Oleh: Abidah Belva Ardelia dan Rizqi Fadillah Yusuf
Media sosial telah menjadi wadah penting dalam membentuk identitas dan persepsi diri, terutama bagi perempuan. Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa sekitar 70% perempuan merasa kurang percaya diri terhadap penampilan mereka setelah terpapar konten di media sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berperan sebagai alat hiburan, tetapi juga ikut serta dalam membentuk standar kecantikan dan cara seseorang memandang diri sendiri.
Untuk mengeksplorasi akar masalah tersebut, artikel ini mengacu pada teori mimesis yang dikemukakan oleh René Girard, sebagaimana diulas oleh Matthew Potolsky. Teori ini relevan dalam menjelaskan bahwa hasrat terhadap standar kecantikan, baik pada perempuan Muslim maupun non-Muslim, tidak muncul secara spontan, melainkan terbentuk melalui proses peniruan sosial (mimetic desire).
Teori Mimesis René Girard dan Standar Kecantikan
Menurut Girard, keinginan manusia bersifat mimetik, artinya keinginan muncul karena melihat orang lain menginginkan atau melakukan sesuatu. Manusia tidak hanya meniru tindakan, tetapi juga meniru keinginan. Dengan kata lain, seseorang menginginkan sesuatu karena ada pihak lain yang lebih dulu menginginkannya. Girard menjelaskan konsep hasrat segitiga (triangular desire) yang terdiri dari tiga komponen utama:
- Subjek: perempuan
- Objek: keinginan untuk memenuhi standar kecantikan
- Mediator: influencer atau figur publik digital yang ditiru dan diidolakan
Dalam konteks media sosial, influencer berperan sebagai mediator yang memperkuat dan memperlebar hasrat ini. Media sosial memperbesar peran mediator hingga menjadi pusat orientasi dalam proses peniruan. Akibatnya, kecantikan tidak lagi dianggap sebagai bagian dari naluri alami untuk tampil baik, melainkan berubah menjadi obsesi untuk menyerupai figur yang diidolakan dan memperoleh pengakuan sosial. Hal ini sesuai dengan konsep keinginan mimetik yang dijelaskan oleh Girard.
Media Sosial dan Ketidakpuasan Tubuh Perempuan
Berbagai studi menunjukkanbahwa media sosial memiliki dampak yang cukup besar terhadap persepsi tubuh perempuan. Menurut penelitian Termizi dan Herwan (2021), terdapat hubungan kuat antara paparan standar kecantikan di media sosial dengan meningkatnya rasa tidak puas terhadap tubuh perempuan muda. Temuan serupa juga disampaikan oleh Lukman, Muis, dan Hamid (2022), yang menyatakan bahwa semakin intens penggunaan media sosial, semakin tinggi tingkat ketidakpuasan citra tubuh pada perempuan berusia 18–25 tahun di Indonesia.
Selain itu, penelitian Syifa, Sihotang, dan Fariha (2023) mencatat bahwa pengaruh influencer terhadap pembentukan identitas diri mahasiswa mencapai 29,1%. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan cenderung meniru figur publik digital sebagai model kecantikan ideal. Fenomena ini sesuai dengan teori mimesis oleh Girard, yang menjelaskan bahwa keinginan manusia dibentuk melalui interaksi sosial dan diperkuat oleh sistem algoritma media sosial.
Perempuan tidak hanya meniru penampilan, tetapi juga menerima nilai-nilai sosial yang terkait dengan kecantikan, seperti popularitas, penerimaan dari orang lain, dan kesuksesan. Menurut Girard, keinginan mimetik ini sering kali memicu konflik dan rasa tidak puas, karena standar yang dicari selalu sulit atau bahkan mustahil dicapai.
Dampak Psikologis: Insecure dan Gangguan Mental
Upaya menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang dipaparkan melalui media sosial sering kali menyebabkan rasa insecure yang berkelanjutan. Perempuan menjadi sulit merasa puas dengan diri sendiri, dan kondisi ini secara langsung memengaruhi kesehatan mental mereka.
Banyak perempuan akhirnya mengalami stres, kecemasan, bahkan gangguan mental karena obsesi berlebihan terhadap standar fisik yang terus berubah. Media sosial, dalam hal ini, berfungsi sebagai cermin dari keinginan kolektif, tetapi juga memperkuat tekanan sosial untuk menyesuaikan diri.
Sudut Pandang Islam tentang Kecantikan
Dalam pandangan Islam, perempuan memiliki dorongan alami untuk tampil menarik, karena cinta kepada keindahan merupakan bagian dari fitrah manusia. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang artinya:
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
Namun, masalah muncul ketika kecantikan hanya diukur dari aspek fisik dan dijadikan dasar untuk menilai nilai diri. Islam menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh rupa atau posisi sosial, melainkan dari tingkat ketakwaannya. Dalam QS. Al-Ḥujurāt ayat 13 mengatakan:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Imam al-Qurṭubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa manusia adalah sama, serta menolak pembandingan nilai berdasarkan fisik atau hal dunia. Kecantikan sejati dapat terlihat dari kebersihan hati, akhlak yang baik, dan rasa syukur atas ciptaan Allah. Hadis Nabi Muhammad SAW juga menyatakan:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
Islam tidak menolak kecantikan fisik, tetapi menjaga arahannya agar tidak menjadi obsesi. Kecantikan sesungguhnya dalam Islam terletak pada sifat baik, kesucian hati, dan ketaatan kepada Allah.
Literasi Algoritma sebagai Solusi
Banyak studi menawarkan literasi digital sebagai solusi, tetapi keefektifan cara ini seringkali tidak bertahan lama. Menurut meta-analisis oleh Kurz dkk. (2021), program literasi media hanya memberikan peningkatan kecil terhadap citra tubuh (g = 0,16), dan efeknya menurun secara signifikan dalam jangka panjang.
Ini menunjukkan bahwa masalah tidak hanya berada pada cara berpikir pengguna, tetapi juga pada cara kerja algoritma media sosial. Oleh karena itu, penulis menawarkan literasi algoritma sebagai solusi tambahan. Literasi algoritma adalah kemampuan memahami dan mengendalikan cara konten disajikan oleh platform digital. Algoritma bekerja dengan memperkuat preferensi pengguna berdasarkan interaksi yang dilakukan. Langkah Literasi Algoritma
- Mengurangi interaksi dengan konten negatif. Pengguna dianjurkan untuk tidak menyukai, mengomentari, atau menyimak konten kecantikan yang mengakibatkan obsesi. Fitur “Tidak Tertarik” bisa dimanfaatkan untuk memberi sinyal kepada algoritma.
- Aktif berinteraksi dengan konten positif. Pengguna perlu secara sadar mencari, menyukai, dan menyimak konten yang mendorong kepercayaan diri, perawatan tubuh yang sehat, dan penerimaan diri. Jika dilakukan secara konsisten, algoritma akan menyesuaikan rekomendasi konten, serta membantu mengurangi paparan standar kecantikan yang tidak realistis.
Peran Muslimah
Muslimah memiliki peran penting dalam menyebarkan pemahaman tentang algoritmik di kalangan perempuan, baik melalui komunitas pendidikan maupun dengan membagikan konten digital yang menekankan penerimaan diri, akhlak, serta nilai-nilai spiritual. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk bersaing secara fisik, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk berdakwah dan memperkuat identitas diri yang sehat.
Kecantikan dan peran perempuan tidak bisa dipisahkan, tetapi media sosial sering kali memandangnya secara salah. Algoritma digital sering kali memposisikan standar kecantikan sebagai sesuatu yang harus dicapai, sehingga perempuan cenderung meniru gaya hidup influencer demi mendapatkan pengakuan sosial. Dorongan ini bersifat meniru, sebagaimana dijelaskan oleh René Girard.
Oleh karena itu, memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja serta memperkuat konsep kecantikan batin dalam Islam adalah langkah penting untuk melepaskan perempuan dari obsesi terhadap standar kecantikan yang bersifat semu. Dengan cara yang tepat, perempuan dapat tampil percaya diri tanpa harus memenuhi definisi kecantikan yang tidak sebenarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Girard, R. (1965). Deceit, Desire, and the Novel: Self and Other in Literary Structure. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
Lukman, F. A., Muis, I., & Hamid, A. N. (2022). The Effect of Social Media Use Intensity on Body Image Dissatisfaction in Early Adult Women. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses dari https://journals2.ums.ac.id/indigenous/article/view/2587
Muthmainnah, N. (2013). Kotak Kecantikan Muslimah: Merangkai Mutiara Kecantikan Hakiki. Bandung: Tasdiqiya Publisher.
Syifa, L. N., Sihotang, Y. F., & Fariha, N. F. (2023). The Influence of Beauty Standards by Influencers on Student Self-Identity. Feelings: Journal of Psychology and Communication Studies. Diakses dari https://feelings.my.id/index.php/i/article/view/8,









