Harta adalah sesuatu yang menggiurkan bagi manusia. Memiliki kekayaan yang banyak merupakan suatu hal yang sangat didambakan oleh semua orang. Menjadi seorang crazy rich akan membuat seseorang terlihat istimewa karna kekayaannya. Namun kekayaan itu tidak akan berarti apa-apa bila orang tersebut tidak memiliki etika yang baik. Etika menjadi peran utama dalam kehidupan seseorang tanpa terkecuali termasuk crazy rich.
Oleh karena itu, Islam memerintahkan kepada umatnya untuk hidup sederhana. Hidup sederhana bukan berarti kita menjadi miskin apalagi fakir. Hidup sederhana adalah tentang bagaimana kita bersikap tunduk atau rendah diri di hadapan Allah, Tuhan Semesta Alam (Fahmi Hamidin: 2023). Namun sangat disayangkan, umat muslim saat ini terlebih anak mudanya, cenderung berada dalam lingkungan hidup glamor, banyak melakukan huru-hara, serta menjadi pribadi yang sangat konsumtif.
Artikel ini bertujuan untuk membaca fenomena sosial ekonomi mengenai crazy rich serta bagaimana pandangan ekonomi Islam tentangnya. Fenomena crazy rich ini terjadi akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang membiarkan sikap manusia secara bebas bisa menumpuk harta kekayaan sampai tidak terbatas. Dibalik fenomena ini tentu kita diingatkan dengan salah satu ayat yaitu QS. Al-Isra’ ayat 16 yang berbunyi:
وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا
Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah). Lalu, mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu sehingga pantaslah berlaku padanya perkataan (azab Kami). Maka, Kami hancurkan (negeri itu) sehancur-hancurnya.
Rusaknya alam boleh jadi karena keserakahan manusia itu sendiri. Keserakahan orang-orang yang ambius dalam menmpulkan kekayaan, namun tidak peduli terhadap lingkungan dan manusia sekitarnya (Bella Amalia Putri: 2024). Dalam lanskap budaya lokal, pepatah orang Minang turut menguatkan pesan ini melalui ungkapan “Alam Takambang Jadi Guru”, mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta dapat dijadikan media pembelajaran bagi manusia. Namun, gaya hidup yang semakin instan membuat manusia kurang menghargai proses dan tidak belajar dari alam.
Disini juga saya akan membuka alasan kenapa manusia mudah untuk korupsi dan menghalalkan segala macam cara untuk menumpuk kekayaan? Karena menurut saya, yang pertama uang itu instan dopamin dan yang kedua karna uang itu candu. Ketika kita merasakan nikmatnya menjadi crazy rich, senang dan full feelingnya, kita ada di posisi tersebut tapi kita tidak punya kemampuan untuk mengontrol, tidak punya kemampuan untuk bersyukur, kita pasti akan selalu meminta lebih, dan berusaha bagaimana caranya agar kita bisa terus ada di posisi tersebut.
Itulah mengapa pentingnya kita belajar dan membaca kembali pesan-pesan Al-Qur’an, agar kita merasa ada yang mengawasi kita yaitu Allah. Kita merasa bahwasanya akan ada hari kiamat dimana kita akan mempertanggungjawabkan segala apa yg kita lakukan. Maka dari itu, mengapa saya sangat respek kepada masyarakat yang sudah mulai kritis dengan politisi & pemerintah? Agar mereka sadar bahwa ada yang tidak beres dengan kinerjanya.
Sepengalaman saya pribadi di kampung atau di daerah tempat saya tinggal, mayoritas masyarakatnya masih mengagung-agungkan satu elit politik tertentu hanya karna mereka memberikan Bansos, memberikan BLT 600 ribu, KIP dll. Padahal kan itu adalah suatu kewajiban negara untuk memenuhi hak masyarakat. Tapi masyarakat seringkali menganggap bahwasanya itu satu kebaikan tertentu dari satu elit politik. Sehingga ketika pemilu, jika ditanya “Bu kenapa milih anu?” jawabannya: “Ya karna dia janji bakal ngasih saya uang 600 ribu perbulan, karna dia ngasih sembako dll”.
Oleh karenanya menyadarkan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama dan itu bisa dimulai dari keluarga terdekat. Contohnya: keluarga saya masih banyak yang jadi penerima KIP, BLT dan bantuan lainnya. Nah disitu saya bisa share awarenes bahwasanya bantuan ini memang hak kita, dan ini memang tugas negara untuk memelihara kita, bahkan jika semisalkan tidak mendapatkan hak tersebut, kita bisa saja menuntut karna memang ini hak kita bersama.
Jadi stop menggaungkan, mendewakan, merajakan elit politik tertentu hanya karna dia memberikan satu bantuan seakan-akan bantuan tersebut real dari pemerintah, padahal itu adalah kewajiban negara. Jadi, next pemilu, capres atau lainnya terutama yang visi misinya jangka panjang, kita harus bisa lebih tegas memilih pemimpin yang berpengaruh menaikkan kualitas SDM & memperioritaskan pendidikan.
Secara keseluruhan, analisis ini menunjukkan kepada kita akibat dari kemewahan (gaya hidup mewah) para pejabat dan bertujuan untuk menyadarkan masyarakat dan pejabat mengenai konsekuensi fenomena ini, serta mencegah penyebaran gaya hidup yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam, tidak berkeadilan dan berkemanusiaan.
Konsekuensi kemewahan para otoritas dijelaskan dengan penekanan pada ayat ke-16 Surah Al-Isra, menunjukkan bahwa kemewahan dan aristokrasi para otoritas menyebabkan mereka menjadi ceroboh dan tidak bertanggung jawab terhadap masyarakat dan menjauh dari rakyat.
Hal ini juga membuka jalan bagi konsumtivisme dalam masyarakat, menghilangkan motivasi produksi, serta menyebabkan ketergantungan masyarakat dan mendirikan fondasi korupsi dan penindasan. Masing-masing faktor ini sendiri sudah cukup untuk kemunduran dan runtuhnya suatu masyarakat, terutama masyarakat Islami.
Dari bencana yang menyapa negeri ini, kita Kembali diingatkan bahwa segala yang kita genggam hanyalah titipan dari tuhan. Harta, kedudukan, bahkan kehidupan, semua bisa tuhan ambil kapan saja. Lalu, untuk apa kita meninggi? untuk apa kita bersandar pada sesuatu yang fana? Dunia ini hanya persinggahan, tempat kita belajar tentang artinya bersyukur, sabar, dan rendah hati.
Maka selagi masih diberi waktu di dunia, sayangi dan cintai orang-orang di sekitarmu. Berbuat baiklah, tebarkan kebaikan tanpa menunggu balasan, karna kita tak pernah tau siapa yang membutuhkan cahaya dari hati kita hari ini. Sebab pada akhirnya, hati yang tulus adalah kekayaan yang tak akan bisa hilang, warisan yang tetap hidup walaupun kita telah tiada, dan yang abadi hanyalah sang pencipta dan cintanya pada ciptaannya.
Referensi:
Hamidin, F. (2023). Etika menjadi seorang Crazy Rich dalam perspektif Hadis: Kajian Hadis Maudhu’i (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
Putri, B. A. (2024). Qs. Al-Isra’Ayat 16 dan Fenomena Crazy Rich. JAHE: Jurnal Ayat Dan Hadits Ekonomi, 2(2), 32-38.
Damaya, T. The Joy of Slow Living: Prinsip, Manfaat, dan Aktivitas Slow Living yang Dapat Diterapkan dalam Rutinitas Harian. DIVA PRESS.
Seyyedi, A. S., & Alavizadeh, S. M. (2022). CONSEQUENCES OF ARISTOCRACY AND LUXURISM OF THE AUTHORITIES WITH EMPHASIS ON VERSE 16 OF SURAH AL-ISRA. Applied Research in the Field of Quran and Hadith, 2(1), 65-84.









