Dalam kehidupan ini, sering kali kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, dimana apa yang kita inginkan bertentangan dengan apa yang harus kita lakukan. Salah satu ayat Al-Qur’an yang paling menggugah tentang hal ini adalah Surah Al-Baqarah ayat 216, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
Artinya: “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Sebagaimana ditekankan oleh Imam Ar-Rāzī (Tafsir Ar-Razi, Jilid 6, 385), kesadaran mendalam akan kesempurnaan Ilmu Allah akan membimbing seorang hamba untuk sepenuhnya tunduk. Keyakinan ini mengajarkan bahwa setiap titah-Nya, bahkan yang terasa berat atau dibenci oleh naluri, sesungguhnya menyimpan kebaikan mutlak dan kemaslahatan yang pasti bagi manusia.
Menanggapi hal ini, ‘Ikrimah menggambarkan transformasi batin yang luar biasa: Awalnya, ada rasa keberatan, namun akhirnya berubah menjadi penerimaan penuh dengan pernyataan, “Kami dengar dan kami taat.” Ketaatan memang menuntut pengorbanan, tetapi begitu pahala dan tujuan akhir yang mulia terungkap, beban kesulitan yang dipikul seketika terasa ringan dan berharga.
Al-Qurṭubī dalam Tafsir Al-Qurthubi, bahkan menyajikan analogi yang memikat dari kehidupan dunia: kita rela menanggung rasa sakit dari operasi pengangkatan anggota yang sakit, pencabutan gigi, atau terapi bekam semua demi meraih kesembuhan dan kesehatan yang langgeng (Al-Qurṭubī, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 3, 38). Lantas, bukankah kesulitan menaati perintah Tuhan jauh lebih layak ditanggung, karena imbalannya adalah kenikmatan tertinggi: kehidupan abadi di negeri kemuliaan dan kedamaian (Surga).
Sejalan dengan itu, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Tafsir Al-Mishbah, Jilid 1, 557) menitipkan pesan agar kita senantiasa merawat optimisme. Dalam setiap kesulitan, hendaknya jiwa berbisik khusyuk, “Bisa jadi…”, karena di balik setiap guncangan, selalu ada rahasia indah yang sedang dipersiapkan-Nya”.
Mungkin kita bisa membayangkan bagaimana suasana di Madinah pada saat itu, ketika umat Islam baru saja hijrah dari Mekah. Mereka adalah sekelompok orang yang lemah, teraniaya, dan hidup dalam ketakutan. Perang bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang dipaksakan oleh realitas. Allah memerintahkan mereka untuk berperang melawan musuh-musuh yang terus menyerang, meskipun hati mereka penuh dengan keraguan dan ketakutan. Mengapa? Karena di balik kewajiban itu, tersimpan hikmah yang hanya Allah yang tahu.
Perang tersebut, yang mereka benci, ternyata membawa kemenangan, keamanan, dan penyebaran Islam yang luas. Tanpa perang, mungkin umat Islam akan punah, dan pesan tauhid tidak akan tersebar. Ini adalah contoh nyata bahwa apa yang kita benci seperti risiko, ketidaknyamanan, atau bahkan bahaya bisa jadi jalan menuju kebaikan yang lebih besar. Sebaliknya, apa yang kita sukai, seperti kemalasan atau kesenangan sesaat, mungkin menyimpan bahaya yang tak terlihat.
Sekarang kita renungi secara mendalam pada penggalan ayat ini:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ini adalah pengakuan bahwa visi kita terbatas. Kita melihat dunia dari sudut pandang manusiawi, yang sering kali dipengaruhi oleh emosi, pengalaman masa lalu, atau keinginan pribadi. Allah, di sisi lain, melihat segalanya dengan pengetahuan yang sempurna masa lalu, sekarang, dan masa depan.
Bayangkan seorang anak kecil yang menolak makan sayur karena rasanya pahit, padahal sayur itu penuh nutrisi untuk pertumbuhannya. Orang tua tahu apa yang terbaik, meskipun anaknya tidak. Begitu pula dengan Allah; Dia tahu bahwa perang pada masa itu, meskipun penuh darah dan air mata, adalah obat untuk penyakit sosial yang lebih besar, seperti penindasan dan ketidakadilan.
Dalam kehidupan sehari-hari, hikmah ini sering terlihat. Misalnya, seorang mahasiswa mungkin membenci tugas dari kuliahnya karena stres dan kelelahan, tetapi ujian itu justru membangun ketahanan dan pengetahuan yang akan berguna di masa depan. Atau, mungkin seorang pejabat yang awalnya tergoda menyelewengkan amanah demi keuntungan sesaat sebuah godaan yang terasa ‘manis’ di awal namun berakhir dijeruji, tetapi justru saat ia teguh menjalankan tugasnya dengan jujur dan tulus, ia bukan hanya menuai sanjungan, tetapi mengukir namanya abadi dalam hati rakyat sebuah kemuliaan yang tak bisa dibeli oleh korupsi manapun.
Di sisi lain, ketika ujian terberat datang dan merenggut kenyamanan raga, misalnya berupa penyakit yang terasa begitu memukul, seringkali bisikan pertama dalam hati adalah keputusasaan yang pilu: ‘Mengapa harus aku? Apa salahku hingga ditimpa beban seberat ini?’ Namun, di balik tirai rasa sakit itu, sesungguhnya tersimpan kasih sayang yang luar biasa: Allah sedang mengangkat derajat kita setinggi-tingginya, mengikis dosa-dosa kita hingga bersih, dan menanti dengan lembut, ingin melihat bagaimana hati yang rapuh ini berserah diri sepenuhnya kepada-Nya, menjadikan sakit itu sebagai jembatan terindah menuju rida-Nya.
Pada akhirnya, ayat Al-Baqarah 216 mengingatkan kita untuk melihat di balik permukaan. Apa yang kita benci mungkin adalah pintu menuju kebaikan, dan apa yang kita sukai bisa jadi racun tersembunyi. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, hikmah ini seperti kompas yang menuntun kita untuk percaya pada pengetahuan Allah. Mari kita ambil pelajaran dari perang masa lalu: meskipun pahit, ia membawa kemenangan. Begitu pula dengan tantangan hidup kita hari ini dengan sabar dan iman, kita akan menemukan bahwa Allah selalu tahu yang terbaik.
Referensi
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Ed. rev., Lentera Hati, 2017.
Al-Qurṭubī, Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Aḥmad bin Abī Bakr bin Farḥ al-Anṣārī al-Khazrajī Shams ad-Dīn. al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān = Tafsīr al-Qurṭubī. Disunting oleh Aḥmad al-Bardūnī dan Ibrāhīm Aṭfīsh. Cet. 2. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1384 H/1964 M
Al-Razi, Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Umar bin Hasan bin Husain al-Taymi. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1914.









