karena merekalah yang memiliki kompetensi untuk membimbing, penjelas dan meluruskan pemahaman. Al-Qur’an menegaskan pentingnya merujuk pada otoritas keilmuan, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Nahl: 43.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kalian tidak mengetahui.,” sebuah intruksi langsung agar umat bertanya kepada mereka yang ahli ketika tidak mengetahui.
Ayat ini tidak hanya menegaskan legistimasi keilmuan, tetapi menempatkan guru sebagai figur yang memiliki tanggung jawab dalam menjaga ketepatan informasi dan kebenaran pengetahuan, terutama di era digital yang rawan dengan misinformasi.
Zamzam dkk (2023) menambahkan bahwa peran guru tidak hanya sebagai penyampai ilmu (muallim), tetapi juga sebagai pembina karakter (murabbi) dan penanaman adab (muaddib). Ketiga fungsi ini menjadikan guru sebagai figure moral, intelektual, dan spiritual yang mengemban tugas kenabian dalam membimbig manusia menuju kebenaran dan akhlak mulia.
Refleksi Hari Guru Nasional
Refleksi Hari Guru Nasional menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali budaya penghormatan kepada guru sebagai pendidik bangsa dan fondasi peradaban. Saat ini penghormatan terhadap guru kerap kali memudar. Masyarakat perlu diingatkan bahwa guru bukan hanya sebagai profesi formal, tetapi bagian penting dari pembentukan karakter, menumbuhkan nalar dan penjaga nilai.
Pada hakikatnya, ilmu tidak hadir begitu saja, melainkan melalui proses pembelajaran, bimbingan serta keteladan pendidik. Dengan demikian Hari Guru Nasional harus menjadi ajakan spiritual dan sosial bagi seluruh masyarakat untuk kembali meneguhkan posisi guru, menghargai kontribusi mereka, serta memastikan nilai-nilai tentang kemuliaan ilmu tetap hidup dalam praktik pendidikan kita.
Imam al-Zarnuji dalam kitabnya Ta’lim al-Muta’allim berkata:
“Hendaklah murid menghormati gurunya, karena keberkahan ilmu terletak pada penghormatan kepada pengajarnya”.
Pernyataan ini menunjukan bahwa hubungan murid dan guru tidak sekadar teknis, tetapi spiritual dan moral. Pada akhirnya guru adalah pewaris amanah ilmu. Profesi ini tidak hanya bertanggung jawab terhadap masyarakat akan tetapi juga pada bangsa dan agama. Dalam pandangan Islam, guru tidak hanya bernilai intelektual, tetapi juga ibadah. Dengan demikian penghormatan kepada guru bernilai Qur’ani, memuliakan orang berilmu, menghargai proses pendidikan dan menempatkan ilmu sebagai cahaya kehidupan.
Relasi antara murid dan guru bukanlah hubungan teknis di ruang kelas, melainkan hubungan spiritual dan sosial yang saling menguatkan; murid mendapatkan bimbingan dan arah, sedangkan guru memperoleh makna dari pengabdian ilmu yang ia berikan. Dalam refleksi Hari Guru Nasional, relasi ini perlu dijaga agar pendidikan tetap menjadi pilar peradaban dan sumber kemuliaan bagi generasi yang akan datang.
Istifhama (2021) menukil gagasan Al-Ghazali bahwa guru yang mengajarkan ilmu diibaratkan seperti matahari yang memberi cahaya tanpa berkurang, dan seperti kasturi yang menyebarkan harum tanpa kehilangan aromanya.
Oleh sebab itu, apabila seorang murid menginginkan kesuksesan di dunia maupun akhirat, ia hendaknya menjaga hubungan yang baik dan bersikap takzim terhadap gurunya. Sikap hormat ini akan membuka pintu keberkahan ilmu yang bermanfaat, membentuk akhlak yang mulia, serta menghadirkan doa-doa guru yang menjadi jalan terbukanya berbagai kemudahan hidup. Doa seorang guru adalah wujud cinta spiritual yang mendalam. Karena itu, menjaga adab dan kebaikan hubungan dengan guru sama halnya dengan menjaga pintu doa yang nilainya tidak ternilai oleh apa pun.
Guru dalam bingkai Al-Qur’an adalah sosok yang ditinggikan karena ilmu yang ia bawa, dihormati karena hikmah yang ia tanamkan, dan dimuliakan karena kontribusinya pada tumbuhnya peradaban. Di Hari Guru Nasional ini, bukan hanya sekadar memperingati jasa mereka, namun juga meneguhkan kembali pandangan Al-Qur’an bahwa pendidikan adalah pilar masyarakat.
Referensi
Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jilid 9. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.
Istifhama, Lia. 2021. “Kemuliaan Seorang Guru dalam Perspektif Al-Ghazali.” Jurnal Keislaman vol. 2 No. (1): 1–10.
Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. 2007. Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Jilid 24. Jakarta: Pustaka Azzam.
Zamzam dkk. 2023. “Peran Guru dalam Pendidikan Islam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits.” Edu-Riligia: Jurnal Kajian Pendidikan Islam dan Keagamaan 7(4): 251–259
Al-Zarnūjī, Burhān al-Islām. Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq al-Ta‘allum. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.









