Pasti semua orang kenal dan sangat familiar dengan sebutan ‘’ Generasi Z “. Generasi Z disebut juga sebagai generasi digital, dalam bahasa sehari-hari dikenal juga sebagai “Zomers”. Sebagian mereka adalah “Baby Zoomers” yang lebih muda daripada generasi X ataupun generasi Milenial. Generasi Z rata-rata menghabiskan waktu lebih banyak dengan perangkat elektronik, mereka lebih senang bermain atau belajar dengan teknologi digital.
Namun tentu sudah kita ketahui dampak dari era digital bagi anak-anak seperti Generasi Z, Alpha, maupun Beta. Karena di zaman sekarang ini Sebagian dari mereka menyalahgunakan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, mereka cenderung lebih mengikuti perubahan zaman dengan mudahnya tanpa memperhitungkan bahwa itu adalah perbuatan yang sia-sia dan merugi.
Oleh karena itu, agar perbuatan seseorang dapat bernilai ibadah juga dapat mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat maka perlu mengetahui dan memahami dalil tentang hidup berdasarkan Al-Qur’an. Karena sesuatu yang buruk belum tentu buruk dan sesuatu yang baik belum tentu baik bagi kita. Kita sering mendengar kalimat tersebut namun nyatanya keinginan mengalahkan pengetahuan makna dari kalimat tersebut (Ade Halimah: 2023).
Ada beberapa fakta unik di zaman sekarang ini, pemuda-pemuda muslim kebanyakan menggunakan media soSial hanya untuk panjat social, joget-joget, ataupun hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya, padahal seorang pemuda muslim yang berjuang untuk agamanya adalah seseorang pemuda yang bisa menggunakan media sosial sebagai media dakwah (Luthfi Abdul Jabbar: 2025)
Artikel ini bertujuan untuk membangun Generasi Z yang bisa membawa perubahan dalam menggunakan teknologi terutama dalam membangun komunitas pembaca Al-Qur’an di era digital. Hal yang harus dilakukan adalah dengan cara menginstal Al-Qur’an terlebih dahulu dalam benaknya.
Menerapkan sistem menginstal Al-Qur’an terlebih dahulu di benak atau otak seseorang adalah metode ampuh untuk seseorang supaya bisa membedakan mana yang benar dan baik menurut syariat Islam. Benar dan baik dalam hal ini dimaksdukan untuk dapat melihat segala sesuatu berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadis. Jadi mulai sekarang, biasakan hidup dalam pandangan Al-Qur’an walupun di era digital yang terus berubah. Gunakan waktu dan kemampua untuk sesuatu yang berharga dan bermanfaat.
Selain itu, menurut hadis dalam kitab Durrotun Nasihin yang ditulis oleh Utsman bin Hasan al-Khubawi mengatakan:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya “.
Hadis ini mengartikulasikan secara jelas bahwa Islam memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa memperbanyak membaca Al-Qur’an dan menerapkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Adapun beberapa kisah yang dapat kita contoh dalam kisah pemuda Ashabul Kahfi dalam surah Al-Kahfi ayat 13 yang berbunyi:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
“Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka”.
Generasi Z harus memiliki pondasi iman yang teguh dan integritas moral untuk menjadi teladan dalam mengmalkan ajaran islam dan membangun komunitas pembaca Al-Qur’an yang ramah dan bijak.
Ada beberapa fakta menarik di zaman sekarang ini, apabila seseorang ditanya “kapan terakhir kali kamu membaca Al-Qur’an? Terkadang untuk menjawabnya saja mereka harus memikirkan jawabannya terlebih dahulu. Ataupun ketika mereka diperintahkan orang tuanya untuk membaca Al-Qur’an hampir 90% pasti mereka akan menjawab “ah males, membaca Al-Qur’an tuh ngantuk dan membosankan “
Paparan singkat ini adalah bukti nyata di zaman kita saat ini, kerap kali niat ingin membaca Al-Qur’an pasti ada saja beberapa halangan yang menjadi hambatan seseorang untuk membaca Al-Qur’an. Seperti saat baru membuka aplikasi Al-Qur’an tiba-tiba ada suara notif masuk dari Instagram, Tiktok, maupun Youtube dengan sigapnya mengklik layar notif dan berjam-jam scrool kesana kemari, hingga hasilnya adalah capek lalu tertidur hingga lupa niatan awalnya untuk membaca Al-Qur’an, terkecuali mempunyai prinsip yang kuat bagaimanapun bentuknya tetap membacanya walau ribuan notif masuk.
Dengan sepengalaman saya pribadi yang notabenenya Generasi Z, memang merasakan hal yang sama kekita belajar tentang Al-Qur’an, namun setelah mengikuti beberapa akun media sosial dari Instagram seperti “Muroja’ah Online Bersama” saya merasakan semangat belajar yang baru karena akun media tersebut menyajikan beberapa cara belajar yang menarik seperti menggunakan kuis-kuis soal berupa lanjutan ayat Al-Qur’an dan diakhiri dengan nilai (benar atau tidak) , dengan begitu para anggotanya sangat antusias dan tidak mudah bosan untuk belajar.
Maka dari itu Generasi Z ini bisa juga memanfaatkan platfrom-platfrom dari Instagram, Tik-tok, Youtube, ataupun yang lainnya untuk membuat konten-konten Islami yang menarik mereka bisa menyajikan nya dengan membuat games, lagu-lagu atapun dengan menggunakan bahasa gaul yang merupakan bahasa kekinian anak generasi Z.
Mereka juga bisa membuat beberapa akun media sosial seperti grup chat atau via zoom untuk melakukan kontek dakwah yang relavan dan membangun komunitas virtual untuk belajar dari berbagai pandangan tentang Al-Qur’an dengan berbasiskan teknologi.
Melalui pemaparan ini dapat disimpulkan Inspirasi Al-Qur’an bagi Generasi Z untuk menjadi pribadi yang memegang teguh ajaran Al-Qur’an dengan kemampuan mereka (khususnya diranah digital)dan bisa membawa perubahan yang baik untuk generasi lainnya. Ada perumpaamaan yang diambil dari hadis shahih yang diriwaytkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Al-Tirmidhi, dan Al-Nasa’I dalam kitab Durrotun Nashinin yang diterjemahkan juga oleh KH. Ahmad Luthfi Fatullah
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah JERUK; baunya harum dan rasanya manis, perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah KURMA; tidak berbau sedang rasanya manis, perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah KAYU CENDANA, baunya harum sedang rasanya pahit, perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah BROTOWALI; rasanya pahit dan tidak beraroma, perumpamaan orang yang bergaul dengan orang saleh adalah MISIK ; jika engkau tidak mendapatkan apapun darinya engkau mendapatkan wanginya, dan perumpamaan orang yang bergaul dengan orang jahat seperti berteman dengan PANDAI BESI, sekalipun tidak ada yang mengenal dirimu sediktpun dari bunga apinya, kamu tetap terkena asapnya “ .
Referensi:
Alamin, Z., Missouri, R., & Lukman, L. (2022). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pengembangan Materi Pendidikan Agama Islam: Tinjauan Aplikasi Interaktif Al-Qur’an Digital. TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, 6(2), 296-306.
Al-Khūbawī, ʿUthmān ibn Ḥasan ibn Aḥmad al-Syākir. (t.t.). Durratun Nāshiḥīn fī al-Waʿẓ wa al-Irsyād. Surabaya: Maktabah Imāratullāh.









