Agenda yang penuh, target setiap hari, dan tekanan untuk menjadi lebih produktif sering kali dianggap sebagai ukuran sukses dalam hidup. Ironisnya, semakin sibuk seseorang, semakin sering ia merasa lelah secara batin, bukan hanya fisik. Banyak orang yang seolah produktif, tetapi justru kehilangan kehangatan hati dan arah hidup. Fenomena ini sering disebut sebagai krisis makna dalam kehidupan manusia modern: hidup penuh dengan aktivitas, tetapi kurang ketenangan.
Dalam kondisi seperti ini, Al-Qur’an memberikan pernyataan sederhana namun mendalam melalui QS. Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
Ayat ini sering diucapkan dalam pembahasan spiritual sebagai penekanan bahwa ketenangan dalam hati tidak datang langsung dari kesibukan atau keberhasilan materi, tetapi berasal dari hubungan yang sadar dengan Sang Pencipta.
Produktivitas yang Melelahkan Jiwa
Produktivitas dalam budaya modern ditempatkan sebagai nilai utama. Nilai seseorang dilihat dari seberapa dia sibuk, responsif dan selalu aktif “on”. Waktu hening sering dianggap tidak produktif, bahkan disangka sebagai kemalasan. Akibatnya, kehidupan terasa penuh dengan berbagai kegiatan tanpa ada waktu untuk berpikir dan merefleksikan diri.
Masalahnya bukan pada kerja keras itu sendiri, melainkan pada hilangnya orientasi makna “crisis of meaning”. Ketika kesibukan tidak lagi terhubung dengan tujuan yang lebih besar, maka kesibukan itu justru menjadi beban. Inilah paradoks zaman modern: banyak bergerak, sedikit merasakan; banyak bekerja, sedikit menenangkan diri. Dengan kata lain, produktivitas tinggi tanpa peneguhan makna dapat berujung pada kelelahan emosional sekaligus kehampaan eksistensial.
QS. Ar-Ra’d: 28 membicarakan tentang dzikir sebagai cara untuk mendapatkan ketenangan hati. Menurut para ulama, dzikir tidak hanya dilakukan dengan mengucapkan kata-kata secara lisan, tetapi juga mencakup kesadaran batin, pemikiran, dan hubungan antara manusia dengan Allah. Quraish Shihab menekankan bahwa penggunaan fi’il mudhari’ pada kata taṭhma’innu menunjukan ketenangan yang bersifat berkelanjutan, bukan sesaat, sehingga hanya kesadaran spiritual yang stabil yang mampu meredam kegelisahan batin. Hamka memperdalam makna ini dengan menegaskan bahwa dzikir Adalah lawan kata Ghaflah (kelalaian), yakni keadaan Ketika manusia larut dalam kesibukan tanpa arah.
Dalam Al-Qur’an, qalb atau hati adalah pusat dari kesadaran dan arah hidup seseorang. Jika hati tidak terhubung dengan tujuan dari Allah, maka seseorang akan merasa gelisah, meskipun hidupnya sibuk atau sukses. Namun, ketika hati terhubung dengan Allah, segala kegiatan dunia pun menjadi bermakna. Oleh karena itu, ayat ini menegaskan bahwa ketenangan itu bukan karena berhenti beraktivitas, tetapi karena arah hidup seseorang sudah benar.
Krisis Makna sebagai Masalah Spiritualitas
Krisis makna bukan hanya masalah psikologis, tetapi juga masalah spiritual. Manusia bukan hanya makhluk yang bekerja, tetapi juga makhluk yang mencari tujuan. Ketika hidup hanya dianggap sebagai daftar tugas dan pencapaian, maka bagian terdalam dari diri manusia tidak diperhatikan. Al-Qur’an tidak melarang produktivitas. Namun, ia mengingatkan bahwa kehidupan yang hanya fokus pada tindakan tanpa kesadaran akan Allah bisa membuat manusia jauh dari dirinya sendiri dan dari Tuhan-Nya.
Dalam konteks ini, Surah Ar-Ra’d ayat 28 berfungsi sebagai pedoman eksistensial. Ayat itu mengingatkan bahwa ketenangan dan makna hidup muncul dari hubungan spiritual yang hidup, bukan hanya dari kepadatan aktivitas.
Menyatukan Produktivitas dan Ketenangan
Ayat ini tidak meminta manusia meninggalkan dunia, tetapi mengajak untuk mengubah cara memahami kesibukan. Produktivitas yang diiringi kesadaran spiritual akan menciptakan keseimbangan: bekerja tanpa kehilangan jiwa, berusaha tanpa kehilangan arah. Beberapa refleksi praktis yang relevan dengan semangat ayat ini antara lain:
- Menganggap niat sebagai dasar dari setiap aktivitas, bukan hanya tujuan
- Membuat ruang yang diam untuk berpikir dan merefleksikan di tengah kesibukan
- Mengukur kesuksesan bukan hanya dari hasil, tetapi juga dari nilai dan dampaknya
- Menyadari bahwa ketenangan Adalah kebutuhan dalam jiwa, bukanlah sesuatu yang mewah
- Langkah-langkah ini justru meningkatkan produktivitas, membuatnya lebih manusiawi dan bermakna.
Dari Sibuk Menuju Bermakna
QS. Ar-Ra’d ayat 28 juga mengajarkan bahwa ketenangan batin bukan datang dari dunia yang datar, melainkan dari hati yang memiliki tujuan. Di Tengah situasi kebingungan dalam Masyarakat modern, ayat ini memberi pengingat bahwa manusia bukan hanya makhluk yang bekerja keras. Hidup yang baik bukan hanya hidup yang penuh dengan tugas, tetapi hidup yang memahami makna hidup. Ketika bekerja keras diimbangi dengan berdzikir, kesibukan justru menjadi sarana untuk beribadah dan itulah sumber ketenangan yang sejati.
Referensi
Ridha, A. A. (2024). Nilai Pendidikan Pada QS Ar-Ra’ad Ayat 28 dan Relevenasinya terhadap Pendidikan Moral dan Spritual. Edudikara: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 9(2), 67.
Junaidi, M., Martiah, A., Kasmi, K., & Linda, L. (2025). Peran Budaya Organisasi dan Lingkungan Kerja Dalam Optimalisasi Produktivitas Kerja. JUEB: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 4(2).
Amrullah, O. D. (2024). Dzikir Sebagai Psikoterapi Terhadap Gangguan Mental (Mental Disorder) Menurut Surat Ar-Ra’d Ayat 28. Mashahif: Journal of Qur’an and Hadits Studies, 4(1).









