FOMO atau Fear of Missing Out adalah salah satu isu sosial dan psikologis yang semakin terasa jelas di era modern, terutama dengan berkembangnya media sosial yang pesat. Fenomena ini sering menimpa para remaja yang hidup di era teknologi yang didukung besarnya arus media sosial. FOMO menggambarkan perasaan cemas atau takut tertinggal dari orang lain.
Saat seseorang melihat kesuksesan, kebahagiaan, atau popularitas orang di sekitarnya, mereka merasa gelisah dan terdorong untuk ikut serta, meskipun dalam banyak kasus tidak mempertimbangkan nilai, manfaat, dan dampak yang mungkin terjadi jangka panjang (Panggabean et al., 2021). Fenomena ini menimbulkan sikap konsumtif, rasa iri, krisis identitas, serta ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi.
Dalam pandangan Islam, istilah FOMO tidak secara langsung disebutkan, namun substansi dari sikap dan perilaku yang mendasarinya sudah banyak dibicarakan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Islam melihat bahwa kegelisahan batin seperti ini berasal dari kesalahan dalam memandang hidup, yaitu ketika seseorang terlalu terikat pada penilaian orang lain dan keindahan dunia yang sementara. Karena itu, membahas FOMO dari perspektif Al-Qur’an dan Hadis sangat penting untuk menunjukkan bahwa Islam memiliki nilai-nilai etika dan spiritual yang relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern manusia.
FOMO memiliki ciri khas utama yaitu mengikuti khalayak umum atau biasa kita kenal tren tanpa mengetahuitujuan utamanya untuk apa. Konteks ini sesuai dengan peringatan tegas yang telah Allah berikan dalam Al-Quran surat Al-An‘am ayat 116:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka, dan mereka hanyalah berdusta.”
Salah satu mufasir seperti Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah Ayat ini menegaskan kepada Nabi Muhammad dan umat Islam untuk tidak mengikuti mayoritas umat di muka bumi ini. Kata yakhrushuna lebih tepat diartikan sebagai kepercayaan atau keyakinan yang sebenarnya hanya berdasarkan alasan-alasan yang lemah, tidak memiliki dasar yang kuat, serta tidak dapat diterima oleh semua orang yang berpikir secara rasional (Shihab, 2005). Untuk mengukur standar kebenaran tidak bisa dilihat hanya dari kuantitasnya saja namun harus dilihat dari segi sumber kebenarannya.
Pada saat ini mayoritas manusia bertindak hanya belandasan prasangka, kepentingan sesaat, dan dorongan hawa nafsu. Dalam konteks FOMO, seseorang mengikuti tren bukan karena memandang dari sisi kebaikan atau kebenaran di baliknya, melainkan karena ketakutan akan perbedaan dan ketakutan akan ketertinggalan. Hal ini menunjukkan kesamaan antara FOMO dengan sikap yang dikritik Al-Qur’an, yaitu mengikuti kebanyakan orang tanpa dasar dan tujuan yang jelas.
Budaya media sosial membuat kecenderungan tersebut begitu marak dikalangan masyarakat modern. Popularitas diukur berdasarkan jumlah pengikut, likes, dan pengakuan dari masyarakat. Akibatnya, seseorang dengan mudah terjebak dalam standar sosial yang ditentukan oleh mayoritas, meskipun standar itu bertentangan dengan nilai-nilai moral dan spiritual. Surah Al-An‘am ayat 116 mengajarkan bahwa seorang mukmin seharusnya memiliki keteguhan pada prinsip, tidak mengacuhkan mayoritas sebagai acuan utama, melainkan mengacu pada wahyu sebagai standar kebenaran.
Hadis Nabi SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,
عَنْ أَبِي هُزَيّْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَذَا حَدِیثٌ صَحِیحٌ
“Lihatlah orang yang ada di bawah dari kalian, jangan melihat yang ada di atas kalian, karena yang demikian lebih mendorong untuk tidak mengurangi nikmat Allah atasmu.” (HR. Tirmidzi: 2437)
Para ulama dalam kitab-kitab syarah hadis menjelaskan bahwa pesan utama hadis ini berkaitan erat dengan pembentukan sikap syukur dan penjagaan hati dari penyakit ketidakpuasan. Dalam penjelasan lafaz hadis, “انظروا إلى من هو أسفل منكم” dimaknai sebagai perintah untuk memperhatikan orang-orang yang berada di bawah kita dalam hal rezeki dan kenikmatan dunia.
Artinya, seorang Muslim dianjurkan untuk menyadari bahwa Allah telah memberinya kelebihan tertentu dibandingkan orang lain. Sebaliknya, larangan “ولا تنظروا إلى من هو فوقكم” menunjukkan larangan membandingkan diri dengan mereka yang lebih unggul dalam urusan dunia, karena perbandingan semacam itu berpotensi melahirkan rasa tidak puas, iri, dan meremehkan nikmat Allah.
Ulama syarah hadis menegaskan bahwa hikmah dari anjuran ini adalah agar manusia tidak menganggap remeh nikmat Allah yang telah diterimanya. Pandangan terus-menerus kepada orang yang lebih berada akan mendorong munculnya sikap izdirā’ an-ni‘mah (meremehkan nikmat), yang dalam Islam dipandang sebagai pintu menuju hilangnya keberkahan. Bahkan dalam syarah disebutkan bahwa “النعمة صيد وشكرها قيد” nikmat itu ibarat buruan, dan syukur adalah tali pengikatnya. Tanpa syukur, nikmat berpotensi lepas dan hilang.
Penjelasan ini sangat relevan dengan fenomena FOMO yang terjadi saat ini. Budaya FOMO pada dasarnya terbentuk dari perbandingan sosial ke atas, yaitu kecenderungan untuk memandang pencapaian, kekayaan, dan gaya hidup orang lain yang dianggap lebih sukses. Media sosial memperparah hal ini dengan menampilkan gambaran kehidupan yang tampak sempurna dan cenderung dipilih-pilih. Akibatnya, seseorang mudah merasa tertinggal, merasa tidak beruntung, dan kesulitan menikmati apa yang telah ia miliki.
Membandingkan diri seringkali awalnya bertujuan untuk memicu semangat atau ambisi menjadi lebih baik, namun perbandingan yang berlebih mampu membawa kepada timbulnya rasa gelisah, kehilangan identitas, tidak bersyukur sehingga menjauhkan manusia dari ridha Allah. Untuk itu, Nabi SAW memberikan solusi yang konstruktif, yaitu dengan melihat ke bawah sebagai cara untuk memupuk rasa syukur dan ketenangan jiwa.
Prinsip ini menjadi kritik terhadap prinsip FOMO yang mengukur kebahagiaan berdasarkan kepemilikan dan pencapaian dari luar. Jika standar kebahagiaan ditentukan oleh apa yang dimiliki orang lain, manusia akan terus berada dalam siklus ketidakpuasan yang tidak berkesudahan. Allah memberikan rizki kepada kita dengan hikmah di dalamnya sehingga masing-masing orang memiliki hikmah tersendiri. melihat kenikmatan orang lain dengan rasa iri dan gelisah berarti mengabaikan kebijaksanaan ilahi dalam penyebaran rezeki. Dalam konteks ini, FOMO bukan hanya soal psikologis, tetapi juga mencerminkan ketidakpahaman terhadap konsep qadha dan qadar serta hikmah Allah dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, hadis dan ayat Al-Quran ini menjelaskan pandangan bahwa Islam secara tegas mengkritik pola pikir FOMO. Agama mengajarkan agar manusia tidak hidup dalam bayang-bayang pencapaian orang lain, melainkan membangun kebahagiaan dengan bersyukur, memenuhi kebutuhan secara cukup (qana‘ah), serta menerima dengan tenteram ketentuan Allah. Kita bisa menjadi bintang dengan jalan kita sendiri.
Referensi
Panggabean, N. C., Meiriem, K., & Brahmana, B. (2021). Literatur review : pengaruh kecenderungan f ear of missing out ( FoMO ) pada generasi milenial ( gen z ) di Indonesia. 2(2), 104–108.
Al-Hilālī, S. ibn ‘Id. (2001). Bahjat al-Nāẓirīn sharḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn (Vols. 1–3). Dār Ibn al-Jawzī.
Shihab, Q. (2005). Tafsir Al-Misbah (3rd ed.). Penerbit Lentera Hati.









