Di tengah padatnya dunia kampus yang dipadati oleh tugas, rapat organisasi, dan berbagai aktivitas akademik, ada satu ruang yang mungkin sering kali terlupakan, yaitu ruang untuk menyegarkan jiwa dengan Al-Qur’an. Kampus yang seharusnya menjadi tumbuhnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga secara spiritual. Semangat inilah yang hendak ditumbuhkan melalui Program Tahsin Al-Qur’an Al-Mujawwad di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Jakarta. Sebuah langkah nyata dalam menumbuhkan generasi Qur’ani di lingkungan akademis.
Inspirasi program ini bersumber dari Firman Allah pada QS. Al-Muzzammil Ayat 4:
وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ
Artinya: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”
Ayat ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Misbah perintah “wa rattilil qur’āna tartīlā” bukan sekedar membaca dengan suara yang indah, tetapi membaca dengan perlahan, penuh peghayatan dan ketenangan hati. Menurut Quraish Shihab, tartil adalah cara menata bacaan sekaligus cara menata diri, sebab melalui pembacaan yang tertib dan reflektif itulah pesan Al-Qur’an dapat hidup dalam diri pembacanya (Shihab, 2002).
Sementara itu, al-Qurthubi mengutip beberapa pendapat ulama seperti adh-Dhahak yang menafsirkan tartil sebagai membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat dengan tertib. Serta Mujahid yang menekankan bahwa orang yang paling dicintai Allah ialah yang memahami apa yang ia baca dari Al-Qur’an (Al-Qurthubi, 2007).
Lebih jauh Abu Bakar bin Thahir menjelaskan bahwa tartil berarti mentadabburi keindahan bahasa Al-Qur’an, menumbuhkan semangat baru dalam diri untuk mengamalkan hukum-hukumnya dan rasa gembira dalam memahami dan menerima pesan ilahi tersebut.
Dari beragam pandangan tersebut, dapat dipahami perintah wa rattilil-qur’āna tartīlā (bacalah Al-Qur’an dengn tartil) hadir sebagai penyeimbang spiritual. Yang mana tartil bukan hanya sekedar membaca perlahan dengan tajwid yang benar, tetapi juga mengandung makna slow reading spiritual yaitu membaca dengan kesadaran penuh, menghadirkan hati, dan memberi ruang bagi makna menembus jiwa.
Ayat ini tidak hanya mengatur aspek teknis dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengajarkan metode pembentukan karakter Qur’ani. Melalui tartil, seseorang dilatih untuk disiplin dalam waktu, sabar dalam proses, dan reflektif dalam memahami makna. Dengan demikian, tartil bukan hanya cara membaca, melainkan cara membentuk pribadi yang tenang, teliti, dan berakhlak Qur’ani, karakter yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda di lingkungan akademik masa ini.
Program Tahsin Al-Mujawwad di Kampus
Pembelajaran tahsin Al-Qur’an merupakan sebuah proses belajar seseorang agar bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, benar dan penuh penghayatan. Melalui program ini akan ada generasi Qur’ani yang lahir, yang tidak hanya fasih melantunkan ayat-ayat suci, tetapi juga mampu meneladani nilai-nilai Al-Qur’an dalam perilaku dan akhlaknya sehari-hari.
Inilah yang disebut dengan akhlak Qur’ani, akhlak yang bersumber dari keteladanan Rasulullah SAW, sosok yang dijuluki sebagai Al-Qur’an berjalan, karena seluruh tutur tindakannya adalah cerminan nyata dari ajaran Al-Qur’an. Sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Asy’ari Hasan, Wakil Dekan III FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:
“Program Tahsin Al-Qur’an Al-Mujawwad di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertujuan agar mahasiswa melek Al-Qur’an. Di samping mampu membacanya dengan baik, mahasiswa juga diharapkan dapat memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi Qāri’ul Qur’ān lafẓan wa ma’nan wa ‘amalan, pembaca Al-Qur’an yang pandai membaca baik dan bena, memahami makna serta dapat mengamalkannya.”
Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap pekan pada hari Sabtu, menjadi bukti konkret dari semangat Qur’ani QS. Al-Muzzammil ayat 4. Melalui program ini, sebanyak 568 mahasiswa FEB dari total 1.100 mahasiswa yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar tergabung dalam 28 kelas dengan kategori naqish dan mardid untuk belajar membaca Al-Qur’an secara tartil.
Program ini juga melibatkan mahasiswa yang telah mumpuni sebagai pengajar, sekaligus mendapat dukungan berupa anggaran khusus sebagai bukti keseriusan fakultas dalam menjalankannya. Dengan ini semangat tafsir menemukan bentuk nyatanya: ayat yang semula hanya dibaca kini menjadi pengalaman yang dihayati, menjadi amal yang hidup di tengah kehidupan kampus.

Dari Program Tahsin Al-Qur’an al-Mujawwad FEB UIN Jakarta, nilai tafsir menjadi ruh di lingkungan kampus. Program ini tidak hanya mengajarkan kaidah tajwid dan makharijul huruf, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap huruf yang dibaca adalah dzikir, setiap ayat adalah nasihat, dan setiap lantunan adalah doa. Yang menghidupkan hati
Dalam hal ini kampus bukan hanya sekadar tempat untuk menajamkan intelektual, namun juga wadah pembentukan insan akademik Qur’ani. Mereka yang cerdas dalam berpikir, namun lembut dalam jiwa. Kritis dalam analisis, namun tunduk dalam ibadah. Di sinilah tartil menemukan maknanya: membentuk generasi yang tak hanya membaca ayat di mushaf, tetapi juga menulis ayat-ayat kebaikan dalam realitas kehidupan.
Menjadikan Kampus Sebagai Ruang Hidupnya Al-Qur’an.
Menghidupkan semangat tartil berarti menyalakan kembali semangat Qur’ani. Semangat ini sejalan dengan temuan Widya Handayani (2025) yang menunjukan bahwa pembiasaan membaca Al-Qur’an secara tartil mampu menumbuhkan kedisiplinan, kefasihan dan kedalaman makna ayat. Melalui pembiasaan ini, lingkungan belajar dapat berubah menjadi ruang religius dan berkarakter Qur’ani.
Dengan demikian, QS. Al-Muzzammil ayat 4 menjadi pengingat bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ritual, melainkan jalan menuju pembentukan diri yang beradab. Program Tahsin Al-Qur’an Al-Mujawwad FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi cermin nyata dari tafsir yang hidup, tafsir yang tidak hanya dibaca di kelas, tetapi dihidupkan dalam perilaku kampus.
Dari tartil lahir ketenangan, dari tadabbur tumbuh kesadaran, dan dari kampus Qur’ani akan lahir generasi yang menebar cahaya di tengah zaman. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
Inilah harapan yang terus dijaga agar setiap huruf yang dibaca, setiap makna yang direnungkan, dan setiap amal yang dijalankan menjadi bagian dari upaya menumbuhkan generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak, dan bercahaya.
Referensi
Handayani, Widya. “Implementasi Maghrib Mengaji dalam Meningkatkan Pemahaman Tajwid dan Tartil pada Anak Remaja di Lingk. XI Tnh 600 Medan Marelan.” Kreativitas Pada Pengabdian Masyarakat (Krepa), Vol. 7, No. 3 (2025): 351–360.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jilid 14. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Wawancara dengan Dr. Asy’ari Hasan (Wakil Dekan III FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Selasa, 4 November 2025.










Satu Komentar
MashaAllah luar biasa UIN Jakarta