Berbicara tentang perjuangan para pahlawan Indonesia pada masa penjajahan, tidak lepas dari sosok perempuan yang memainkan peran dalam melawan kolonial. Ada begitu banyak perempuan Indonesia turut serta turun ke medan perang, seperti Laksamana Malahayati pemimpin pasukan armada laut, Cut Nyak Meutia terkenal akan keberaniannya melawan Belanda, Opu Daeng Risaju terlibat dalam pertempuran melawan penjajah, dan masih banyak lainnya.
Tak hanya berjuang dalam sisi strategi politik melawan penjajah, perempuan kala itu juga memainkan perannya dalam sektor pendidikan khusunya bagi kaum perempuan. Sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa kala itu perempuan belum menempati posisi prioritas untuk mendapat hak pendidikan seperti kaum lelaki. Jika pun perempuan masa itu mendapat pendidikan, biasanya karena mereka berasal dari golongan konglomerat atau pejabat.
Sosok Rahmah El-Yunisiyah adalah seorang pahlawan perempuan Indonesia yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 26 Oktober 1900. Ia merupakan pahlawan yang pertama kali mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan. Rahmah El-Yunusiyah telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia agar mendapatkan hak yang setara dengan kaum laki-laki.
Memadukan konsep pendidikan Islam dengan keterampilan, ia bertekad untuk meciptakan karakter tangguh, kuat, dan terampil yang berlandaskan nilai-nilai agama dalam diri seorang perempuan. Selain itu, dengan berdirinya sekolah perempuan harapannya adalah melahirkan perempuan cerdas dan berwawasan luas dapat terealisasi untuk membangun Indonesia kuat dan terlepas dari penjajahan kala itu.
Jejak Perjuangan Rahmah El-Yunusiyah dalam Mendirikan Sekolah Perempuan
Seperti kebanyakan perempuan kala itu yang tidak mengenyam pendidikan formal, dirasakan pula oleh Rahmah saat kecil. Ia belajar tentang banyak ilmu secara otodidak dari kakaknya yang merupakan pendiri Sekolah Diniyah sekaligus tokoh pendidikan Indonesia. Sekolah Diniyah didirikan oleh kakaknya bernama Zainuddin Labay. Sekolah ini diperuntukan hanya untuk laki-laki saja.
Selain pendidikan yang masih diprioritaskan untuk laki-laki, sama halnya dalam aktivitas keagamaan. Peran laki-laki lebih banyak dilibatkan dibanding perempuan. Hal ini menganggu pikiran Rahmah. Ia berpandangan bahwa kaumnya juga bisa memiliki kesempatan yang sama seperti mereka yaitu bergerak dalam bidang pendidikan serta aktif dalam aktivitas keagamaan tanpa adanya batasan.
Berawal dari kegelisahan Rahmah akan hal tersebut, tercetuslah ide mendirikan Sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang pada 1 November 1923. Pendirianya sudah mendapat dukungan dari keluarga dan para ulama di Minangkabau. Sekolah ini didirikan guna mencetak seorang ibu yang terdidik agar mampu membangun katahanan keluarga dan menjalankan fungsi dimasyarakat berlandaskan pada nilai-nilai keIslaman yang moderat dan progresif.
Pada awal peresmiannya, murid yang mengenyam pendidikan di sekolah ini berjumlah 71 orang. Kebanyakan berasal dari kalangan ibu rumah tangga yang ingin belajar mengaji, baca tulis, dan ilmu pengetahuan lainnya yang saat itu sangat jarang didapatkan oleh perempuan. Hadirnya sekolah ini membawa harapan baru bagi masa depan perempuan Indonesia untuk terlibat lebih luas dalam struktur sosial dan politik.
Berselang dua belas tahun kemudian yakni pada 1935, Rahma memperluas jaringan pendidikannya hingga ke Batavia. Ia mendirikan sekolah dengan program khusus pemberantasan buta huruf. Target siswa berasal dari kalangan ibu rumah tangga yang sebelumnya belum pernah mendapatkan akses pendidikan.
