Home / Tafsir Kontekstual / Seni Berdakwah dalam QS. An-Nahl Ayat 125 untuk Masyarakat Modern

Seni Berdakwah dalam QS. An-Nahl Ayat 125 untuk Masyarakat Modern

Dalam arus kehidupan masyarakat saat ini yang berkembang dengan begitu cepat , menyampaikan ajaran agama tidak lagi hanya dipahami sebagai khutbah tradisional dari mimbar atau deklarasi lisan. Hal itu telah berubah menjadi proses komunikasi yang jauh lebih rumit , mengingat bahwa individu lingkungan sosial yang berbeda dari generasi sebelumnya . Teknologi mudah diakses, informasi mengalir terus-menerus, dan orang-orang tunduk pada berbagai perspektif yang beragam. 

Namun demikian, di tengah semua transformasi ini, prinsip-prinsip yang tertanam dalam ayat ke-125 Surat An-Nahl masih relevan sebagai panduan. Ayat ini seakan mengarahkan bahwa pesan agama itu mewujudkan bentuk seni yang menjelaskan bagaimana pesan-pesan ilahi harus disampaikan kepada umat manusia di semua zaman, termasuk zaman modern yang dinamis.

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah424) dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.

Pernyataan ringkas ini seolah membuka sebuah metode penyampaian ajaran agama yang halus, penuh pertimbangan, namun berdampak tinggi.  Ketika seseorang mengamati keadaan masyarakat saat ini, orang tersebut akan menyadari bahwa manusia zaman sekarang hidup di bawah tekanan mental yang kompleks. 

Mereka terbiasa dengan kebebasan menyampaikan pendapat, terbiasa dengan diskusi, dan sering kali lebih peka terhadap bagaimana pesan disampaikan daripada isi pesan itu sendiri. Karena itu, keterampilan berdakwah sangat penting.

Keterampilan berdakwah yang pertama terkandung dalam kata hikmah, dalam pemahaman tradisional dimaknai sebagai kearifan yang mendalam. Hikmah bukan hanya kepandaian akademis atau kehebatan berbicara, melainkan kemampuan untuk memahami keadaan, menarik perhatian audiens, dan memilih cara yang paling cocok untuk mereka. Dalam kaitannya dengan masyarakat modern, hikmah berarti menyadari betapa beragamnya jalan pikiran manusia zaman sekarang.

Dalam menghadapi keberagaman ini, berdakwah dengan hikmah mengharuskan seseorang untuk menjadi penyampai pesan yang sensitif, inovatif, dan penuh perhatian. Hikmah mengajarkan bahwa berdakwah harus fleksibel, tidak boleh memaksa, tetapi harus mengajak, tidak boleh menghukum, tetapi memahami. Rasulullah SAW menjadi contoh paling nyata dalam hal ini.

Dalam peristiwa dakwah di Thaif, Nabi Muhammad SAW menunjukkan kebijaksanaan dan kesabaran yang luar biasa (Matondang, 2019). Bahkan ketika penduduk Thaif dengan keras menolak beliau, bahkan melempari beliau dengan batu dan melukai beliau, Nabi tidak menanggapi kenegatifan mereka dengan amarah. Sebaliknya, beliau memilih untuk berdoa agar Allah membimbing mereka dan generasi mendatang, sambil tetap menjaga tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Perilaku ini menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang memengaruhi hati melalui akhlak mulia, kesabaran, dan kasih sayang, bahkan terhadap mereka yang menolak atau menyakiti kita.

Setelah adanya kebijaksanaan, metode penyampaian pesan dalam ayat tersebut berlanjut ke nasihat yang baik, atau pembelajaran yang positif. Pembelajaran yang positif bukan sekedar anjuran, tetapi anjuran yang menyentuh perasaan tanpa menimbulkan luka (Falah,2016). Orang-orang zaman sekarang hidup di bawah beban mental yang berat seperti tekanan pekerjaan, masalah dalam keluarga, kekhawatiran mengenai masa depan, serta perasaan sendiri yang sering kali tersembunyi.

Dalam keadaan seperti ini, mereka mewujudkan pesan yang menenangkan jiwa, bukan menghakimi kesalahan, pesan yang memberikan harapan, bukan menakut-nakuti tanpa alasan yang jelas, menyampaikan pesan yang mengajak, bukan memerintah. Nasihat yang baik bisa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari tulisan, video, karya seni, hingga ceramah ringan di ruang keluarga. Saat ini, banyak orang justru menemukan kedamaian batin bukan dari ucapan yang keras , melainkan dari kata lembut yang meningkatkan keyakinan diri mereka untuk kembali kepada Tuhan.

Pembelajaran yang positif membangkitkan kesadaran, bukan paksaan. Ia merangkul, bukan menjauh. Lebih dari itu, pembelajaran yang positif tidak hanya terdapat dalam kata-kata, tetapi juga dalam contoh nyata. Di era modern yang penuh kritik, integritas seseorang menjadi sangat penting. Penyampaian pesan yang hanya berisi kata-kata tanpa adanya tindakan yang selaras akan mudah terabaikan, seseorang harus menghadapi perbedaan pendapat, pertanyaan tajam, atau penolakan.

Dalam situasi seperti ini, ayat tersebut mengajarkan langkah ketiga, yaitu berkomunikasi dengan cara yang lebih baik (Sari, 2016). Di tengah ramainya perdebatan budaya terbuka di media sosial, orang cenderung terjerumus dalam emosi dan saling menyalahkan. Perdebatan sering kali berubah menjadi serangan pribadi, bukan pertukaran ide. Padahal, penyampaian pesan melalui diskusi seharusnya dilakukan dengan sopan, tenang, dan tujuan yang mulia.

Berinteraksi secara konstruktif menuntut perhatian penuh saat mendengarkan, menghindari penghinaan terhadap lawan bicara, menjaga perkataan agar tidak menyakiti, dan mengutamakan kebenaran sambil menjunjung tinggi etika. Diskusi dalam berdakwah bukanlah karena kompetisi untuk meraih kemenangan, melainkan petualangan kolaboratif menuju pemahaman yang lebih mendalam. Ketika seseorang merasa dihargai, mereka cenderung lebih terbuka terhadap ide dan perspektif baru.

Berdakwah di platform digital memerlukan tingkat kehalusan yang lebih tinggi dibandingkan interaksi tatap muka karena anonimitas dan kurangnya visual langsung. Tanpa kewaspadaan, dakwah dapat dengan mudah berubah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, dialog yang konstruktif adalah seni menjaga perilaku terpuji dalam lingkungan yang rentan memicu emosi.

Tiga elemen kunci dalam QS. An-Nahl ayat 125 kebijaksanaan, nasehat yang baik, dan memikirkan tindakan pada dasarnya menjadikan dakwah sebagai seni memanusiakan manusia. Ini mengembalikan individu pada kodratnya sebagai makhluk yang mendambakan penghargaan, pemahaman, dan kesempatan untuk berkembang. Dakwah bukan tentang mendominasi secara moral, melainkan tentang memberikan pencerahan bagi jiwa yang mencari arah.

Dakwah bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling bijak dalam menyampaikan kebenaran dengan penuh kasih sayang. Dalam konteks kehidupan modern, seni berdakwah dapat terwujud dalam berbagai bentuk yang luas. Hal ini dapat ditemukan dalam karya sastra yang menyentuh hati, film yang kaya akan nilai-nilai kemanusiaan, konten digital yang sederhana namun inspiratif, atau kegiatan sosial yang mencerminkan keindahan etika Islam.

Dakwah yang efektif adalah dakwah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan hakikatnya (Pimay, 2021). Ia bergerak seiring berjalannya waktu namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ilahi. Pada intinya, seni dalam berdakwah sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nahl ayat 125 adalah sebuah proses mengarahkan individu menuju kebaikan melalui metode yang paling efektif.

Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak harus disuarakan dengan keras agar diperhatikan, dan tidak harus dipaksakan agar diakui. Kebenaran cukup disampaikan dengan hati yang terbuka, perkataan yang halus, dan tindakan yang merefleksikan cinta kasih Tuhan. Masyarakat kontemporer memerlukan jenis dakwah seperti ini dakwah yang menawarkan kedamaian di tengah keributan, dakwah yang merangkul di tengah kesepian, dan dakwah yang membangkitkan kembali semangat di tengah kepenatan hidup.

Dengan mengamalkan petunjuk dari ayat ini, dakwah akan menjadi penerang, bukan menjadi sesuatu yang memberatkan, menjadi berkah, bukan menjadi ancaman, dan menjadi cara bagi manusia untuk merasakan kedekatan dengan Allah, bukan malah menjauh. Dakwah, dalam seni yang diajarkan Al -Qur’an, adalah ikhtiar untuk menggugah perasaan sebelum mempengaruhi pemikiran, dan itulah yang paling relevan bagi masyarakat zaman sekarang.

Referensi

Falah, R. Z. (2016). Menumbuhkan Sikap Berpikir Positif dalam Organisasi Dakwah. TADBIR: Jurnal Manajemen Dakwah1(1).

Sari, A. W. (2016). Pentingnya ketrampilan mendengar dalam menciptakan komunikasi yang efektif. EduTech: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Ilmu Sosial2(1).

Pimay, A., & Savitri, F. M. (2021). Dinamika dakwah Islam di era modern. Jurnal Ilmu Dakwah41(1), 43-55.

Matondang, A. Y. (2019). Ketabahan Rasul Dalam Menghadapi Tantangan Dakwah di Thaif.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *