Home / Al-Qur’an & Sains / Al-Qur’an dan Isyarat Bioteknologi Modern dalam Tumbuhan

Al-Qur’an dan Isyarat Bioteknologi Modern dalam Tumbuhan

Perkembangan bidang bioteknologi dalam dua dekade terakhir telah mengalami kemajuan yang signifikan dalam memperkaya pemahaman manusia tentang sistem kehidupan, terutama pada makhluk hidup pada tingkat kompleksitas rendah seperti tumbuhan. Dengan pendekatan berbasis genetika molekuler, para ilmuwan kini mampu mengidentifikasi, mengubah, serta mentransfer gen dari satu spesies ke spesies lainnya.

Hal ini memungkinkan pengembangan varietas tanaman yang lebih menghasilkan, lebih tahan terhadap hama, dan lebih mampu menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Inovasi tersebut menunjukkan pergeseran dalam hubungan manusia dengan alam, dari sekadar memanfaatkan hasil bumi menjadi mampu mengelola struktur kehidupan itu sendiri.

Al-Qur’an telah menggambarkan adanya keteraturan dalam dunia biologis dan prinsip keseimbangan dalam penciptaan makhluk hidup, termasuk tumbuhan. Salah satu ayat yang sering dikemukakan sebagai contoh adalah firman Allah dalam Surah Thaha [20]: 53.

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ مَهْدًا وَّسَلَكَ لَكُمْ فِيْهَا سُبُلًا وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۗ فَاَخْرَجْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْ نَّبَاتٍ شَتّٰى

(Dialah Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan meratakan jalan-jalan di atasnya bagimu serta menurunkan air (hujan) dari langit.” Kemudian, Kami menumbuhkan dengannya (air hujan itu) beraneka macam tumbuh-tumbuhan yang berpasang-pasangan.

Ayat ini tidak hanya menggambarkan keindahan ciptaan, tetapi juga menyimpan petunjuk ilmiah. kata “azwājā” (berpasang-pasangan) menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi dibangun atas prinsip dualitas, keterhubungan, dan keseimbangan. Dalam konteks bioteknologi modern, ayat tersebut mengilustrasikan struktur dasar kehidupan yang terbentuk dari pasangan-pasangan genetik, seperti pasangan basa nitrogen dalam molekul DNA.

Konsep pasangan dalam bidang bioteknologi mempunyai makna yang sangat konkrit. DNA, sebagai molekul yang mengandung informasi genetik semua makhluk hidup, terdiri dari dua heliks yang saling melilit (Uun & Nico, 2023). Kedua heliks tersebut dihubungkan oleh pasangan basa nitrogen: Adenin (A) berpasangan dengan Timin (T), Sitosin (C) berpasangan dengan Guanin (G).

Tanpa pasangan ini, tidak akan ada proses pewarisan sifat dalam kehidupan. Setiap makhluk hidup, termasuk tumbuhan, memiliki informasi genetik yang disusun dari pasangan basa tersebut, menghasilkan jutaan “kata” biologis yang menentukan variasi karakter seperti warna daun, tinggi tanaman, bentuk bunga, hingga ketahanan terhadap penyakit.

Ungkapan “tumbuh-tumbuhan yang berpasang-pasangan” dalam QS. Ta-Ha: 53 tersebut dapat diartikan sebagai petunjuk mengenai mekanisme genetik dalam dunia tumbuhan. Tumbuhan tidak hanya memiliki pasangan seksual (antara betina dan jantan), tetapi juga memiliki sistem genetik internal yang tersusun atas pasangan-pasangan kimia yang menjadi dasar dalam proses replikasi dan pewarisan sifat (Effendi, 2020).

Dualitas dalam Penciptaan: Antara Laki-laki dan Perempuan, Positif dan Negatif

Konsep “berpasang-pasangan” (azwāj) adalah salah satu tema kosmik yang sering muncul dalam Al-Qur’an. Dalam Surat Adz-Dzāriyāt ayat 49, Allah berfirman,

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).”

Dualitas ini terlihat dalam semua sistem kehidupan, baik secara biologis, fisik, maupun kimia. Pada tumbuhan, pasangan tersebut terlihat dalam organ reproduksinya, seperti benang sari (jantan) dan putik (betina). Pada tingkat molekuler, dualitas terlihat dalam pasangan basa DNA. Pada tingkat ekologis, keseimbangan pasangan tampak dalam hubungan antar spesies, seperti tumbuhan dan bakteri pengikat nitrogen.

Dengan demikian, ayat Surat Thaha ayat 53 tidak hanya menjelaskan keindahan tumbuhan, tetapi juga menunjukkan struktur dasar dari ciptaan, dimana keberadaan satu elemen selalu melibatkan pasangannya. Prinsip ini sesuai dengan hukum simetri alam yang dikenal dalam ilmu pengetahuan modern, termasuk bidang fisika partikel dan biologi molekuler.

Genetika Tumbuhan: Dari Penyerbukan hingga Rekayasa DNA

Dalam dunia botani, proses reproduksi tumbuhan adalah wujud nyata dari sistem “berpasang-pasangan”. Proses ini melibatkan penyerbukan, yaitu perpindahan serbuk sari (gamet jantan) ke kepala putik (gamet betina). Ketika terjadi pembuahan, kedua gamet tersebut menyatu dan membentuk embrio yang berkembang menjadi individu baru (Akira, dkk., 2024).

Namun, yang menarik adalah sistem pasangan ini tidak hanya terdapat di tingkat organ, tetapi juga di tingkat genetik. Di dalam setiap sel tumbuhan, terdapat genom yang terdiri dari jutaan pasangan basa DNA. Kombinasi pasangan gen ini menentukan bagaimana sifat-sifat tumbuhan terwujud.

Perkembangan bioteknologi tumbuhan memungkinkan manusia memahami bahkan memodifikasi pasangan genetik tersebut guna menghasilkan varietas tumbuhan yang lebih unggul. Melalui teknik rekayasa genetika, para ilmuwan dapat mengubah gen tumbuhan agar: lebih tahan terhadap hama, lebih cepat berbuah, memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi, atau dapat tumbuh di lingkungan ekstrem.

Dengan kata lain, manusia kini tidak hanya memperhatikan sistem pasangan dalam tumbuhan, tetapi juga memanipulasi sistem genetik tersebut untuk tujuan kemaslahatan.

Alam Sebagai Sistem Keseimbangan

Jika dilihat dari sudut pandang ekologis, konsep “azwājā” (berpasangan-pasangan) juga menggambarkan keberagaman kehidupan (biodiversity). Keanekaragaman ini timbul dari interaksi dan keseimbangan antara makhluk hidup dalam sistem ekosistem. Misalnya, proses fotosintesis pada tumbuhan menghasilkan oksigen yang digunakan oleh hewan dan manusia.

Sebaliknya, makhluk hidup mengeluarkan karbon dioksida yang dibutuhkan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Ini adalah contoh dari pasangan ekologis yang saling melengkapi, sebagaimana dijelaskan dalam hukum keseimbangan yang diatur oleh Allah dalam QS. Al-Mulk [67]: 3–4

مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ

Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun.

Dari “Pasangan Genetik” ke “Etika Bioteknologi”

Meskipun bioteknologi memberikan kemungkinan besar bagi kemajuan manusia, Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak melakukan kelebihan dalam memanfaatkan pengetahuan ini. Prinsip pasangan dalam QS. Ṭāhā: 53 bukan hanya menjelaskan mekanisme biologis, tetapi juga menanamkan nilai etika keseimbangan, yaitu bahwa setiap ciptaan memiliki pasangan dan fungsi tertentu yang tidak boleh dilanggar.

Ketika manusia mengubah struktur genetik makhluk hidup, seperti melalui rekayasa genetika atau kloning, ia harus mempertimbangkan aspek moral dan tanggung jawab ekologis. Dengan demikian, pandangan Al-Qur’an terhadap bioteknologi ialah sebagai pengingat bahwa sains harus dijalankan secara seimbang dengan hikmah dan kebijakan moral.

Konsep “tumbuhan yang berpasangan” dalam Surah Ta-Ha ayat 53 ternyata selaras dengan temuan ilmu bioteknologi modern tentang sistem pasangan genetik dalam DNA tumbuhan. Pasangan ini adalah dasar dari segala kehidupan. Dalam pandangan Al-Qur’an, pasangan ini adalah petunjuk dari kekuasaan dan kebijaksanaan Sang Pencipta.

Kedua pandangan ini bertemu pada satu titik, yaitu bahwa kehidupan adalah jaringan keseimbangan dan keterhubungan. Manusia sebagai khalifah bukanlah penguasa tunggal atas ciptaan, melainkan pengawal keseimbangan tersebut agar tetap selaras.

Referensi

Akira, Agnie Airul, Alvi Arumi Fadila, Aprilia Khoirunnisa Emnur, Fida Qurrotul Aini, Gina Satira, and Ita Fitriyyah. “Struktur Internal Organ Reproduksi Tumbuhan Berbiji (Angiospermae dan Gymnospermae).” Mikroba: Jurnal Ilmu Tanaman, Sains Dan Teknologi Pertanian 1, no. 3 (2024): 126-137.

Effendi, Yunnus. “Genetika Dasar.” Jawa Tengah: Pustaka Rumah C1nta (2020).

Yanuhar, Uun, and Nico Rahman Caesar. Bioteknologi Lingkungan Perairan. Universitas Brawijaya Press, 2023.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *