Home / Tafsir & Isu Kemanusiaan / Etika Memberikan Kritik kepada Pemimpin Menurut QS. Thāhā Ayat 42-44

Etika Memberikan Kritik kepada Pemimpin Menurut QS. Thāhā Ayat 42-44

Setiap orang boleh memberikan nasihat berupa kritikan terhadap pemerintahan yang ẓalim, terutama orang berilmu yang memiliki pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi. Dengan kritik diharapkan para pemimpin dapat kembali ke jalan yang benar sebagai pemimpin sesungguhnya. Lalu yang jadi pertanyaan, apakah setiap orang berhak memberikan kritik kepada pemimpin?

Siapapun boleh memberikan kritik, tetapi kritikan harus disampaikan dengan bahasa yang lembut, baik, sopan, dan tidak ada keinginan untuk mempermalukan si pemimpin dengan menggunakan bahasa atau kata-kata kasar, cacian, makian, menohok, ujaran kebencian, provokasi, ditambah dengan meme dengan bahasa satir yang menjatuhkan pemimpin. Sehingga bukan lagi maṣlaḥah yang didapat, melainkan mafsadah baru di tengah-tengah masyarakat.

Nabi SAW piawai dalam berinteraksi dan berdiplomasi dengan para pemimpin muslim bahkan pemimpin non-muslim di wilayah itu. Nabi SAW selalu mendepankan cara-cara yang bijak penuh rahmat dan kasih sayang, sehingga Islam bisa diterima dengan baik.

Al-Qur’an juga mengajarkan kepada pembacanya untuk bersikap bijaksana dalam segala konteks, termasuk memberikan kritik kepada pemimpin. Karena kritik adalah nasihat yang harus disampaikan dengan bahasa yang baik. Pesan ini diambil dari kisah Nabī Mūsā‘ as. dan Nabī Hārūn as. ketika ingin memberikan nasihat kepada Fir’aun yang dikenal dengan raja ẓalim sepanjang sejarah. Dalam firman Allah Swt.:

اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَخُوْكَ بِاٰيٰتِيْ وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِيْۚ ٤٢ اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ ٤٣ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى٤٤

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Ṭāhā/ 20: 42-44)

Dalam buku Tafsir Kebangsaan, penulis mengutip karya Quraish Shibab dalam Tafsīr al-Miṣbāḥ bahwa ayat ini merupakan lanjutan dari kisah Nabī Mūsā‘ as. dan Nabī Hārūn as. yang diberi tugas untuk menyampaikan dakwah kepada Fir’aun. Keduanya diutus oleh Allah SWT untuk menyelamatkan Banī Isrā’īl dari kesewenangan Fir’aun yang telah melampui batas keẓalimannya.

Dalam firman-Nya, “Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, yakni dengan cara yang tidak mengandung antipati dan amarah, mudah-mudahan ia ingat akan kebesaran & kekuasaan Allah SWT yang diberikan kepadanya dan kelemahan makhluk atau paling tidak ia akan takut kepada-Ku.”

Pada ayat ini, Quraish Shibab memberikan penjelasan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabī Mūsā‘ as. dan Nabī Hārūn as. berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut dan bukan kata-kata memerangi atau membunuh. Meskipun Fir’aun adalah penguasa yang melampui batas, ia tetap harus dinasehati dengan cara terbaik, yakni lemah lembut.

Hal itu dilakukan karena dakwah adalah upaya menyampaikan hidayat, maksud dari itu adalah menyampaikan dengan lemah lembut. Nadirsyah Hosen dalam bukunya yaitu Tafsir Al-Qur’an di Medsos bahwa beliau memberikan ulasan, yaitu ketika Nabī Mūsā‘ as. dan Nabī Hārūn as. diutus untuk bertemu Raja Fir’aun, Allah SWT menitipkan pesan luar biasa bahwa menyampaikan dakwah dengan kata-kata yang lemah lembut, bukan mencak-mencak tidak karuan. Jika ada mencak-mencak dan menuduh sana sini kepada kita sebagai pemimpin, jawab saja, “Saya belum seingkar Fir’aun, dan Anda belum sesuci Nabī Mūsā‘ as.,

Syamsuri dalam bukunya yang berjudul Tafsir di Era Revolusi Industri 4.0. mengatakan bahwa beliau memberikan pelajaran berharga dari kutipan ayat tersebut, yakni:

Pertama, Allah SWT memerintahkan kepada Nabī Mūsā‘ as. & Nabī Hārūn as. untuk menyampaikan nasihat secara langsung kepada Fir’aun agar dia kembali ke jalan benar. Ini salah satu cara yang dianjurkan dalam memberikan nasihat kepada pemimpin. Kedua, Musa dan Harun ditugaskan oleh Tuhan untuk menyampaikan aspirasi kebenaran terhadap penguasa. Ketiga, Nasihat yang berupa kritikan hendaknya disampaikan oleh orang-orang yang berilmu dalam bidang tersebut. Keempat, menyampaikan nasihat kepada pemimpin harus dengan perkataan yang baik dan lemah lembut, agar hati mereka tersentuh dan menerima apa yang disampaikan.

Kelima, harus mempunyai keberanian dalam menyuarakan kebenaran kepada pemerintah, bukan sebatas koar-koar di media sosial atau melaui mimbar-mimbar, melainkan keberanian untuk berdialog serta berdiskusi secara langsung. Strategi Musa dan Harun juga dicontoh oleh Rasulullah Saw. dengan cara beliau memberikan kritikan dan seruan kepada raja-raja agar masuk Islam. Salah satunya kepada Raja Romawi.

Kita ingin mencontoh bagaimana cara Nabi SAW mengajak seseorang untuk masuk dalam ajara agama Islam. Kalau dilihat dalam isi surat yang diberikan kepada Raja Heraclius, tidak ada satupun kata-kata ujaran kebencian atau ancaman, semua dimulai dengan ilustrasi bahwa agama Islam merupakan agama dengan rahmat dan kasih sayang, mengedepankan perdamaian tanpa ada paksaan dalam memeluk Islam.

Berbeda dengan zaman sekarang, dimana netizen dengan mudahnya mengkritik penguasa tanpa didasari ilmu, kritikan dengan isi cacian, niatnya memberikan kritikan tetapi muatannya dapat memecah belah masyarakat. Akibatnya, perpecahan dan konflik berkepanjangan. Sumber penyebabnya, karena zaman sekarang serba instan, orang sibuk dengan dunia medsos, dibandingkan dengan membaca Al-Qur’an.

Adapun pemimpin-pemimpin yang tetap lalai pasca diingatkan berupa kritikan, sebaiknya dievaluasi secara komprehensif kinerjanya. Evaluasi secara menyeluruh itu sangat penting dilakukan agar pemimpin itu dipertimbangkan untuk dipilih atau tidak pada periode selanjutnya, supaya tidak terjadinya keẓaliman yang lebih parah lagi.

Referensi:

  • Arromadloni, M Najih, dkk. 2021. Tafsir Kebangsaan; Cinta Tanah Air, Toleransi, dan Bela Negara dalam Al-Qur’an. Tangerang Selatan: Yayasan Pengkajian Hadits el-Bukhori.
  • Hosen, Nadirsyah. 2019. Tafsir Al-Qur’an di Medsos; Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci Pada Era Media Sosial. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
  • Syamsuri. 2021. Tafsir di Era Revolusi Industri 4.0. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *