Home / Tafsir Kontekstual / Fenomena Lebaran Blues: Membaca Ulang Etika Silaturahmi dalam Al-Qur’an

Fenomena Lebaran Blues: Membaca Ulang Etika Silaturahmi dalam Al-Qur’an

Lebaran selama ini dipahami sebagai momen kebahagiaan. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, umat Islam merayakan Idul Fitri dengan saling bermaafan dan mempererat hubungan silaturahmi. Pada momen ini, rumah-rumah biasanya akan terbuka untuk keluarga, kerabat, tetangga, dan teman lama yang datang berkunjung. Namun bagi sebagian orang, momen yang seharusnya menghadirkan kehangatan justru dapat memunculkan tekanan emosional. Percakapan yang terjadi dalam pertemuan keluarga atau silaturahmi tersebut ternyata sering menyentuh wilayah pribadi seseorang secara langsung.

Pertanyaan atau komentar yang dianggap biasa dalam budaya sosial, seperti tentang pernikahan, pekerjaan, atau jumlah anak- dapat menjadi sumber ketidaknyamanan. Fenomena ini dalam kajian psikologi populer sering disebut sebagai Lebaran blues, yaitu kondisi emosional ketika seseorang merasa tidak nyaman, cemas, atau lelah secara psikologis selama atau setelah momen perayaan yang seharusnya membawa kebahagiaan.

Lebaran Blues dan Kondisi Languishing

Dalam kajian psikologi, pengalaman emosional semacam ini dapat dikaitkan dengan konsep languishing. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Corey L. M. Keyes pada tahun 2002 untuk menggambarkan kondisi mental seseorang yang berada di antara keadaan sehat secara psikologis dan gangguan mental. Seseorang yang mengalami languishing tidak selalu berada dalam kondisi depresi, tetapi juga tidak merasakan kesejahteraan emosional secara utuh dalam kehidupannya.

Keadaan ini sering digambarkan sebagai perasaan kehilangan energi psikologis dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Orang yang mengalami languishing biasanya masih mampu menjalankan kehidupan secara normal, tetapi mereka merasa kesulitan merasakan makna, semangat, atau kepuasan dalam hidup. Secara emosional, mereka dapat merasakan kegelisahan, kehampaan, perasaan terjebak dalam situasi tertentu, serta kesulitan untuk fokus dan mempertahankan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Meskipun bukan termasuk gangguan kesehatan mental, para ahli menilai bahwa kondisi languishing dapat menjadi tanda menurunnya kesejahteraan psikologis seseorang. Jika berlangsung dalam waktu yang lama, kondisi ini bahkan dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap masalah kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi.

Dalam konteks kehidupan sosial, pengalaman languishing dapat muncul ketika seseorang berada dalam situasi yang membuatnya merasa dibandingkan dengan orang lain atau dinilai berdasarkan standar tertentu. Pertemuan keluarga, silaturahmi, atau reuni dengan teman lama terkadang tanpa disadari menghadirkan situasi semacam ini. Dalam masyarakat Indonesia, misalnya, beberapa pertanyaan yang sering muncul dalam pertemuan sosial antara lain:

  • “Kapan nikah? Kenapa belum nikah-nikah? Banyak pilih pasti nih!”
  • “Kok belum punya anak? Gak nyoba promil?”
  • “Sekarang kerja di mana?”
  • “Anaknya kok banyak sekali? Gak KB?”
  • “Sekolah tinggi tapi kerjaannya itu saja?”
  • “Ngapain susah-susah sekolah tinggi-tinggi? Kan perempuan?”

Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian atau sekadar percakapan ringan dalam suasana kekeluargaan. Namun bagi orang lain, pertanyaan yang sama dapat menjadi pengingat atas berbagai perjuangan hidup yang tidak selalu mudah untuk dijelaskan kepada orang lain.

Dalam situasi seperti ini, seseorang dapat merasakan tekanan emosional halus tapi nyata. Percakapan yang seharusnya menghadirkan kedekatan sosial justru berubah menjadi ruang yang memunculkan perbandingan diri, rasa tidak cukup baik, atau kelelahan emosional.

Fenomena inilah yang dalam konteks sosial perayaan Idul Fitri mulai diistilahkan sebagai Lebaran blues, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami ketidaknyamanan emosional di tengah suasana yang seharusnya penuh kebahagiaan.

Di sinilah pentingnya membaca kembali tradisi silaturahmi dari perspektif etika komunikasi berdasarkan kondisi psikologis manusia. Kesadaran bahwa kata-kata dapat mempengaruhi kondisi emosional seseorang menjadi langkah awal untuk membangun interaksi sosial yang lebih empatik dan menenangkan.

Perspektif Al-Qur’an: Etika Lisan dalam Silaturahmi

Fenomena yang hari ini disebut sebagai Lebaran blues tidak dapat dilepaskan dari persoalan etika komunikasi dalam interaksi sosial. Dalam banyak kasus, tekanan emosional yang muncul selama pertemuan keluarga atau silaturahmi bukan berasal dari niat buruk, melainkan dari percakapan yang tanpa disadari menyinggung wilayah pribadi seseorang.

