Home / Al-Qur’an & Sains / Bahasa Semesta: Relevansi Tafsir Badiuzzaman Said Nursi dan Temuan tentang Tasbih Tumbuhan

Bahasa Semesta: Relevansi Tafsir Badiuzzaman Said Nursi dan Temuan tentang Tasbih Tumbuhan

Manusia kerap memandang alam sebagai benda mati. Padahal jauh sebelum lahirnya teori-teori sains modern, Al-Qur’an telah menyingkapkan realitas spiritual yang lebih dalam: bahwa seluruh makhluk, baik yang hidup maupun tak bernyawa, senantiasa bertasbih memuji Sang Pencipta.

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’: 44)

Ayat ini menjadi pondasi penting dalam tafsir Badiuzzaman Said Nursi, seorang ulama Turki modern yang menulis karya monumental Risale-i Nur Külliyatı atau yang dikenal dengan Risalah Nur. Dalam penafsirannya tentang Bismillah, Nursi menegaskan bahwa alam semesta bukanlah kumpulan benda tanpa ruh, melainkan “ayat-ayat kauniyah” yang hidup, tunduk, dan patuh kepada kehendak Allah (Nursi, 1996).

Menurutnya, setiap ciptaan memiliki bahasanya sendiri dalam mengagungkan Tuhan: burung dengan kicauannya, air dengan gemericiknya, angin dengan hembusannya, dan tumbuhan dengan pertumbuhannya yang penuh keteraturan (Nursi, 1996). Semua ini merupakan harmoni dzikir kosmik sebuah simfoni tasbih semesta yang berlangsung tanpa henti.

Dalam pandangan Nursi, lafaz Bismillah bukan sekadar kalimat pembuka pada setiap amal, tetapi kunci untuk memahami kitab besar bernama alam semesta. Dengan menyebut nama Allah, manusia menegaskan bahwa hidup, kekuatan, dan pengetahuannya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan pancaran dari sumber kekuasaan yang sama yang menggerakkan seluruh ciptaan. Nursi menulis bahwa setiap makhluk menunaikan ibadahnya melalui fungsi dan perannya di alam. Tumbuhan bertasbih dengan bertumbuh, matahari bertasbih dengan memancarkan cahaya, air bertasbih dengan mengalir memberi kehidupan, dan manusia bertasbih dengan menggunakan akalnya untuk mengenal dan menegaskan keagungan Tuhan. Maka, tasbih bukan hanya sekadar ucapan lisan, melainkan bentuk kepatuhan eksistensial, yakni ketaatan total terhadap hukum Ilahi yang mengatur setiap detak kehidupan.

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan M. Quraish Shihab (2002) dalam Tafsir Al-Mishbah, bahwa tasbih alam berarti ketaatan terhadap sunnatullah, yaitu hukum yang telah Allah tetapkan atas setiap makhluk. Alam patuh bukan karena paksaan, melainkan karena ia diciptakan untuk memuji-Nya dengan caranya sendiri. Bagi manusia, kesadaran terhadap tasbih alam adalah panggilan spiritual untuk merenungi kebesaran Tuhan di balik fenomena alam yang tampak “biasa”, namun sejatinya penuh makna Ilahiah.

Menariknya, pandangan teologis yang dikemukakan oleh Nursi pada awal abad ke-20 kini menemukan resonansinya dalam temuan ilmiah modern. Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh ilmuwan seperti William Browne dan Monica Gagliano (2020) menunjukkan bahwa tumbuhan ternyata mengeluarkan suara halus berupa getaran akustik yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia, tetapi dapat dideteksi melalui alat khusus.

Getaran ini muncul ketika tumbuhan mengalami kekurangan air, pertumbuhan akar, atau merespons rangsangan dari lingkungan. Dalam perspektif ilmiah, fenomena tersebut dipahami sebagai bentuk komunikasi biologis antar tumbuhan, semacam “bahasa getaran” yang memungkinkan mereka saling memberi isyarat. Namun bagi seorang mukmin, fakta ini dapat dimaknai lebih dalam: bahwa setiap getaran dan suara halus itu adalah bagian dari tasbih yang disebutkan Al-Qur’an, dzikir makhluk kepada Allah yang tidak dipahami oleh manusia.

Dalam konteks ini, sains tidak menegasikan wahyu, melainkan memperkaya pemahaman tentangnya. Sains menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, sedangkan wahyu menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Ketika dua dimensi ini disinergikan, manusia akan melihat keterpaduan antara dunia empiris dan dunia spiritual.

Seyyed Hossein Nasr (1996) dalam Religion and the Order of Nature menegaskan bahwa ilmu pengetahuan modern kehilangan kedalaman makna karena memisahkan dimensi spiritual dari realitas alam. Bagi Nasr, alam adalah manifestasi dari kehadiran Ilahi; setiap unsur di dalamnya adalah tanda (ayat) yang menunjuk kepada Allah. Karena itu, memandang alam hanya sebagai objek material adalah bentuk reduksi spiritual. Manusia modern perlu mengembalikan pandangan kosmik yang utuh, melihat alam bukan sekadar sistem mekanis, tetapi sebagai medan dzikir yang hidup.

Keterpaduan antara tafsir Nursi dan penemuan ilmiah ini menghadirkan pelajaran berharga: bahwa agama dan sains tidaklah bertentangan secara hakiki. Justru keduanya saling mengukuhkan. Wahyu memberi arah dan makna bagi sains, sementara sains menjadi sarana untuk memahami kebesaran Tuhan secara empiris.

Pandangan semacam ini mencerminkan paradigma tauhidi dalam epistemologi Islam, dimana seluruh cabang ilmu pengetahuan berpangkal pada kesadaran bahwa alam adalah ciptaan Allah yang bergerak sesuai kehendak-Nya. Dengan demikian, setiap penemuan ilmiah sejatinya adalah penyingkapan terhadap ayat-ayat kauniyah yang tersembunyi.

Ketika manusia meneliti struktur daun, gerak akar, atau pola cahaya matahari, sesungguhnya ia sedang membaca ayat-ayat Allah dalam bentuk yang lain. Seperti halnya Nursi menyebut, “setiap atom di alam semesta adalah saksi atas keesaan-Nya.” Maka, tugas manusia bukan hanya menjadi pengamat, tetapi juga penafsir spiritual terhadap alam yang bertasbih.

Relevansi antara tafsir Badiuzzaman Said Nursi dan temuan ilmiah tentang bahasa tasbih tumbuhan menunjukkan bahwa antara agama dan sains tidak ada jurang pemisah yang sejati. Keduanya adalah dua cermin yang memantulkan satu kebenaran: bahwa seluruh semesta hidup dalam kesadaran Ilahi.

Bahasa semesta itu nyata. Ia bergetar di urat batang tumbuhan, berdesir di udara, bergemuruh di laut, dan berpendar di cahaya matahari. Ia berbicara melalui keteraturan hukum alam dan keindahan ciptaan. Manusia hanya perlu belajar mendengarnya, bukan dengan telinga, tetapi dengan hati yang mengenal Penciptanya.

Ketika hati telah bening, bahkan desir angin pun terdengar seperti dzikir. Ketika pandangan telah jernih, setiap daun tampak sujud dalam diam. Dalam kesadaran itu, manusia menemukan hakikat tasbih semesta: bahwa tiada sesuatu pun di jagat raya ini yang sunyi dari pujian kepada-Nya.

Referensi

Browne, W., & Gagliano, M. (2020). Sound communication in plants: Evidence, mechanism, and meaning. Journal of Plant Signaling and Behavior, 15(3), 214–229.

Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press.

Nursi, B. S. (1996). Risale-i Nur Külliyatı: Sözler (The Words). Istanbul: Sozler Publications.

Quraish Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (Vol. 7). Jakarta: Lentera Hati.

Shihab, M. Q. (2007). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Lentera Hati.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *