Fenomena “lelah tanpa alasan” kini seringkali ditemui sebagai keluhan yang kerap dialami oleh banyak orang, baik itu di ruang publik maupun ruang privat. Terkadang, orang-orang menampakkan dirinya seperti tidak terjadi apa-apa dan nampak baik-baik saja. Namun, di balik itu, sebenarnya mereka merasakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Bagi mereka, bangun tidur tidak lagi mendatangkan kesegaran, justru memberikan rasa lelah dari aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan sebelumnya. Bahkan, menjalani hari pun hanya terasa seperti sekedar menyelesaikan rentetan kewajiban saja.
Fokus utama kita kini ada pada hasil, seperti pencapaian objektif, validasi eksternal dan tuntutan sosial yang tak pernah selesai. Kita selalu didorong untuk terus bergerak, menjadi seseorang yang produktif secara konsisten kemudian membuktikannya melalui pencapaian materi. Dalam perlombaan ini, kelelahan batin seringkali kita abaikan. Karena, jika fisik yang dimiliki masih mampu untuk terus bekerja, terkadang rasa lelah yang datang dari dalam seringkali hanya dianggap sebagai gangguan kecil yang bisa saja dihilangkan dengan sekedar istirahat yang cukup ataupun liburan singkat yang dirasa menyenangkan. Padahal, kelelahan batin bisa memiliki dampak yang jauh lebih buruk daripada kelelahan fisik.
Dimensi Psikologis: Kelelahan Emosional dan Hilangnya Makna
Secara psikologis, kondisi ini sering dikaitkan dengan burnout atau kelelahan emosional. Maslach dan Leiter (2016) menjelaskan bahwa kelelahan emosional bukan hanya akibat dari banyaknya volume beban kerja yang ditanggung seseorang. Lebih dari itu, ia juga muncul akibat erosi nilai dan hilangnya keterhubungan antara apa yang dilakukan seseorang dengan makna kehidupan yang sebenarnya (Maslach & Leiter, 2016). Ketika ada kesenjangan (misalignment) antara aktivitas harian dengan nilai-nilai batin, energi psikis akan terkuras habis meskipun seseorang tidak sedang melakukan aktivitas fisik yang berat.
Kelelahan ini bukan tentang seberapa banyak kita bekerja, melainkan tentang seberapa “jauh” kita merasa asing dari diri sendiri. Dalam literatur psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai de-personalisasi atau hilangnya rasa kemanusiaan dalam pekerjaan dan rutinitas. Individu merasa menjadi robot yang menjalankan program, namun kehilangan rasa kepemilikan atas hidupnya sendiri. Kondisi ini diperparah ketika kecerdasan spiritual seseorang tidak terasah, sehingga ia gagal menemukan makna di balik rutinitasnya (Vaughan, 2002).
Tasawuf: Sebuah Nalar Merawat Batin
Di tengah hiruk-pikuk disorientasi batin ini, Tasawuf menawarkan perspektif yang menyegarkan. Jika dilepaskan dari kesan eksklusif keagamaan yang kaku atau citra mistisisme yang menjauh dari dunia, Tasawuf sebenarnya dapat dipahami sebagai sebuah “teknologi batin” atau ilmu merawat kedalaman jiwa. Tasawuf tidak selalu berbicara tentang ritual-ritual yang terisolasi atau simbol-simbol luar, melainkan tentang kesadaran diri (ma’rifatun nafs), keheningan, dan restu batin atas hubungan manusia dengan Penciptanya.
Dalam nalar Tasawuf, batin atau qalb dipandang sebagai pusat gravitasi pengalaman manusia. Schimmel (1975) menjelaskan bahwa dalam tradisi sufisme, hati adalah cermin yang harus terus dibersihkan dari debu duniawi agar mampu memantulkan cahaya Ilahi. Jika batin tidak diberi ruang untuk bernapas dan tidak diberikan “nutrisi” yang tepat, ia akan mengalami kekosongan (vacuum). Akibatnya, yang muncul ke permukaan adalah kegelisahan (qalaq), hampa makna, dan kelelahan emosional yang kronis. Tasawuf mengajarkan bahwa kesehatan batin sangat bergantung pada kemampuan seseorang untuk melakukan uzlah (penyendirian) di tengah keramaian, yaitu menjaga jarak psikis agar tidak sepenuhnya terombang-ambing oleh tuntutan duniawi.
