Bencana alam yang terus terjadi di berbagai wilayah Sumatra sering kali dipahami sebagai peristiwa alam biasa atau takdir yang tidak dapat dihindari. Banjir, longsor, dan gempa datang silih berganti, meninggalkan kerugian besar bagi masyarakat dan lingkungan. Namun, di balik peristiwa tersebut, muncul pertanyaan penting: Apakah bencana benar-benar terjadi tanpa keterlibatan manusia?
Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan bahwa manusia memiliki peran besar terhadap kondisi bumi yang ia tempati. Melalui berbagai ayat, Al-Qur’an menegaskan larangan melakukan kerusakan serta tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam Tafsir Al-Maraghi, ayat-ayat ini tidak hanya dipahami secara teologis, tetapi juga dikaitkan langsung dengan realitas sosial dan perilaku manusia. Oleh karena itu, bencana alam tidak dapat dilepaskan dari cara manusia memperlakukan alam dan lingkungannya.

(Banyak jembatan putus, rumah hilang, tanah longsor, banjir dan sampah kayu bertumpuk)
Dalam melihat bencana alam dari sudut pandang Al-Qur’an, Tafsir Al-Maraghi memberikan penjelasan yang kontekstual, dengan menautkan ayat-ayat tentang kerusakan bumi pada realitas kehidupan manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 205:
وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Artinya: “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.”
Ahmad Mustafa al-Maraghi menjelaskan makna ayat di atas dalam karyanya Tafsir Al-Maraghi jilid 1 halaman 111
وَإِذا تَوَلَّى سَعى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيها أي إن مثل هؤلاء إذا أعرضوا عن مخاطبيهم وذهبوا لشأنهم، فإن سعيهم يكون على ضد ما قالوا، فهم يدّعون الصلاح والإصلاح ثم يسعون في الأرض بالفساد، إذ لا همّ لهم إلا اللذات والحظوظ الدنيئة التي لأجلها يعادون أرباب الفضيلة، ويكونون من ذوى اللدد والخصومة لهم، لما بينهم من التناقض في السجايا والغرائز، بل يعادون أمثالهم من المفسدين، إذ من دأبهم الكيد للناس ومحاولة الإيقاع بهم
وقوله في الأرض يفيد العموم أي إنهم في أي مكان يحلون فيه يفسدون
وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ أي إنه دائب على إفساده مسترسل فيه ولو أدى إلى إهلاك الحرث والنسل، وهكذا شأن المفسدين يؤذون إرضاء لشهواتهم ولو خربت الدنيا بأسرها
وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسادَ أي والله لا يرضى الفساد ولا يحبه، فلا يحب المفسدين، وفي الآية إيماء إلى أن تلك الصفات المحمودة في الظاهر لا تكون مرضية عند الله إلا إذا أصلح صاحبها عمله، لأن الله لا ينظر إلى الصور والأقوال، وإنما ينظر إلى القلوب والأعمال
Terjemah: (Dan ketika ia berpaling, ia berusaha di seluruh negeri untuk menimbulkan kerusakan di dalamnya) Artinya, jika orang-orang seperti itu berpaling dari lawan bicara mereka dan melanjutkan urusan mereka, maka usaha mereka akan bertentangan dengan apa yang mereka katakan. Mereka mengklaim kebenaran dan reformasi, kemudian mereka berusaha di seluruh negeri untuk menimbulkan kerusakan, karena mereka tidak memiliki perhatian lain selain kesenangan dan keinginan rendah, yang karenanya mereka menentang orang-orang yang berbudi luhur dan termasuk di antara orang-orang yang bermusuhan dan suka bertengkar terhadap mereka, karena kontradiksi antara mereka dalam karakter dan naluri. Bahkan, mereka menentang sesama pelaku kerusakan, karena sudah menjadi kebiasaan mereka untuk bersekongkol melawan orang lain dan mencoba menjebak mereka. Pernyataan “di bumi” yang diucapkannya menyiratkan generalisasi, artinya di mana pun mereka menetap, mereka menyebabkan kerusakan. (Dan dia menghancurkan tanaman dan keturunan) artinya dia terus-menerus merusak mereka dan terus melakukannya meskipun hal itu menyebabkan kehancuran tanaman dan keturunan. Inilah jalan orang-orang yang rusak; mereka berbuat jahat untuk memuaskan keinginan mereka meskipun seluruh dunia hancur.
Dan di situlah terdapat pelajaran bagi mereka yang mencabut tanaman dan membunuh hewan dengan racun dan cara lain, sebagai pembalasan terhadap orang-orang yang mereka benci. Di manakahkah mereka dalam kaitannya dengan petunjuk Islam dan petunjuk Al-Qur’an. (Dan Allah tidak menyukai kerusakan) artinya, Allah tidak menyetujui kerusakan dan tidak pula menyukainya, sehingga Dia tidak menyukai orang-orang yang korup. Dan dalam ayat tersebut terdapat indikasi bahwa sifat-sifat terpuji dalam penampilan tidak akan menyenangkan Allah kecuali jika pemiliknya memperbaiki tindakannya, karena Allah tidak melihat penampilan dan ucapan, melainkan hati dan perbuatan.
QS. Al-Baqarah ayat 205 memiliki keterkaitan munasabah yang erat dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat 204 menggambarkan karakter manusia yang tampak baik dalam ucapan, sementara ayat 205 menjelaskan dampak nyata dari sikap tersebut berupa kerusakan di bumi. Adapun ayat 206 menegaskan konsekuensi moral dari perilaku tersebut. Ayat 205 surah Al-Baqarah yang dibahas menunjukkan bahwa kerusakan alam berkaitan erat dengan perilaku manusia yang mengabaikan amanah sebagai khalifah di bumi.
Dalam Tafsir Al-Maraghi, larangan berbuat kerusakan dipahami sebagai peringatan terhadap eksploitasi dan sikap melampaui batas dalam memanfaatkan alam. Penulis berpendapat bahwa bencana alam tidak semestinya dipahami semata sebagai takdir, melainkan sebagai akibat dari penyimpangan manusia terhadap tanggung jawabnya. Oleh karena itu, bencana hendaknya menjadi sarana muhasabah agar manusia kembali menjaga keseimbangan dan kelestarian bumi.
Dikuatkan juga dalam Firman Allah surah An-Nisa ayat 79
مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
Artinya: “Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi.”
Menurut Ibnu Katsir ayat di atas. Menekankan hubungan sebab akibat perbuatan manusia dengan akibat buruj yang menimpanya, dalam tafsir jalalayn focus pada akibat perbuatan manusia sendiri, dan terakhir dalam tafsir tahlili dari NU online menekankan tanggung jawab manusia akibat perilakunya.
Mufrodat / kosakata
الحَسَنَةُ (ḥasanah): الخير، النعمة، أو الفضل(kebaikan, nikmat, atau karunia)
السَّيِّئَةُ (sayyi’ah): الشَّرّ، المصيبة، أو البلاء(keburukan, musibah, atau bencana)
مِنْ نَفْسِكَ (min nafsika): من عملك أو من تقصيرك(berasal dari perbuatan atau kelalaian manusia sendiri)
Bencana alam bukan sekadar peristiwa tak terelakkan, melainkan peringatan agar manusia kembali menjaga amanahnya
Referensi
Ibnu Katsīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Beirut: Dār al-Fikr, t.t.
Al-Marāghī, Aḥmad Muṣṭafā. Tafsīr al-Marāghī. Beirut: Dār al-Fikr, t.t.
Ibn Manẓūr, Muḥammad bin Mukarram. Lisān al-‘Arab. Beirut: Dār Ṣādir, t.t.