Al-Qur’an sebenarnya telah memberikan pedoman yang sangat jelas tentang bagaimana manusia menjaga ucapan ketika berinteraksi dengan orang lain. Salah satu ayat yang sangat relevan adalah QS Al-Hujurat: 11 yang melarang orang beriman untuk mengolok-olok, merendahkan, atau mengejek orang lain. Ayat ini bahkan mengingatkan bahwa orang yang direndahkan bisa jadi lebih baik di sisi Allah dibandingkan orang yang merendahkannya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik699) setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat ini merupakan nasihat tentang sopan santun dalam pergaulan hidup di antara orang-orang beriman. Seseorang yang memiliki kesadaran iman akan lebih banyak melihat kekurangan dirinya sendiri daripada sibuk mencari kesalahan orang lain. Sikap merendahkan atau mengejek orang lain justru menunjukkan kelalaian seseorang terhadap kelemahan yang ada pada dirinya.

Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia tidak terlalu jauh mencampuri urusan pribadi orang lain. Hal ini ditegaskan pada ayat setelahnya, ayat 12, yang melarang prasangka buruk serta perilaku mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus). Dalam kehidupan sosial, ayat ini dapat dipahami sebagai peringatan agar seseorang tidak menjadikan kehidupan pribadi orang lain sebagai bahan penilaian atau percakapan yang berlebihan.

Prinsip lain yang sangat penting dalam etika komunikasi dalam Islam terdapat dalam QS Al-Ahzab: 70 yang memerintahkan orang beriman untuk berkata dengan qawlan sadīdan, yaitu perkataan yang benar, lurus, dan tepat. Para mufasir menjelaskan bahwa ucapan yang benar tidak hanya berarti jujur, tetapi juga ucapan yang membawa kebaikan dan tidak melukai orang lain.

Dalam konteks silaturahmi, ayat ini mengingatkan bahwa tidak semua hal yang benar perlu diucapkan jika penyampaiannya justru dapat menyakiti perasaan orang lain. Kejujuran dalam Islam selalu berjalan bersama dengan kebijaksanaan dan empati.

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sangat memperhatikan dampak sosial dari ucapan manusia. Cara seseorang berbicara tidak hanya mencerminkan kepribadian, tetapi juga mempengaruhi kenyamanan dan ketenangan orang lain dalam sebuah pertemuan.

Jika prinsip-prinsip ini dihadirkan kembali dalam tradisi silaturahmi, maka pertemuan keluarga, kunjungan kepada tetangga, atau perjumpaan dengan teman lama tidak lagi menjadi ruang yang menegangkan bagi sebagian orang. Sebaliknya, ia dapat menjadi ruang yang aman secara emosional, tempat setiap orang merasa dihargai tanpa harus menjelaskan atau mempertahankan kondisi hidupnya di hadapan orang lain.

Silaturahmi sebagai Ruang Penerimaan

Inti dari silaturahmi bukanlah membahas kondisi hidup seseorang secara rinci. Yang lebih dibutuhkan dalam sebuah pertemuan adalah rasa penerimaan. Merasa diterima bukan selalu berarti orang lain memahami seluruh perjalanan hidup kita. Penerimaan cukup hadir melalui hal-hal yang sederhana sepeerti percakapan santai, tawa bersama, atau kebersamaan tanpa tekanan untuk menjelaskan kondisi pribadi.

Ketika seseorang merasa diterima apa adanya tanpa harus menjawab berbagai pertanyaan tentang kehidupannya maka pertemuan pertemuan menjadi ruang yang menenangkan, bukan menegangkan. Dalam suasana seperti itu, percakapan yang ringan, kebersamaan yang hangat, dan kegembiraan sederhana sudah cukup untuk membuat seseorang merasa dihargai.

Dengan menjaga lisan dan menghadirkan penerimaan dalam silaturahmi lebaran akan mengembalikan kepada maknanya yang paling mendasar, yakni menghadirkan ketenangan hati, mempererat hubungan, dan menumbuhkan rasa saling menghargai di antara sesama. Maka pertemuan keluarga besar, kunjungan kepada tetangga, ataupun perjumpaan dengan teman lama tidak lagi menjadi kewajiban sosial yang melelahkan. Sebaliknya, ia akan menjadi momen kebersamaan yang dirindukan, tempat setiap orang merasa diterima, dihargai, dan pulang dengan hati yang lebih ringan.

Daftar Pustaka

Hamka. (1982). Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Keyes, C. L. M. (2002). The mental health continuum: From languishing to flourishing in life. Journal of Health and Social Behavior, 43(2), 207–222.

https://www.alodokter.com/mengenal-languishing-perasaan-hampa-yang-terkadang-menyapa
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *