Perkembangan sebuah zaman dapat membawa suatu perubahan pada kehidupan manusia. Khususnya pada era modernisasi dan globalisai yang sudah menciptakan gaya hidup modern yang ditandai dengan konsumsi instan, aktivitas kesehatan jasmani yang berkurang, dan takanan mental yang diakibatkan tuntutan lingkungan. Maka dari itu, diperlukannya pendekatan yang tidak hanya bersifat medis, tetapi menyentuh pada spiritual.
Pada kehidupan komtemporer kesehatan sangat amat diprihatinkan, baik kesehatan fisik maupun mental. Kesehatan fisik dan mental merupakan aspek penting, karena telah digariskan dalam kitab suci Al-Qur’an. Menjalankan suatu ibadah merupakan sebuah kewajiban bagi umat muslim, maka dari itu untuk menjalankan ibadah yang baik dan benar harus didukung dengan kesehatan jasmani dan rohani.
Rasulullah SAW bersabda pada sebuah hadis riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah, “Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan sehat jasmaninya, menemukan rasa aman pada dirinya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.”
Hadits tersebut menjelaskan bahwa kesehatan memiliki peran yang sentral untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan kewajiban beribadah. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis memberikan panduan dan etika dalam aktivitas manusia sehari-hari. Ajaran tersebut mengandung berbagai aspek kehidupan manusia, ekonomi, dan sosial (Fauzi, 2021:38-47). Dalam menerapkan ajaran Al-Qur’an dan hadis menjadi tantangan dalam kehidupan di era modernisasi.
Dalam Al-Qur’an kesehatan menjadi suatu hal yang komperhensif, berupa kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Kata sehat dalam bahasa arab yaitu ash-shihhah memiliki arti keadaan yang baik, terhindar dari suatu penyakit, dan dalam keadaan yang normal. Sebagaimana dalam Al-Qur’an kata “Syifa” memiliki arti obat pada surah An-nahl ayat 69, penawar pada surah al-Isra ayat 82, penyembuh pada surah al-Fushilat ayat 44 dan Surah Yunus ayat 57.
Kesehatan jasmani pada Al-Qur’an berupa penjagaan tubuh dengan cara mengatur pola hidup sehat, seperti menjaga kebersihan, pola makan, dan pencegahan suatu penyakit. Sementara kesehatan rohani dapat berupa zikir, ketenangan dalam hati, yang merupakan hubungan antara diri sendiri dan sang pencipta (Lilin Rosyanti, Indriono Hadi,Akhmad Akhmad, 2022).
Nilai-Nilai kesehatan dalam Al-Qur’an: Konsumsi makanan yang Halalan Thayyiba
Makanan yang halal merupakan makanan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi sesuai dengan syari’at islam. Sedangkan makanan thayyiba merupakan makanan dengan kondisi yang baik dari segi kualitas dan kuantitas, menyenangkan, dan nikmat (Halim Setiawan, 2020 43-44). Sebagaimana firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah ayat 168:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya : Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.
Kebersihan dan pencegahan penyakit
Nilai kebersihan merupakan ajaran dari islam, salah satunya dengan Thaharah. Thaharah memiliki kaitan dengan suatu ibadah dan implikasi terhadap kesehatan. Kebersihan diri dan lingkungan merupakan bentuk pencegahan suatu penyakit dengan menggunakan prinsip kesehatan modern (Muhammad Safiq, 2024:12-14). Maka dari itu, Islam mengajarkan mengenai kebersihan yang dapat dipahami dalam menjaga kesehatan. Sebagaimana dalam firman allah pada QS. Al-Baqarah ayat 222
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
Keseimbangan dan Moderasi Hidup
Dalam menjalani suatu kehidupan, Al-Qur’an mempunyai ajaran mengenai keseimbangan (wasathiyyah). Keseimbangan antara istirahat dan ibadah yang merupakan relevan dalam menjaga kesehatan, yang dapat disebut sebagai konsep work life balance. Ketidakseimbangan dalam sebuah aktivitas sehari-hari yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan mental dan fisik.
Kesehatan Mental dan Spiritual
Definisi kesehatan mental memiliki beberapa pandangan dari para ahli: menurut Zakiah Darajat, kesehatan mental yaitu usaha dalam memaksimalkan seluruh potensi dalam diri seseorang, sehingga mendapat kebahagiaan dan terhindar dari gangguan jiwa. Kesehatan mental adalah keadaan dimana seseorang dapat menerima dirinya, mengatasi semua masalah hidup, dan meraih kebahagiaan.
Hubungan kesehatan mental dan spiritual sangat terikat dalam menumbuhkan kesejahteraan setiap individu. Spiritual dapat memberikan dan membantu dalam mengatasi stress, kecemasan dan dapat menciptakan ketenangan dalam hati. Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenangan hati dapat dimiliki melalui berzikir terhadap Allah SWT. Sebagaimana pada QS. Al-Baqarah ayat 28 :
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Pada QS. Yunus ayat 57 menyebutkan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah pelajaran dan penyembuh hati bagi orang yang beriman.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya : “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.”
Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an berisikan prinsip kesehatan yang bersifat universal. Prinsip-prinsip tersebut yang meliputi segi fisik, mental, serta spiritual yang saling berkaitan. Dalam gaya hidup kontemporer, prinsip-prinsip kesehatan dalam Al-Qur’an akan tetap aplikatif untuk untuk menjadi sebuah pedoman dalam menjaga kesehatan individu dan masyarakat.
Referensi
Fauzi, M. (2021). Relevansi Makna Pegon dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an di Era Milenial. Tadris: Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Pendidikan Islam, 38–47.
Rosyanti, Lilin, Indriono Hadi, Akhmad Akhmad. (2022). Spiritual Health Al-Qur’an Therapy as Physical and Psychological Treatment during the COVID-19 Pandemic. jurnal penelitian.
Safiq, Muhammad. (2024). Penafsiran ayat-ayat thaharah dalam al-Qur’an dan kaitannya dengan kesehatan menurut musaffir. Skripsi, 12-14.









