Home / Al-Quran & Generasi Muda / Menghindari Pertemanan Toxic: Refleksi QS. Al-Furqan Ayat 27–29

Menghindari Pertemanan Toxic: Refleksi QS. Al-Furqan Ayat 27–29

Fenomena pertemanan toxic tidak hanya sebuah jargon, melainkan sebuah realitas yang dialami banyak orang, terutama di kalangan generasi Z. Pertemanan yang toxic sering kali melontarkan istilah-istilah seperti “Hidup sekali, nikmati saja”, “yang penting bahagia”, “jangan terlalu membawa agama”, atau “kita ikuti arus aja”. Inklusif memang baik, tetapi jika tidak didasari nilai, inklusivitas bisa berubah menjadi permisif. Inilah celah yang ditangkap Al-Qur’an: kebebasan tanpa bingkai keimanan akan berakhir dengan penyesalan.

Banyak anak muda bergantung pada validasi dari teman meskipun hubungan tersebut sering kali mengarahkan mereka pada gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai moral. Dalam konteks ini, QS. Al-Furqan: 27–29 memberikan peringatan yang sangat relevan terkait hal tersebut.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاۤءَنِيْۗ

 “(Ingatlah) hari (ketika) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Oh, seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul. Oh, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman setia (Yang dimaksud si fulan adalah orang atau teman yang telah menyesatkannya di dunia. Sungguh, dia benar-benar telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika telah datang kepadaku.”

Ayat tersebut menggambarkan sosok yang menyesal atas hubungan dengan seorang teman yang membuatnya jauh dari kebenaran. Ayat ini menegaskan bahwa teman dapat menjadi pengaruh besar dalam arah hidup seseorang, baik mengarah pada jalan yang menyelamatkan maupun yang menyesatkan. Pilihan kita di dunia ini akan mencerminkan nasib kita di akhirat (Hasanuddin Umar, 2014). Jika sahabat di dunia hanya menghadirkan candaan merendahkan, ajakan untuk berbuat maksiat, maka ruang pertemanan itu sedang membentuk penyesalan di akhirat, sebagaimana terdapat dalam ayat tersebut.

Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya mengkritik bentuk persahabatan yang merusak, tetapi juga memberikan konsep tentang sahabat yang ideal. Terdapat dua istilah penting yang dapat menjadi dasar: shahib dan shadiq. Shahib merujuk pada kebersamaan secara lahiriah: dua orang berada di tempat dan waktu yang sama, saling berinteraksi atau hidup berdampingan, tanpa harus memiliki kesamaan pandangan, nilai, atau tujuan.

فالصُّحبةُ هي التقاءٌ في زمانٍ واحدٍ وفي مكانٍ واحدٍ دون أن تعني بالضَّرورة التَّجانسَ والانسجام بين المُتصاحِبَيْن

Artinya: persahabatan dalam bentuknya yang umum adalah pertemuan dalam satu waktu dan ruang, tanpa jaminan adanya keselarasan dan keharmonisan antara kedua pihak.

Oleh karena itu, kata shāhib dalam Al-Qur’an digunakan untuk menggambarkan hubungan sosial, bukan teman sejati. Contohnya, dalam Surah Saba’ ayat 46, Allah menegur kaum musyrik yang menuduh Nabi Muhammad gila dengan mengatakan:

قُلْ اِنَّمَآ اَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍۚ اَنْ تَقُوْمُوْا لِلّٰهِ مَثْنٰى وَفُرَادٰى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوْاۗ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِّنْ جِنَّةٍۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ لَّكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku hendak menasihatimu dengan satu hal saja, (yaitu) agar kamu bangkit karena Allah, baik berdua-dua maupun sendiri-sendiri, kemudian memikirkan (perihal Nabi Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu bahwa di hadapanmu ada azab yang keras.”

Ayat ini menunjukkan bahwa istilah shāhib bisa digunakan meskipun salah satu pihak berada dalam kesesatan atau kesombongan, karena hubungan yang dimaksud bukanlah kesatuan prinsip.

Berbeda dengan itu, Al-Qur’an memperkenalkan istilah shadīq sebagai bentuk hubungan yang lebih dalam, yaitu bermakna teman sejati. Teman yang sejati, ikut merasakan suka dan duka, serta ikut mengajak ke jalan Allah (Farabi & Idatul Fitri, 2011). Dalam Surah At-Taubah ayat 119, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!

Dari dua istilah ini, Al-Qur’an mengajarkan bahwa tidak semua orang yang dekat disebut sebagai sahabat sejati. Sikap kritis dalam memilih teman merupakan bagian dari etika Al-Qur’an. Konsep sahabat yang ideal dalam Islam bukan hanya mereka yang hadir dalam tawa, tetapi juga mereka yang bisa menegur ketika ada kesalahan. Bukan sahabat yang menghalangi kebenaran, tetapi yang mengingatkan pada kebenaran. Bukan sahabat yang mengajak menjauhi agama, tetapi yang menemani mendekatkan diri kepada Tuhan.

Bagaimana Menghindari Pertemanan yang Toxic?

Pertemanan yang toxic bisa jadi sulit dihindari, tetapi bisa dihadapi dengan kesadaran. Langkah pertama adalah mengenali tanda-tandanya, seperti ketika kita mulai kehilangan arah atau pengabaian pada nilai-nilai moral yang disebabkan olehnya. Langkah berikutnya adalah berani menjaga jarak, mencari lingkungan baru, atau menghadirkan pengaruh positif dalam lingkaran yang sudah ada.

QS. Al-Furqan: 27–29 mengajak manusia untuk menyadari sebelum terlambat bahwa tidak semua orang yang berjalan di samping kita adalah teman menuju kebahagiaan. Di balik ayat tersebut terdapat pesan yang sangat menyentuh bahwa pertemanan bukan hanya urusan dunia, tetapi juga merupakan bekal dan salah satu penentu untuk kehidupan di akhirat nanti.

Referensi

Ferdiansyah, Farabi, dan Idatul Fitri. Persahabatan. Logika Galileo, 2011.

Umar, H. Nasaruddin. Menuai Fadhilah Dunia, Menuai Berkah Akhirat. Elex Media Komputindo, 2014.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *