Saya memiliki pengalaman belajar kitab al-Azkar an-Nawawi beberapa tahun silam. Salah satu pembahasan di dalamnya adalah doa di setiap gerakan wudhu. Jadi setiap gerakan wudhu itu memiliki do’a. Saya berikan contoh. Doa ketika berkumur-kumur:
اللَّهُمَّ؛ أَسْقِنِي مِنْ حَوْضٍ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسا لاَ أَظْمَا بَعْدَهُ أَبَداً
“Ya Allah, berilah aku minum dari telaga Nabi-Mu SAW, segelas (air) yang setelah itu aku tidak akan merasa haus selamanya.” (al-Adzkar al-Nawawi: 2005)
Di kesempatan yang lain, saya pernah mendengar al-Ghazali memaknakan wudhu sebagai aktivitas membersihkan dosa yang menggunakan anggota tubuh dalam wudhu: tangan, mulut, mata, kaki, dan lain sebagainya. Keterangan ini bisa ditemukan dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid satu tentang keutamaan wudhu.
Contoh di atas adalah apa yang saya pahami sebagai penggunaan imajinasi dalam agama. Imajinasi tidak hanya digunakan dalam seni, namun dimanfaatkan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dalam hal ini agama. Dalam tulisan ini, saya ingin mencoba mengurai apa itu imajinasi dalam beragama? Apakah ia ada dalam sejarah umat Islam? Atau di dalam Al-Quran sendiri banyak menggunakan sesuatu yang sifatnya imajinatif? Apakah imajinasi itu penting dalam beragama? Imajinasi itu sendiri apa?
Tulisan ini lebih jauh ingin memperkenalkan penggunaan imajinasi dalam agama. Tema ini sebenarnya sudah cukup banyak diulas oleh ulama dan sarjana Islam. Termutakhir adalah karya Haidar Bagir: Agama dan Imajinasi (2025). Tulisan ini ke-trigger karena karya itu. Ulasan paling bagus tentang imajinasi menurut saya adalah ulasan Ichiro Takoyashi (Ichiro Takoyashi: 2019). Imajinasi menurut dia bisa digunakan untuk beberapa hal. Pertama, reproductive yang artinya memanggil ulang. Contohnya, usaha kita dalam mengingat wajah seorang teman yang lama tidak bertemu.
Kedua, seeing as yang artinya how we see something. Misal, bagaimana anak kecil melihat tongkat sebagai pedang. Ketiga, creative yang artinya daya cipta. Misal pemaknaan kita terhadap salat yang bukan hanya gerakan biasa, namun momen memberi jarak diri dengan urusan dunia kita. Dia adalah momen munajat kepada pencipta alam semesta.
Selengkapnya bisa merujuk ke Ichiro Takoyashi supaya uraian soal penggunaan ini tidak terlalu panjang. Kita lanjut menjawab pertanyaan lainnya. Apakah menggunakan imajinasi penting dalam beragama? Menurut saya penting karena dua hal. Pertama, ia membantu kita memahami agama; kedua, ia membantu kita beragama dengan lebih baik.
Poin-poin di atas sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lainnya. Jika kita melihat sejarah Islam, penggunaan imajinasi adalah sesuatu yang umum dilakukan. Bisa dibilang di semua bidang: tafsir, tasawuf, filsafat, fiqih, sains, seni, dan lain sebagainya. Saya tentu tidak perlu mengurai imajinasi dalam seni. Itu biasa. Dalam fiqih, kita cukup banyak menemukan contoh-contoh masalah hukum yang sebenarnya belum ada, namun ulama mengimajinasikannya dan memberinya hukum. Hal semacam ini sangat banyak.
Dalam tafsir, kita mengenal istilah takwil. Misal, ayat tentang Tuhan bersemayam di atas Arsy. Istilahnya istawa secara bahasa bermakna bersemayam.
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَٱلْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ
“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Yunus/10: 3)
Bersemayam kemudian dimaknakan oleh ulama dengan banyak makna. Di antaranya adalah “meliputi” (al-Asfahani: 2012). Ini adalah penggunaan imajinasi, yakni memaknakan dan melahirkan makna yang lain supaya sesuai dengan Tuhan. Dalam sains, kita menemukan al-Birruni. Ia menggunakan imajinasi dalam merancang konsep dan model alam semesta (Amela Carolina Sparavigna: 2018). Imajinasi dalam hal ini adalah upaya menggabungkan dan melahirkan kemungkinan-kemungkinan.
Contoh-contoh di atas hanya perwakilan dan tentu sangat sedikit. Di luar sana, cukup banyak cendikiawan dan ulama yang membicarakan imajinasi dalam beragama. Saya kasih contoh Ibnu Arabi yang mengurai imajinasi di Fushusul Hikam tentang Nabi Yusuf. Silakan teman-teman rujuk. Terakhir, poin yang menurut saya sangat penting. Imajinasi membantu kita beragama secara lebih baik. Contohnya sudah saya berikan di atas. Penggunaan doa dalam setiap gerakan wudhu membuat kita lebih menghayati gerakan wudhu kita.
Begitu juga dengan salat, ia merupakan imajinasi bermunajat atau berkomunikasi dengan Tuhan. Imajinasi semacam ini cukup menentukan khusyuknya salat kita. Lebih jauh, salat itu mestinya disiapkan dengan sebaik-baiknya karena salat adalah momen bertemu raja di atas raja. Layaknya ketika kita bertemu presiden, kita akan menggunakan pakaian yang terbaik. Kepada Tuhan, tentu mesti lebih baik.
Referensi
Al-Asfahani, Rāghib. (2012). Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.
Al-Ghazali, Abu Hamid. (t.t.). Ihya’ ‘Ulum al-Din, Jilid I. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Nawawi, Yahya ibn Syaraf. (2005). Al-Adzkar: Min Kalām Sayyid al-Abrār. Kairo: Dār al-Hadits.
Bagir, Haidar. (2025). Agama dan Imajinasi: Menemukan Kembali Spiritualitas dalam Kehidupan Modern. Bandung: Mizan.
Ibn ‘Arabi, Muhyiddin. (t.t.). Fushush al-Hikam. Kairo: Dār al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Takoyashi, Ichiro. (2019). Islamic Thought and the Modern Mind: Re-Reading Classical Philosophy. Tokyo: Waseda University Press.









