Perempuan memiliki kedudukan yang paling mulia dalam islam, selain harus dijaga dan dihormati, peran utama yang dimiliki oleh perempuan yaitu sebagai pemimpin pendidik utama dalam keluarga. Karna kelak perempuan akan menjadi madrasatul ula bagi anak anaknya.
Bahkan sejatinya, seorang Ibu itu bukan dilihat dari seberapa keren gayanya, tapi seberapa kuat taste dan karakternya. Gaya hanya dilihat dari segi penampilan, tapi taste itu di lihat dari kelas sosial dan pendidikan, karna yang demikian sangat amat berpengaruh terhadap kecerdasan dan proses anak berkembang.
Sayangnya, di zaman yang serba digital ini banyak yang meremehkan masalah pendidikan dikarenakan kurangnya minat mereka untuk belajar dan berusaha untuk menggapai kesuksesan yang instan karna mereka sudah dimanjakan oleh kemajuan teknologi dan informatika yang setiap harinya sangat mudah di akses oleh masyarakat Indonesia baik tua maupum muda, tanpa menyertakan sifat moral yang menjadi fondasi bangsa (Nur Shofiati, 2020).
Sebagaimana dalam Analysis of Abdullah Saeed’s Contextual Interpretation in Qs. Ali Imran Verse 159 Concerning Parenting Patterns for Children, yang berbicara tentang sikap lemah lembut dan musyawarah Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya digunakan sebagai landasan untuk mengkaji prinsip-prinsip pengasuhan yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Ayat itu berbunyi:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi relevansi nilai-nilai yang terkandung dalam ayat tersebut terhadap tantangan pengasuhan anak di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir kontekstual dapat memberikan panduan yang komprehensif bagi orang tua dalam membangun hubungan yang harmonis dan mendidik anak-anak dengan pendekatan yang lemah lembut, bijaksana, dan berbasis musyawarah.
Artikel ini juga ditulis untuk menguraikan pada sifat-sifat seorang pemimpin dalam perspektif Al-Qur’an yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 159. Dalam surah tersebut di jelaskan bahwa seorang pemimpin (pendidik utama) harus memiliki beberapa sifat yang meliputi pada lemah lembut, pemaaf dan berdo’a (Hoirul anam: 2022)
Menariknya, pengalaman kecil yang sering Saya alami, ikut menguatkan ayat ini. Dulu, sewaktu Saya masih duduk di bangku SD, apabila Saya tidak shalat, Orang tua saya sering kali mengancam dengan kalimat “Awas loh, kalau kamu tidak shalat, nanti masuk neraka!!”. Bagi Saya yang notabenenya tidak suka ancaman, justru saya tidak takut sama sekali dan malah bertanya-bertanya, “Kenapa hanya karna tidak shalat, manusia bisa masuk neraka? memangnya Allah akan rugi?”.
Nah, dari situ orang tua saya mulai sadar bahwa mengingatkan shalat kepada anak, ternyata tidak cukup dengan ancaman. Akhirnya Orang tua Saya mencari cara lain agar anaknya mau shalat, tapi tidak harus dengan cara mengancam. Dari situ juga, orang tua Saya mulai mengganti ancaman tersebut dengan cara yang lebih bijak, seperti “Yuk kita shalat yuk, kita kan sudah dikasih banyak nikmat sama Allah, kita sudah dikasih sehat, makanan yang cukup, fisik yang sempurna, masa kita gamau terima kasih sama Allah”. Dari sini Saya semakin yakin bahwa pesan ayat ini bukan sekedar teori, melainkan kejadian yang sering hadir dalam hidup kita sehari-hari.
Dalam khazanah Islam pun, tentu kita mengenal beragam cerita Islam. Mulai dari kisah Bunda Aisyah yang dikenal dengan Kecerdasannya, kisah Bunda Khadijah yang di kenal dengan Kedermawanannya, kisah Siti Hajar yang di kenal dengan Kesabarannya, kisah Bunda Maryam yang di kenal dengan Ketaatannya dalam Beribadah dan masih banyak lagi.
Akan tetapi, di antara semua tokoh wanita mulia yang patut kita pelajari, dalam konteks ini menurutku cerita perjalanan bunda Fatimah Az-Zahra lah yang paling menarik. Karna dari perjalanannya menjadi seorang Ibu, Bunda Fatimah berhasil menunjukkan ke kita semua bahwa membentuk karakter anak-anak yang unggul adalah bagian penting untuk membangun karakter bangsa yang kuat. Sebagaimana ungkapan syair dari Ahmad Shawqi, Penyair besar Mesir yang dijuluki “Amir Al-Syu‘ara” (Pangeran Para Penyair) pada abad ke-20.
اَلْأُمُّ مَدْرَسَةُ الْأُولَى، إِذَا أَعْدَدْتَهَا = أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
Yang berarti: “Ibu adalah sekolah pertama, jika engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan suatu bangsa yang harum akarnya”. Maknanya menekankan peran krusial seorang Ibu sebagai “Pendidik utama” bagi anak-anaknya, dan kualitas seorang anak akan sangat dipengaruhi oleh bimbingan Ibunya (Murtafiah,2019).
Hal ini telah terbukti, bahwa menurut penelitian ahli dari University of Washington, bahwa Wanita cenderung mentransmisi gen kecerdasan anak. Peneliti menemukan bahwa ikatan yang baik antara ibu dan anak amat penting bagi pertumbuhan beberapa bagian otak, seperti area hippocampus yaitu area yang berhubungan dengan memori belajar dan respon stres.
Yang menarik lagi adalah jika kita menganalisis lebih dalam tentang Islam, tentu kita sudah familiar dengan sejarah dakwahnya Rasulullah dalam menyebarluaskan Islam. Dan jika kita lihat dari awal sejarah, ternyata dakwah Rasul itu sudah ada bahkan sejak Rasul menerima wahyu untuk pertama kalinya.
Mula-mula Rasulullah tidak langsung mempublikasikan tujuan dakwah tersebut karna dikhawatirkan banyak kaum kafir mengelabui masyarakat agar kaum muslimin menolak risalah kenabian, akan tetapi upaya pertama yang dilakukan rosul untuk menyebarluaskan islam adalah secara discrete dan lembut tanpa unsur pemaksaan sedikitpun.
Sayangnya, di era digital ini. Tidak bisa di pungkiri, bahwa menghadapi anak generasi alpha dan Beta yang notebene-nya “anak canggih” karna ia tumbuh di era AI, Gadget dan Media sosial bahkan sejak pertama kali ia memasuki masa “Golden Eagle”. Ini menjadi tantangan besar bagi orang tua khususnya perempuan, karna gadget ini bagaikan dua mata pisau.
Di satu sisi memberikan banyak manfaat bagi anak, namun di sisi lain juga memberikan dampak yang berbahaya bagi pengembangan karakternya. Nah disinilah alasan yang paling kuat untuk kita sebagai manusia terutama sebagai calon Ibu untuk mencari cara agar kita mampu memperkenalkan gadget terhadap mereka dengan baik, dan jangan sampai di salah gunakan.
Melalui pemaparan ini, dapat di simpulkan bahwa kita sebagai perempuan harus mau terus belajar banyak hal. Karena anak kita di masa depan sangat amat layak mendapatkan Ibu yang serba bisa, bukan hanya bisa berperan sebagai Guru, Motivator, Psikolog, yang lebih utama menjadi cerdas dalam setiap keadaan, kuat dalam ilmu dan teguh dalam keyakinan karnaemosi harus terjaga dalam nalar yang jernih.
Ibu harus bisa mengajarkan banyak materi yang Ibunya pelajari semasa thalabul ‘ilmi. Semoga kita tidak hanya menjadi Ibu yang selalu memberikan support sistem terbaik, melainkan juga mampu melatih Emotional Quotient Intelligence (EQ) dan membangun Good Habits untuk anak-anaknya.
Referensi:
Anam, H. (2022). Sifat-Sifat Pemimpin Pendidik dalam Perspektif Al-Qur’an Surah Ali Imran Ayat 159. Risâlah Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 8(4), 1249-1262.
Hafiz, M., & Rizal, A. (2022). Nilai Dakwah Yang Terkandung Dalam Surah Ali-Imran Ayat 159; Studi Komparatif Tafsir al-Azhar Karya H. Abdul Malik Karim Amrullah Dan Tafsir al-Mishbah Karya Muhammad Quraish Shihab. Matlamat Minda, 2(1), 42-50.