Tafsir Ketenangan: Antara Dzikr dan Mindfulness
Al-Qur’an memberikan kunci fundamental mengenai ketenangan yang tidak bersifat transaksional. Ketenangan bukan merupakan hasil dari akumulasi kepemilikan atau pencapaian karier, melainkan hasil dari kondisi batin yang “terhubung”. Salah satu ayat yang sering menjadi landasan adalah: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Jika dibedah melalui nalar tafsir yang lebih kontemporer, kata “mengingat” (dzikr) memiliki dimensi kesadaran yang sangat dalam. Mengingat Tuhan berarti mengembalikan segala atribusi duniawi yang membebani pundak kita kembali kepada sumbernya yang hakiki. Dalam bahasa psikologi kontemporer, dzikr dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk hadir sepenuhnya (being present) pada momen sekarang. Hal ini beririsan dengan konsep kecerdasan spiritual (SQ) yang menekankan pada keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri (Zohar & Marshall, 2000).
Penelitian oleh Hölzel et al. (2011) menunjukkan bahwa praktik kesadaran penuh (seperti meditasi atau dzikir yang khusyuk) secara neurologis dapat mengubah struktur otak yang mengatur stres dan emosi. Dengan menghadirkan kesadaran penuh, kita berhenti mencemaskan masa depan yang belum terjadi dan berhenti menyesali masa lalu yang sudah lewat. Ketenangan muncul saat jiwa mampu “pulang” dan hadir pada saat ini, yang kemudian mengakui adanya kehadiran Tuhan di setiap napas.
Jalan Pulang: Praktik Sederhana di Dunia yang Bising
Merawat batin tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang rumit atau praktik spiritual yang berat. Perjalanan pulang ke diri sendiri dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Tasawuf mengajarkan bahwa kejujuran terhadap diri sendiri (shidq) adalah awal dari segala ketenangan. Seringkali kita lelah karena kita terus berbohong pada diri sendiri, memaksakan diri tampil kuat di saat rapuh, atau mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk merawat batin di tengah kelelahan kehidupan modern:
- Radical Honesty: Berhenti sejenak dan jujur mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Mengakui kerapuhan adalah bentuk kekuatan batin yang luar biasa.
- Solitude (Khalwat): Memberi waktu minimal 10-15 menit sehari untuk benar-benar tanpa distraksi. Tanpa ponsel, tanpa musik, hanya ada kita dan kehadiran Tuhan dalam keheningan.
- Kesadaran Napas: Menyadari setiap tarikan napas sebagai pemberian hidup yang baru. Dalam banyak tradisi sufi, napas adalah jembatan tercepat untuk menyambungkan kesadaran dengan Sang Khalik.
Kesimpulan
Kelelahan terdalam yang kita rasakan sering kali bukan disebabkan karena hidup terlalu berat, melainkan karena kita lupa untuk berhenti dan benar-benar “pulang” pada diri sendiri. Kita mungkin telah mencapai banyak hal di luar sana, namun kehilangan kedaulatan di dalam sini, di dalam batin kita sendiri.
Tasawuf dan psikologi modern sepakat bahwa kesejahteraan manusia sejati bermuara pada integrasi antara apa yang kita lakukan dengan siapa kita sebenarnya. Kita tidak membutuhkan hidup yang lebih cepat, tetapi kita membutuhkan hidup yang lebih “hadir”. Bukan lebih banyak pencapaian yang kita perlukan untuk sembuh dari lelah batin, melainkan lebih banyak kesadaran dan keikhlasan untuk menerima bahwa kita adalah hamba yang butuh bersandar. Hanya dengan cara itulah, lelah batin yang kita pikul dapat perlahan luruh, berganti dengan ketenangan yang menetap.
Referensi
Hölzel, B. K., Lazar, S. W., Gard, T., Schuman-Olivier, Z., Vago, D. R., & Ott, U. (2011). How does mindfulness meditation work? Proposing mechanisms of action from a conceptual and neural perspective. Perspectives on Psychological Science, 6(6), 537-559. https://doi.org/10.1177/1745691611419671
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103-111. https://doi.org/10.1002/wps.20311
Schimmel, A. (1975). Mystical dimensions of Islam. University of North Carolina Press.
Vaughan, F. (2002). What is spiritual intelligence? Journal of Humanistic Psychology, 42(2), 16-33. https://doi.org/10.1177/0022167802422003
Zohar, D., & Marshall, I. (2000). SQ: Connecting with our spiritual intelligence. Bloomsbury Publishing.









