Tidak terlahir hebat, tapi tetap melangkah. Mengupas Boku no Hero Academia dari perspektif tafsir. Boku no Hero Academia (BNHA) merupakan karya fiksi yang merefleksikan krisis moral manusia modern: kekuasaan, ketidakadilan, trauma, tanggung jawab, dan “pahlawan”sejati.
Tidak semua orang lahir dengan bekal yang sama. Ada yang sejak awal sudah diberi jalan lebar, ada pula yang bahkan untuk bermimpi saja harus berhadapan dengan ejekan. Boku no Hero Academia (BNHA) memulai ceritanya dari titik ini, dari seorang anak bernama Midoriya Izuku yang tidak punya apa-apa, kecuali satu hal yang sering dianggap sepele: keinginan untuk tetap melangkah.
Di dunia BNHA, kekuatan disebut quirk. Hampir semua orang memilikinya. Tanpa quirk, seseorang dianggap cacat secara sosial. Tidak layak berharap, apalagi bermimpi menjadi pahlawan. Midoriya lahir di posisi paling bawah dalam hierarki ini. Ia tidak ditolak karena jahat, tapi karena tidak memenuhi standar. Maka di titik ini, BNHA sebenarnya sedang berbicara tentang dunia kita sendiri.
Dunia yang cepat menghakimi hasil, lambat memahami proses! Midoriya kecil sering menangis. Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia sadar dunia tidak memberinya alasan untuk percaya. Namun alih-alih memelihara kebencian, ia memilih satu jalan sunyi: belajar, mencatat, mengamati, dan berharap diam-diam. Ia tahu peluangnya kecil. Tapi ia juga tahu satu hal: berhenti bermimpi adalah kekalahan yang pasti.
Dalam perspektif tafsir, ini selaras dengan prinsip dasar kehidupan: manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari usaha dan arah niatnya.
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah ia usahakan.” (QS. An-Najm: 39)
Ayat ini tidak menjanjikan hasil instan. Ia tidak berkata semua orang pasti menang. Tetapi ia menegaskan sesuatu yang lebih jujur: usaha manusia tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan, meski sering tidak dihargai oleh manusia.
Midoriya dan Iman yang Tidak Bernama. Menariknya, Midoriya bukan sosok religius. Ia tidak berbicara tentang Tuhan, pahala, atau akhirat. Namun sikap hidupnya mencerminkan sesuatu yang dalam tafsir Islam disebut istiqamah: bertahan pada kebaikan meski tidak ada jaminan hasil. Ia menolong sebelum memiliki kekuatan. Ia peduli sebelum diakui. Ia bergerak bahkan saat dunia berkata “tidak mungkin”. Dalam hadis disebutkan:
Artinya: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Midoriya tidak hebat karena satu momen heroik. Ia tumbuh dari akumulasi langkah kecil yang konsisten, langkah-langkah yang sering tidak dilihat siapa pun. Dan barangkali di situlah letak hikmah terdalam BNHA: kepahlawanan bukan peristiwa besar, melainkan kebiasaan kecil yang tidak berhenti.
Shigaraki: Ketika luka tidak pernah ditafsirkan dengan cinta. Di sisi lain cerita, ada Tomura Shigaraki. Ia juga korban. Ia juga terluka. Namun ia mengambil jalan yang berbeda. Dunia yang tidak adil ia jawab dengan kebencian. Rasa sakit ia tafsirkan sebagai izin untuk menghancurkan. Shigaraki bukan bukti bahwa penderitaan melahirkan kejahatan, melainkan peringatan bahwa luka yang tidak dipeluk dengan empati akan mencari jalan sendiri, sering kali lewat kehancuran.
Islam sangat jujur dalam hal ini. Luka tidak diingkari, tetapi juga tidak dijadikan pembenaran mutlak. “Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. Al-Ma’idah: 8). Shigaraki mengingatkan kita: dunia yang abai pada yang lemah sedang menanam bencana masa depan.
All Might: Simbol yang Pernah Lelah Menjadi Manusia. All Might adalah mimpi yang berhasil. Ia pernah seperti Midoriya, lemah, berjuang, lalu menjadi simbol perdamaian. Namun justru di sini BNHA menyampaikan kritik halus: bahkan simbol kebaikan pun bisa menjadi masalah jika ia berdiri sendirian. All Might menanggung dunia sendirian. Ia menutupi luka. Ia memerankan kekuatan, sampai akhirnya runtuh. Dalam Islam, kebaikan tidak pernah diminta untuk ditanggung sendirian.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Kematangan All Might bukan saat ia paling kuat, tetapi saat ia berhenti menjadi simbol dan memilih menjadi guru. Ia tidak lagi ingin dikenang sebagai yang terhebat, tetapi sebagai yang meneruskan nilai.

Pada akhirnya dari anime ini kita belajar akan sisi dunia. BNH yang sangat dekat dengan anak muda dan telah resmi tamat ini, tidak menawarkan dunia ideal. Ia justru memperlihatkan dunia yang timpang, tidak adil, dan sering terlambat menolong. Namun di tengah itu, ia menyelipkan satu pesan yang jujur dan manusiawi: kita tidak selalu bisa memilih kondisi awal, tapi selalu bisa memilih sikap batin.
Midoriya tidak menang karena dunia berubah menjadi adil. Ia bertahan karena ia menolak membiarkan dunia menentukan nilai dirinya. Dan barangkali, di situlah tafsir paling relevan untuk kita hari ini: Bagi mereka yang tidak terlahir unggul, Bagi mereka yang sering kalah dalam perbandingan, Bagi mereka yang lelah tapi belum ingin menyerah. Mungkin kita tidak akan menjadi pahlawan. Tapi selama kita tetap melangkah, kita belum kalah.