Selain berkontribusi pada perjuangan membangun akses pendidikan perempuan, Rahma juga aktif dalam politik. Tercatat bahwa ia adalah salah satu pendiri partai Masyumi dari Minangkabau dan pernah menduduki jabatan sebagai anggota parlemen. Dengan keaktifannya didunia pemerintahan, tentu membuka peluang sangat besar untuk Rahmah dalam mengembangkan sayap pendidikannya.
Motivasi Kiprah Rahmah El-Yunusiyah Untuk Perempuan Masa Kini
Perjuangan Rahmah El-Yunusiah dalam menghadirkan pendidikan yang berintegritas bagi kaum perempuan selaras dengan perintah Allah SWT dalam QS. Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Surah ini adalah wahyu yang pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya berisi perintah untuk belajar dengan membaca. Pengertian membaca bukan sekadar hanya membaca tulisan saja, melainkan perintah untuk memahami kalam-kalam Allah kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga Al-Qur’an tidak dibiarkan melangit tetapi harus mampu membumi.
Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kewajiban untuk memperluas ilmu pengetahuan demi masa depan kehidupan manusia itu sendiri. Sebagaimana dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia berawal dari segumpal darah, kemudian Allah turunkan kalam-kalamnya sebagai perantara untuk manusia belajar tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. (Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, jilid 1, hal. 391).
Perjuangan Rahmah El-Yunusiyah dalam mencerdaskan perempuan Indonesia berbanding lurus dengan perintah yang terkandung dalam QS. Al-Alaq:1-5 tentang perintah untuk belajar. Dalam perjuangannya Rahmah berhasil menunjukan kepada dunia bahwa kemerdekaan atas perempuan dapat diperoleh melalui pendidikan. Rahmah bisa mematahkan stigma sosial yang mengatakan bahwa wilayah kekuasaan perempuan hanya ada di sumur, dapur, dan kasur.
Rahmah berhasil menjadi role model perempuan masa kini untuk berani keluar dari zona patriarki yang menghambat ruang geraknya. Memberikan kesadaran bahwa perempuan harus memiliki kekuatan untuk mempertahankan apa yang seharusnya sudah menjadi haknya. Namun dalam konteks kehidupan modern, perjuangan perempuan tidak hanya sebatas mendapat akses pendidikan melainkan melibatkan diri dalam struktur sosial yang lebih tinggi.
Nilai-nilai yang patut diteladani dari seorang Rahmah El-Yunusiyah di antaranya yaiktu: pertama, berperan aktif dalam bidang sosial dan politik sebagai anggota parlemen, Kedua, pendidikan sebagai pondasi utama untuk menjadi perempuan berdaya, kuat dan mandiri. Ketiga, berani untuk melawan aturan patriarki yang menghambat ruang gerak perempuan. Keempat, menciptakan jejaring yang luas untuk berkolaborasi sehingga memperkuat posisi perempuan.
Tantangan bagi perempuan modern saat ini adalah bagaimana perempuan bisa mengisi semua sektor dengan keahlian mereka. Misalnya, perempuan dalam dunia politik bisa melakukan advokasi kebijakan perlindungan bagi perempuan dan anak, perempuan dalam bidang ekonomi berperan untuk membantu kesejahteraan keluarga, partisipasi perempuan dalam bidang hukum sebagai penguat perlindungan terhadap keamanan perempuan, dan lain sebagainya.
Melalui perjuangannya dalam mendirikan sekolah perempuan, Rahmah El-Yunusiyah bertekad untuk membawa perempuan mencapai derajat yang lebih tinggi. Ia membuka jalan bagi perempuan untuk berdikari dan sudah saatnya perjuangan Rahmah diteruskan oleh perempuan masa kini. Rahmah El-Yunusiyah adalah simbol kekuatan perempuan untuk mendapatkan akses pendidikan dan hak sosial-politik di Indonesia.
Referensi:
Rahmadhani, Latifah Zahra, Ria Yogi Destiana, Ummi Fadhilah. “Peran Rahmah El-Yunusiyah dalam Pendidikan.” Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kearifan Lokal. 4.6 (2024).
Shihab, Muhammad Quraish. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jilid 1. Jakarta: Lentera Hati, 2000, hlm. 391.









