Seperti yang kita ketahui, bencana alam yang pernah terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya membawa dampak fisik dan material, tetapi juga menggugah respons sosial masyarakat. Dalam beberapa dekade terakhir, terutama setelah berkembangnya teknologi komunikasi dan media sosial, cara masyarakat bergerak, berkoordinasi, dan mengekspresikan kepedulian mengalami perubahan besar.
Arus informasi yang cepat membuat kabar bencana segera menyebar luas, memunculkan gelombang empati, dukungan moral, serta aksi solidaritas yang terjadi hampir secara spontan. Fenomena ini tampak jelas pada bencana banjir dan longsor yang telah melanda Sumatera khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 ini.
Di tengah situasi yang penuh duka itu, masyarakat sipil baik individu, komunitas kecil, maupun organisasi besar bergerak tanpa menunggu komando. Aksi-aksi ini bukanlah fenomena baru, melainkan kelanjutan dari warisan akhlak Al-Qur’an yang telah membentuk karakter bangsa jauh sebelum masa kemerdekaan NKRI.
Gelombang solidaritas masyarakat sipil terlihat dari merebaknya informasi tentang bencana, tersebar begitu cepat dan beragam. Setiap orang menyumbang perspektifnya masing-masing. Ada yang melaporkan kondisi lapangan secara langsung mulai dari ketinggian air, akses jalan terputus, hingga daerah yang belum tersentuh bantuan sehingga publik dapat melihat situasi nyata para korban. Ada pula yang menyoroti dampak material seperti rumah hancur atau tertimbun, fasilitas umum rusak, dan ribuan warga yang harus mengungsi.
Sementara itu, sebagian masyarakat mengulas penyebab banjir dan longsor, mengaitkannya dengan kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, dan lemahnya tata kelola wilayah. Tidak sedikit pula yang mendesak pemerintah pusat untuk menetapkan status bencana nasional demi memperbesar akses bantuan.
Bersamaan dengan arus informasi tersebut, kampanye donasi dari masyarakat sipil juga bergerak sangat masif. Aliran bantuan tidak hanya datang dari masyarakat sipil provinsi yang terdampak langsung, tetapi juga dari masyarakat sipil berbagai wilayah di pulai lain seperti Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan lainnya. Semua ini menunjukkan bahwa masyarakat sipil Indonesia memiliki cara tersendiri untuk melakukan aksi. Semuanya bertemu pada satu titik yang sama, yaitu kepedulian.
Akun Instagram @psqonline mengajak publik membaca bencana Sumatra melalui perspektif Al-Qur’an dengan menekankan bahwa musibah ekologis tidak dapat dilepaskan dari prinsip keseimbangan alam yang diamanahkan Allah. Melalui rujukan QS. Az-Zukhruf ayat 11 tentang keteraturan siklus air dan QS. Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan bumi akibat ulah manusia, @psqonline menegaskan bahwa banjir dan longsor bukan semata fenomena alam, tetapi bagian dari peringatan moral agar manusia kembali menjaga harmoni ekologis sesuai nilai-nilai Qur’ani.
Sementara @mubadalah.id/@indonesia_kupi menegaskan bahwa kerusakan alam adalah akibat proses panjang seperti deforestasi dan lemahnya tata ruang. Bahkan yang terbaru, @mubadalah.id/@indonesia_kupi telah menerbitkan peryataan “5 Sikap Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) tentang Penanganan Bencana Berskala Nasional untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat).
Edukasi ekologis ini diperkuat oleh akun @soalalam dan @digitalbynovia yang menggunakan visual kartun AI untuk memperlihatkan perbedaan hutan alami yang kaya flora dengan area sawit yang hanya berisi satu jenis tanaman dan rentan merusak ekosistem. Keseluruhan narasi memperlihatkan bahwa bencana bukan sekadar fenomena alam, melainkan akumulasi dari kegagalan manusia menjaga amanah bumi.
Di sisi lain, solidaritas masyarakat sipil mencerminkan ketangguhan sosial yang luar biasa. Dari penggalangan dana oleh @irwandiferry tercatat lebih dari 87 ribu donatur berhasil mengumpulkan Rp10,3 miliar dalam 24 jam. Didukung kebijakan gratis ongkir dari @jne_id dan gerakan cepat relawan lintas daerah. Aksi donasi masif oleh @kitabisacom dan @baitulmaalmerapi berjalan beriringan dengan advokasi publik dari @karyamedia_saudara dan @narasi.newsroom
Di lapangan, semangat #jagawarga terlihat dari penduduk yang saling membantu. Ada yang memasak untuk relawan, membersihkan jalan dan masjid, hingga mengevakuasi tetangga yang lebih rentan. Kombinasi refleksi keagamaan, edukasi ekologis, dan aksi solidaritas ini menunjukkan bahwa di tengah duka ekologis, masyarakat Indonesia tetap berdiri bersama, menolong dengan tangan sendiri, dan menuntut perbaikan sistem demi masa depan yang lebih aman.
Disclaimer: akun-akun yang dicantumkan hanya mewakili di antara ribuan akun yang menyuarakan aspek-aspek yang sama.
Jika ditarik ke belakang, solidaritas masyarakat sipil Indonesia hari ini bukanlah fenomena tiba-tiba. Ia berakar panjang dalam sejarah perjuangan bangsa. Jauh sebelum kemerdekaan, masyarakat nusantara telah terbiasa membangun kekuatan berbasis komunitas seperti tradisi tolong-menolong di kampung, gotong royong memperbaiki surau dan lumbung pangan, hingga kebiasaan para ulama dan tokoh adat menampung musafir, mendidik anak yatim, dan melindungi warga yang tertindas.
Ketika masa perjuangan tiba, rakyat mengusung spirit yang sama. Mereka melindungi para pejuang, menyediakan logistik, dan menjaga komunikasi bawah tanah. Semua itu berdiri di atas etos akhlak Al-Qur’an seperti ta’awun (tolong-menolong), ukhuwah (persaudaraan), itsar (mendahulukan orang lain), serta keyakinan bahwa menjaga sesama adalah bagian dari amanat Allah di muka bumi.
Maka solidaritas warga dalam bencana Sumatera hari ini bukan sekadar reaksi emosional spontan, tetapi merupakan kelanjutan dari DNA moral bangsa dan warisan nilai yang telah mengikat Indonesia jauh sebelum negara ini berdiri secara formal. Fondasi emosional dan moral itu dibangun oleh pendidikan akhlak yang diwariskan melalui surau, pesantren, lumbung adat, dan majelis taklim. Ajaran Al-Qur’an tentang ta’awun ‘alal birri wat-taqwa (QS. Al-Mā’idah: 2), itsar (QS. Al-Hasyr: 9), serta prinsip rahmatan lil ‘alamin ditanamkan secara turun-temurun dan mewujud menjadi budaya dan DNA tersebut.
Para ulama yang menjadi motor pergerakan kemerdekaan pun memegang teguh spirit itu. Mulai dari menggerakkan rakyat, menjaga warga dari penindasan, menampung para pejuang, serta memelihara persatuan. Maka respons sosial dalam bencana Sumatera hari ini dari relawan yang bergerak cepat, donasi publik yang masif, edukasi ekologis, hingga advokasi keadilan lingkungan adalah bentuk modern dari etika Qur’ani yang telah hidup ratusan tahun dalam peradaban rakyat Indonesia.
Nilai-nilai tersebut terbukti tidak pernah padam. Setiap kali bencana datang, masyarakat selalu menampakkan sifat yang diwariskan generasi ke generasi. Keikhlasan membantu tanpa pamrih, kesediaan memikul beban bersama, dan keberanian menegur ketidakadilan. Spirit ukhuwah insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan) dan amanah khalifah fil-ardh (tanggung jawab menjaga bumi) membuat masyarakat sipil Indonesia bergerak lebih cepat dari birokrasi, melintasi batas provinsi, bahkan tanpa saling mengenal.
Solidaritas publik pada bencana Sumatera bukan hanya bukti ketangguhan sosial, tetapi juga tanda bahwa akhlak Al-Qur’an masih hidup. Bukan sekadar dalam mushaf dan pengajian, tetapi dalam tindakan nyata yang menjaga bangsa ini tetap tegak ketika diuji oleh bencana. Dan selama akhlak ini tetap terjaga dalam diri rakyatnya, negara ini selalu memiliki harapan: harapan untuk menjadi lebih baik, lebih adil, dan lebih kuat untuk menghadapi masa depan.
Referensi
Zayyadi, A., & Unsiyyah, U. F. (2025). Analisis Nilai Sosial dalam Al-Quran untuk Mengatasi Terjadinya Social Withdrawal. Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 6(1), 93-104.
Maghrobi, Z. A., Iqbal, I. M., & Murdianto, M. (2024). Tolong Menolong dalam Kebaikan dalam Al-Qur’an (Studi Penafsiran Ayat-Ayat Ta’awun dalam Tafsir Al-Munir). Bunyan al-Ulum: Jurnal Studi Islam, 1(1), 71-89.









