Home / Al-Qur’an & Sains / Jeda Kosmik Antara Dua Tiupan Sangkakala: Analisis Tafsir Tematik Surah An-Nazi’at Ayat 6-7 dan Integrasinya dengan Hadits Nabi

Jeda Kosmik Antara Dua Tiupan Sangkakala: Analisis Tafsir Tematik Surah An-Nazi’at Ayat 6-7 dan Integrasinya dengan Hadits Nabi

Alam semesta dan segala kehidupan di dalamnya memiliki titik akhir yang pasti, sebuah peristiwa agung yang dalam Islam dikenal sebagai Kiamat Kubra. Di antara rangkaian peristiwa dahsyat yang menyelimuti hari tersebut, tiupan sangkakala (ash-shur) oleh Malaikat Israfil memegang peran sentral sebagai penanda transisi dari dunia fana menuju kehidupan akhirat. Namun, seringkali muncul pertanyaan, bagaimanakah sekuensial peristiwa tiupan ini? Apakah ia terjadi dalam satu rentetan yang berkesinambungan, atau terdapat jeda di dalamnya? Jawaban yang mendalam dan mencerahkan justru dapat kita temukan dalam dua ayat pendek di Surah An-Nazi’at, yang ketika dikupas dengan merujuk pada penjelasan Nabi, membuka tabir rahasia kosmik yang sangat menakjubkan.

Memecah Kode Ar-Rajifah dan Ar-Radifah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nazi’at ayat 6 dan 7, “Pada hari (ketika) ar-Rajifah mengguncang dunia, diiringi oleh ar-Radifah yang mengiringinya.” Dua kata kunci dalam ayat ini, ar-Rajifah dan ar-Radifah, menjadi kunci untuk memahami misteri ini. Para ulama tafsir klasik, seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, dengan suara yang hampir seragam menjelaskan bahwa ar-Rajifah tidak lain adalah Tiupan Sangkakala yang Pertama. Tiupan ini adalah tiupan keterkejutan dan kehancuran (nafkhah al-faza’ atau as-sa’q). Dengannya, seluruh makhluk yang di langit dan di bumi—manusia, jin, binatang, bahkan malaikat—terkejut, ketakutan, dan menemui ajalnya. Alam semesta pun berguncang dahsyat dan hancur lebur.

Kemudian, ayat berikutnya memperkenalkan ar-Radifah. Kata ini berasal dari akar kata yang berarti “mengiringi” atau “yang datang setelahnya”. Ini adalah isyarat linguistik yang sangat halus namun tegas bahwa ada dua peristiwa terpisah yang berurutan. Ar-Radifah ditafsirkan sebagai Tiupan Sangkakala yang Kedua, yaitu tiupan kebangkitan (nafkhah al-ba’ts atau al-qiyamah). Tiupan inilah yang membangkitkan seluruh umat manusia dari dalam kuburnya, untuk berdiri di Padang Mahsyar mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan. Dengan demikian, frasa “diiringi oleh yang mengiringinya” secara implisit menunjukkan adanya sebuah rentang waktu, sebuah “jeda kosmik” antara momen kematian massal dan momen kebangkitan massal.

Lamanya Jeda: Sebuah Misteri Ilahiyah

Lalu, berapa lamakah jeda antara dua tiupan maha dahsyat tersebut? Di sinilah Al-Qur’an yang bersifat global ditemani oleh penjelasan rinci dari Sang Nabi penerima wahyu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Antara dua tiupan (sangkakala) itu adalah empat puluh.” Yang menarik adalah respon Abu Hurairah terhadap pertanyaan para sahabat. Ketika mereka bertanya, “Apakah empat puluh hari?”, ia menjawab, “Aku enggan (menjelaskan).” Pertanyaan serupa diajukan untuk bulan dan tahun, dan ia tetap menjawab, “Aku enggan.”

Dialog singkat ini mengandung hikmah yang dalam. Penyebutan angka “empat puluh” tanpa disertai spesifikasi waktu (hari, bulan, atau tahun) menunjukkan bahwa hakikat lama jeda tersebut adalah urusan Ilahi (min ‘ilm al-ghaib). Tugas seorang mukmin adalah mengimani bahwa jeda itu ada, tanpa perlu memaksakan untuk mengetahui detailnya yang hanya ada di sisi Allah. Penegasan Abu Hurairah yang “enggan” menjelaskan adalah bentuk kehati-hatian ilmiah (i’tizal) dalam menyampaikan hal-hal ghaib, sekaligus mengajarkan kita untuk tunduk pada batasan pengetahuan yang telah Allah tetapkan.

Proses Penciptaan Ulang dalam Jeda yang Sunyi

Pertanyaan paling menakjubkan adalah: apa yang terjadi selama jeda itu? Apakah alam semesta hanya diam dan sunyi dalam kematiannya? Ternyata tidak. Hadits riwayat Imam Muslim memberikan gambaran yang sangat detail dan ilmiah tentang proses yang berlangsung. Setelah tiupan pertama mematikan segala sesuatu, Allah kemudian menurunkan hujan khusus dari langit. Hujan ini bukan seperti hujan duniawi, tetapi merupakan air kehidupan yang Allah perintahkan untuk menyirami bumi.

Dengan siraman hujan khusus inilah, jasad-jasad manusia yang telah hancur lebur dan terserak di dalam tanah mulai “tumbuh” kembali. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggambarkan proses ini dengan metafora yang sangat mudah dipahami, “seperti tumbuhnya sayuran.” Sebuah proses biologis yang cepat dan massif. Yang lebih menakjubkan, hadits tersebut menyebutkan bahwa dari seluruh tubuh manusia, hanya tersisa satu tulang kecil yang tidak hancur dimakan waktu dan tanah, yaitu tulang ekor (‘ajb adz-dzanab). Dari tulang inilah, bagaikan benih suatu tanaman, seluruh tubuh manusia direkonstruksi dan ditumbuhkan kembali oleh kekuasaan Allah. Proses inilah yang dalam ilmu modern dapat diasosiasikan dengan DNA, blue print atau cetakan biru setiap individu. Tulang ekor berperan sebagai “bank informasi” biologis yang darinya Allah menghidupkan kembali ciptaan-Nya. Jeda kosmik ini, dengan demikian, adalah fase persiapan aktif untuk kebangkitan, di mana Allah menyiapkan kembali “wadah” fisik setiap manusia sebelum ruhnya ditiupkan kembali pada tiupan kedua.

Sebuah Narasi yang Koheren: Dari Ayat ke Ayat

Dengan pemahaman ini, kita dapat melihat betapa koheren dan dalamnya narasi Al-Qur’an dan Hadits. Surah An-Nazi’at ayat 6-7 memberikan isyarat kuat tentang dua peristiwa berurutan. Kemudian, hadits-hadits shahih datang sebagai penjelas yang memuaskan akal dan memperkuat iman. Urutan peristiwanya menjadi jelas dan logis secara eskatologis: (1) Tiupan Pertama mematikan seluruh alam, (2) Berlangsunglah jeda waktu di mana hujan kehidupan diturunkan dan jasad manusia ditumbuhkan kembali dari tulang ekornya, (3) Tiupan Kedua mengembalikan ruh ke setiap jasad dan membangkitkan seluruh manusia untuk menghadap Penguasa Hari Pembalasan.

Kesimpulannya, jeda antara dua tiupan sangkakala adalah sebuah keyakinan yang didasarkan pada dalil-dalil yang kuat. Jeda ini bukanlah kekosongan, melainkan momen di mana kekuasaan Allah yang Maha Menciptakan untuk kedua kalinya diperlihatkan. Dari kehancuran total, Dia menyiapkan kebangkitan. Dari tulang yang dianggap remeh, Dia membangun kembali tubuh yang sempurna. Ini semua mengajarkan kita untuk senantiasa mengimani hal ghaib, mengagumi kebesaran Allah, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari di mana sangkakala itu akhirnya ditiup. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *