Home / Tafsir Kontekstual / Laksamana Malahayati: Jejak Pemimpin Perempuan dalam Melawan Kolonialisme

Laksamana Malahayati: Jejak Pemimpin Perempuan dalam Melawan Kolonialisme

Sejarah Indonesia mencatat sejumlah tokoh perempuan yang ikut berjuang melawan kolonialisme, diantaranya R.A Kartini, Dewi Sartika, Rasuna Said, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, dan masih banyak tokoh perempuan lainnya. Tetapi euforia penggambaran kisah perempuan dalam sejarah perjuangan melawan penjajah tidak sebesar narasi yang disematkan untuk para tokoh pejuang laki-laki.

Salah satu tokoh pahlawan perempuan terkemuka di Indonesia adalah Laksamana Malahayati. Beliau berasal dari tanah Aceh yang menjadi pelopor berdirinya pasukan militer perempuan bernama Inong Balee. Dipimpin oleh Laksamana Malahayati, para anggota Inong Balee berisikan perempuan dan janda yang suaminya gugur di medan perang saat melakukan pertempuran melawan penjajah (Aziz, 2024).

Tercatat dalam sejarah bahwa Laksamana Malahayati merupakan perempuan pertama di dunia yang menyandang gelar Laksamana (pangkat tertinggi di Angkatan Laut). Figur Laksamana Malahayati mengingatkan kita dengan kepemimpinan Ratu Balqis dari negeri Saba. Ratu Balqis dikenal sebagai ratu yang adil dan bijaksana serta bisa mensejahterakan rakyatnya. Ia memiliki karakter yang cerdas, musyawarah, dan selalu berhati-hati dalam membuat keputusan,

Kisah Ratu Balqis diabadikan dalam Al-Qur’an pada QS. An-Naml ayat 29-35. Dimana pada ayat ini negeri Saba digambarkan sebagai negeri yang sangat makmur dibawah kepemimpinnya. Melalui ayat ini kita akan menemui korelasi antara nilai-nilai spiritual Islam dengan spirit kepemipinan perempuan dalam konteks melawan ketidakadilan dan memberantas kezhaliman.

Sebagaimana firman Allah dalam QS An-Naml ayat 29-35 yang artinya:

“Berkatalah ia (Balqis), ‘Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya (isi)nya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.’ Ia berkata, ‘Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam urusanku; aku tidak pernah memutuskan sesuatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).”

Ratu Balqis adalah pemimpin yang menjunjung tinggi prinsip perdamaian dan keadilan. Menjadi pemimpin bukanlah masalah persoalan gender, melainkan kapasitas kepemimpinan dan akhlak. Ia adalah simbol bahwa pemimpin perempuan merupakan manifestasi dari perintah Allah yang mengatakan bahwa setiap manusia adalah khalifah di muka bumi.

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, Ratu Balqis digambarkan sebagai sosok yang memiliki pandangan luas dan terbuka. Dalam setiap pengambilan keputusan, ia selalu mengedepankan sikap musyawarah dan berhati-hati untuk semua keputusan yang ada ditangannya, meskipun ia berkuasa secara absolut (Quraish, 2002). Sikapnya tersebut menunjukan kecerdasan emosional dan kebijaksanaan yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an.

Jejak Perjuangan Malahayati dari Tanah Aceh Menuju Panggung Dunia

Lahir di Aceh pada 1 Januari 1550, Laksamana Malahayati dikenal sebagai perempuan yang menjadi pemimpin armada laut pertama di dunia. Ia berasal dari keluarga bangsawan. Orang tuanya berasal dari Kesultanan Aceh yang bernama Laksamana Mahmud Syah. Latar belakang keluarganya adalah pemimpin militer angkatan laut sehingga Malahayati yang tumbuh dilingkungan istana turut mendapatkan pendidikan militer sejak muda.

Karirnya dalam dunia militer dimulai pada saat suaminya gugur di medan perang. Laksamana Malahayati mengambil alih kepemimpinan armada laut Aceh kala itu. Laksamana Malahayati dan pasukan inong balee melakukan ekspansi militer dilaut untuk menghalau para penjajah yang mencoba menguasai jalur perdagangan.

Laksamana Malahayati memiliki keberanian yang sangat tangguh dalam melawan Portugis, Inggris, dan Belanda saat itu. Bersama pasukan Inong Balee, ia memimpin armada laut Aceh dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman seorang tentara Belanda dalam sebuah peristiwa heroik pada akhir abad ke-16. Selain keberanian yang ia miliki, ia juga pandai dalam melakukan diplomasi politik.

Kepiawaiannya dalam bernegosiasi adalah upaya untuk mempertahankan kedaulatan Aceh dari penjajah. Ia seolah mewarisi sifat dan kecerdasan Ratu Balqis dalam memimpin. Sebagaimana Ratu Balqis yang memilih mengambil jalur damai dengan Nabi Sulaiman dan mengirimkannya hadiah, demikian pula dengan Laksamana Malahayati, ia menggabungkan ketegasan dan kecerdasan komunikasi saat menghadapi para kolonial yang mengancam kedaulatan Aceh.

Tidak hanya pandai dalam militer, diplomasi, dan negosiasi saja, Laksamana Malahayati juga berhasil menunjukan eksistensi perempuan ditengah kentalnya budaya patriarki saat itu. Ia menjadi inspirasi dalam lintas sejarah Indonesia bahwa perempuan juga memiliki kecerdasan dan kekuatan dalam memimpin dan berjuang mengusir penjajah. Kontribusinya dalam militer mengingatkan kita akan peran perempuan yang seringkali dterlupakan dalam narasi sejarah.

Melalui kepemimpinannya ia juga menunjukan bahwa peran perempuan tidak terbatas hanya dalam sektor domestik saja, lebih dari itu perempuan bisa memasuki sektor strategi militer dan pertahanan. Sehingga dengan langkah yang diambil oleh Laksamana Malahayati ini memperkuat posisi perempuan dalam struktur sosial masyarakat Aceh. Perjuangannya dalam mengangkat derajat perempuan akan terus menjadi warisan yang tidak akan pudar oleh zaman.

Refleksi Kepemimpinan Ratu Balqis dan Laksamana Malahayati

Ratu Balqis dan Laksamana Malahayati merupakan potret pemimpin perempuan yang kuat, berani, tangguh, dan bijaksana. Berikut korelasi prinsip nilai-nilai Islam dalam kepemimpinan keduanya:

Pertama, kecerdikan dalam membangun strategi. Keduanya sama-sama mengambil jalur perdamaian dan menghindari peperangan. Seandainya harus terjadi peperangan, semata untuk menjaga kehormatan bangsa. Ratu Balqis menggunakan diplomasi dalam bidang politik, sedangkan Laksamana Malahayati berdiplomasi dalam militer.

Kedua, setiap pengambilan keputusan, keduanya mengedepankan sikap musyawarah dan partisipasi. Ratu Balqis melibatkan rakyat untuk musyawarah dalam menentukan keputusan, sedangkan Laksamana Malahayati melibatkan para perwiranya untuk membangun strategi militer.

Ketiga, model kepemimpinan keduanya sama-sama mengedepankan nilai-nilai Al-Qur’an, yaitu bersikap adil dan amanah. Totalitas saat memimpin didorong oleh kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.

Penutup

Ratu Balqis dan Laksamana Malahayati adalah bukti sejarah bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam konteks masa kini, perjuangan keduanya merupakan implemetasi dari misi keislaman untuk memberantas kezhaliman dan ketidakadilan. Sebagaimana saat Malahayati menolak dominasi penjajah dan Ratu Balqis yang terlebih dahulu mencari kebenaran daripada tunduk pada orang asing.

Jika Ratu Balqis merupakan wujud dari cahaya pada gelapnya politik negeri Saba, maka Laksamana Malahayati adalah wujud api yang membakar semangat ditengah besarnya ombak kolonialisme. Keduanya bersinergi sebagai pemimpin dalam memberantas kerusakan dan menegakan keadilan meskipun keduanya berbeda masa, ruang dan waktu. Mereka menjadi inspirasi bagi para perempuan masa kini untuk terus berjuang tanpa henti.

Referensi

Aziz, Ahmad Zaki Zainun. Laksamana Malahayati: Perintis Perjuangan Wanita dalam Sejarah Maritim Aceh. Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, 2024, 1: 823-828.

Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *